Aku Ingin Anak Sholeh/Sholehah (1)

Ada cerita seorang ibu yang menginginkan anaknya menjadi anak sholeh, ia termotivasi setelah mengikuti sebuah ceramah acara hari besar Islam. Kemudian sang Ibu dengan kasih sayangnya berusaha selalu mengingatkan sang anak untuk selalu rajin sholat dan mengaji. Harapannya kelak ketika, ia sudah berada di alam kubur, pahala dan doa dari anaknya yang sholeh dapat terus mengalir. Setiap sore sang ibu menyuruh anaknya siap-siap untuk mandi, dan menyiapkan pakaian santri dan buku Iqro’nya. Sang anak dengan semangat mengikuti arahan sang ibu dan berangkat untuk mengaji. Sang ibu selalu mengantar anaknya ke masjid yang terdekat dan menunggu hingga selesai mengaji. Luar biasa perjuangan sang ibu ini. Ketika jam-jam sholat sang ibu pun selalu mengingatkan anaknya untuk sholat.

Suatu ketika sang anak mengalami kesulitan membaca bacaan dari buku Iqro’nya dan ia mendatang sang ibu dengan kepolosan bahasa dan kesucian hati, sambil bertanya,”Bu, ini bacaannya bagaimana, nanda lupa…”. Sang ibu ketika mendapatkan pertanyaan itu karena sibuk berbincang ria dengan tetangga di serambi rumahnya menjawab sekenanya,”Nanti ya nak, atau tanyakan saja sama ustadzahnya, yah sayang”. Sang anak mengangguk dan sibuk dengan buku Iqro’nya kembali. Beberapa saat kemudian dilihat sang ibu sudah selesai berbincang-bincang dengan para tetangganya, ia pun bertanya kembali,”Bu,… tolong nanda bu, ini bacaannya bagaimana…”. Permintaan yang kedua ini agak dibarengi sikap manjanya. Sang ibu mendengar pertanyaan anaknya pun menjawab,”Nak…ibu itu belum bisa membacanya, sudah sulit belajar…,nanti tanyakan saja sama ustadzah ya sayang…”. Sang anakpun berbalas jawab dengan bahasa yang polos,”Ibu kok tidak belajar juga, biar bisa ngajarin nanda di rumah”. Sang ibu dengan senyum menjawab,”wah nak, ibu tidak sempat…”(sekali lagi: ibu tidak sempat). Ada bentuk kekecewaan terpancar di mata sang anak, tetapi tidak bisa terungkap dalam kata-kata.

Dari kisah di atas, seberapa banyak sosok ibu atau bahkan ayah yang berbuat demikian. Bahkan lebih dari itu, ketika mereka menginginkan anak yang sholeh sholehah tetapi tidak diimbangi dengan usaha yang optimal sebagai contoh nyata di dalam rumahnya. Menyuruh anaknya mengaji tapi ia tidak berusaha mengaji, menyuruh anaknya sholat tapi ia sholatnya hanya 4 waktu atau 3 waktu, alasannya sibuk. Bahkan ketika anaknya disuruh sholat isya’, orangtuanya masih sibuk nonton acara sinetron favoritnya. Menyuruh untuk memakai jilbab, tapi sang ibu selalu membuka aurat di depan umum. Bagaimana akan mendapatkan anak yang sholeh yang nantinya akan selalu mendoakan untuknya?

Mari, kita perbaiki diri. Cita-cita mendapatkan anak sholeh sholehah bukan hanya sekedar lisan tapi usaha nyata di dalam rumah. Anak-anak butuh sosok nyata yang terdekat dengan mereka, yang menjadikan sosok tauladan terbesar dalam kehidupan mereka.

(1 Pebruari 2010, GOESpRIE)

About these ads