ADA APA DENGAN BULAN DESEMBER

Ketika seseorang di Indonesia ditanya tentang bulan Desember apa yang terpikir? Sudah pasti jawaban umumnya adalah sebagai berikut :1.Bulan ujian semester dan liburan panjang  akhir tahun (jawaban seorang pelajar atau pendidik)
2.Hari Natal (jawaban seorang Kristianis)
3.Ada hari Ibu (jawaban seseorang yang ingat akan jasa para Ibu)
4.Gede-gedene sumber alias musin hujan (jawaban seorang petani)
5.Tutup buku (jawaban seorang pegawai perbankan atau lembaga keuangan atau bagian keuangan dari lembaga pemerintahan atau swasta)
6.Tidak tahu (jawaban seorang yang tidak peduli ada apa saja di bulan Desember)
Jawaban no.1 hingga no.4 adalah biasa, jawaban no.5 ada apa dan jawaban no.6 sesuatu luar biasa, mengapa?

Jawaban no.1 hingga no.4 adalah biasa karena sebuah rutinitas dari tahun ke tahun di Indonesia.

Ujian semester dan liburan adalah agenda sekolah kecuali perguruan tinggi. Bulan ini bulan sibuk bagi pelajar, dengan belajar sungguhan menjelang ujian (memangnya di luar bulan itu tidak sungguhan?). Mereka menyiapkan materi satu semester untuk dilahap dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan menghasilkan nilai yang sebaik-baiknya. Ya selamat daripada tidak sama sekali. Kejadian ini terulang pada bula Juni (akhir tahun ajaran) dan bulan sebelumnya yaitu Mei (akhir satuan pendidikan atau ujian kelulusan). Tidak hanya bagi pelajar, bagi guru bulan-bulan penuh sport jantung. Bagaimana harus mengejar target-target pencapaian, pengolahan nilai sesuai dengan target-target pencapaian (walau terkesan dipaksakan), sehingga mereka lupa mengupgrade diri untuk memenuhi target kompetensi diri karena tergusur rutinitas aktivitas diri.

Hari Natal adalah agenda rutin bagi kaum kristianis yang mengenang sejarah agama mereka, dan mereka setiap tahun membuat moment-moment baru di tiap moment ini.

Hari Ibu adalah berawal dari memperingati kelahiran seorang pejuang wanita dari Jawa Barat yang bernama Ibu Dewi Sartika, tapi saya sedikit kritisi mengapa kok hari Ibu bukan hari Dewi atau hari Sartika sebagaimana pada tanggal 21 April sebagai hari Kartini. Usul, barangkali untuk hari Kartini diganti dengan hari Emansipasi, sebab nanti ada hari Pejuang Wanita sebagai harinya Cut Nyak Din, hari Wanita Pemberani sebagai hari Cut Mutia, dan lainnya, sehingga memotivasi para wanita Indonesia untuk terus berprestasi bersama kaum prianya….

Bulan Gede-gedenya sumber air alias puncak-puncak musim penghujan, bagi petani dulu sangat diidam-idamkan karena bisa mengisi waduk-waduk irigasi, danau-danau, sawah-sawah mereka dan mempersubur ladang-sawah-kebun mereka. Tapi kini, justru bulan Desember dan bulan sebelum serta sesudahnya membuat bingung bagi setiap beberapa pemerintahan daerah bahkan ibukota, karena dengan musim banjir airnya (kalau musim buah, rezeki sungguhan), sibuk memperbaiki dan membuat tanggul serta saluran air (wajar sudah banjir tambah banjir padahal ketika musim panas tidak diantisipasi acara tahunan ini).

Jawaban no.5 adalah bulan-bulan tutup buku bagi instansi keuangan dan lembaga pemerintahan maupun swasta.
Apa yang aneh? Ya biasa khan, tahun anggaran tutup tahun di bulan Desember dan buka kembali di bulan Januari (mungkin saya salah informasi, dan sudah ada perubahan). Tapi ada sesuatu yang terlupakan bahwa ketika tutup buku, ada  kegiatan membuat LPJ (laporan PertanggungJwaban) keuangan, bagaimana membuat daya serap anggarannya trend positip atau dalam pengertian terpakai semua sesuai rencana anggaran. Ketika daya serap anggarannya trend positip maka akan mendapat insentip anggaran sebagai reward penggunaan anggaran sesuai dengan mata anggaran, dan bisa jadi untuk mata anggaran tadi akan bisa dibuat kenaikan target anggaran. Sebaliknya bila dalam LPJ keuangan terdapat daya serap mata anggaran dengan trend negative maka tidak akan mendapat reward bahkan pada tahun anggaran yang baru bisa jadi dikurangi jatahnya, syukur tidak dihapus sebagai salah satu mata anggaran. Masih ada yang aneh? Hal ini biasa dan umum! Tetapi terkadang ada juga oknumes (bentuk jamak dari oknum) melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan dan keumuman sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure). Mereka sibuk membuat nota pembelian dan pengadaan barang fiktif, nota-nota perjalanan fiktif, penggelembungan nota-nota (catatan : masa kecil kurang bahagia, karena tidak sempat bermain gelembung sabun), mencari stempel pada toko-toko dengan nota-nota kosong lagian bodong, dan akhirnya secara berjamaah melakukan pembuatan LPJ sesuai dengan scenario tadi. Ini baru luar biasa, tidak biasa, tapi mereka anggap sudah biasa, tahu sama tahu. Bagaimana tim TIPIKOR dari Kejaksaan, KPK, Satgas Anti Korupsi sudahkah menyentuh hal-hal demikian? Wajar akhir tahun, banyak pejabat yang plesiran dan berstatus sebagai turis/wisatawan dengan menggunakan dana RAKYAT !!! (maaf, semoga dugaan saya tidak benar dan sudah banyak perubahan).

Jawaban no.6, tidak tahu.
Ini baru luar biasa. Mengapa? Karena setiap tahun mereka lalui seolah tidak ada perubahan pada dirinya, lingkungannya, pemerintahannya, negerinya. Bagi mereka yang terpenting rutinitas mereka tetap jalan yaitu mencari nafkah, dan berpikir hari ini bisa makan apa. Beda untuk golongan lain yang terkadang berpikir, kemarin makan dia, hari ini makan apa, besok makan dimana, dan lusa makan siapa…. Mereka berkutat pada kesahajaan dan keterbatasan, sementara golongan lain (kalau buat partai bernama GOLIN) saya menjabat apa, kendaraan apa, gaji berapa dan tunjangan apa saja, bisa apa saja, perlindungan dalam bentuk apa saja….
Kelompok dengan jawaban tidak tahu ini, ada yang tidak mau berubah (bersikap skeptis) dan ada pula yang mau berubah. Terkadang ditemui kelompok yang mau berubah memiliki peran yang luar biasa bagi lingkungannya bahkan perubahan negeri tanpa tersentuh publisitas media, bersyukurlah, Anda terjaga Keikhlasannya. Gaji Anda di Akhirat lebih besar dari yang Anda bayangkan, fasilitas yang didapat lebih dari yang Anda kirakan, Jaminan dan Perlindungan yang diberi lebih dari apa yang terlintas dalam pikiran, bahkan semuanya lebih dari lebih. Perubahan-perubahan yang mereka buat seperti bom-bom yang menghancurkan kebiasaan yang telah ada, kebiasaan yang umumnya, kebenaran berdasarkan umumnya, dan kekuasaan menurut apa adanya. Toh, banyak hal luar biasa terjadi karena perubahan biasa yang luar biasa, dan menimbulkan asa-asa tanpa berputus asa.

Semoga juga untuk kelompok dengan jawaban tidak tahu, tapi ada semangat perubahan bisa mewarnai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, walaupun SEMENTARA ANDA tidak termasuk orang yang diperhitungkan.

(GoesPrie, 9 – 12 – 11)

About these ads