TABUNGAN HARI TUA (PENSIUN)

Masih ingat sekali, setiap saya tanya pada teman-teman yang ingin bekerja menjadi pegawai, motivasi mereka adalah jaminan pensiun. Ya…sekali lagi PENSIUN. Dan ada lagi, sebagai pernyataan tambahan, kalau mereka sebagai pegawai bisa santai dalam bekerjanya tapi gaji besar, tiap tahun naik, apalagi kalau berderet gelar akademiknya. Saya pun berpikir, pola pikir macam apa ini? Saya masih ingat ada anekdot pepatah “muda foya-foya, kerja tidak usah payah-payah, tua kaya raya, dan matinya masuk sorga”. Kata orang Surabaya, “Uenak tenan…”.

Pola santai ini membentuk dalam kepribadian sebagian besar masyarakat di negeri kita. Buka pola pekerja keras atau pejuang. Apakah karena pengaruh sebuah lagu “nyiur melambai di tepi pantai” atau “bukan lautan hanya kolam susu, batu dan tongkat menghidupi diriku…” (saya lupa syairnya). Pola konsumtif pun menambah aroma kehidupan anak negeri.

Kembali ke masalah pensiun, pensiun atau tabungan hari tua sebenarnya dapat diatur atau dimenej sedemikian rupa oleh seseorang sebagai pegawai atau pekerja apapun. Masih ingat cerita para orangtua dahulu (mereka memang sosok pejuang dan pekerja keras), mereka menabung untuk kepentingan masa tua mereka atau anak keturunannya dengan cara menyimpan sesuatu barang yang bernilai jual tinggi. Ada yang menyimpan emas se-gram demi se-gram, menyimpan kain batik/songket, menyimpan batangan kayu jati atau mahoni yang dibeli ke dalam kolam, menitipkan uang mereka kepada juragan sawah sebagai modal investasi keluarga, dan banyak lagi. Kalau sekarang sudah banyak lembaga penyimpanan uang alias Bank, menawarkan produk pensiun dengan harga yang terjangkau dan tinggal menambah sendiri bila sudah dapat rezeki banyak (ini bukan iklan bank). Tinggal bagaimana kita memenej nya.

Kalau harus bisa, kita ubah pepatah di atas menjadi “muda kerja keras, tua kaya raya, bermanfaat bagi orang, matinya masuk syurga”. Orang Soerabaja bilang “Iki sip…tenan”. Buatlah pensiun untuk diri sendiri!

(28 Januari 2010, GOESpRIE)

About these ads