Nasehat untuk Para Suami

Suatu hari, kumpul-kumpul dengan rekan sejawat di kantor bincang-bincang tentang keluarga, ada pertanyaan unik dari seorang rekan berkenaan dengan hubungan antar suami istri, yaitu sebarapa banyak kata-kata “cinta” diucapkan kepada sang Istri dalam satu hari? Seberapa banyak kata “maaf” yang dilontarkan ketika setiap kesalahan yang dilakukan terhadap istri atau ketika menyinggung perasaan seorang istri. Wah…pertanyaan yang sangat sederhana yang membuat kening berkernyit.

Dan ada sebuah cerita sungguhan ketika masih di Jogja, ada seorang istri seorang dai ketika itu mencoba membuat tampilan beda dihadapan suami, barangkali jelas tujuannya menyenangkan sang Suami. Tampilan beda itu hanya sederhana, yaitu mengepang rambut dengan pita warna yang cerah ketika di rumah (catatan : bagi seorang muslimah menutup aurat wajib dimana saja, tapi untuk di rumah dan tanpa ada orang lain selain mahramnya dibolehkan membuka jilbab). Sang Istri berharap sang Suami memberikan paling tidak perhatian atas penampilan beda tersebut, ya…maksimal memuji dengan pujian yang menambah berat badanlah. Tetapi apa daya, bagaikan punguk merindukan bulan, sang Suami ternyata cuek angsa… (kacian deh).  Dengan berurai keringat (bahasa Sinetron), lemah lunglai, sang Istri melepas untaian pita cintanya, dan berkata ya…sudahlah, suamiku ternyata suka yang biasa-biasa saja…ja…ja…ja….

Ungkapan rasa cinta kepada sang Istri ternyata tidak hanya dengan perlakuan, atau tindakan semata tetapi seorang istri perlu energy yang luar biasa dari bahasa lisan yang terucap dari seorang Suami belahan jiwanya. Sederhana kok, “Sayang, aku semakin cinta padamu”, atau “sayang, kau tampak cantik sekali hari ini” (ternyata hari itu sang Istri sedang mengingatkan sang Suami tentang hari pernikahannya…). Kutanyakan pada istriku, berkenaan hal ini, jawabannya, ya memang…. Seorang istri merasa terbang ke angkasa langit ketujuh, ketika pujian dalam bentuk kata sayang  diucapkan oleh sang Suami (ingat, tidak hanya bentuk belaian semata…).

Begitu juga dengan kata “maaf” ketika sang Suami melakukan “barangkali” sesuatu yang membuatnya tidak nyaman akibat perbuatan atau perlakuan sang Suami. Ini bukan berarti menyepelekan peran sang Suami dan mensuperiorkan peran Istri, tidak.  Justru ini bisa jadi resep cinta dalam keluarga. Ibaratnya ini adalah tombolnya cinta dalam keluarga. Kita paham bersama bahwa ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, yaitu laki-laki terlalu berasio, sementara perempuan terlalu berperasaan. Makanya bila Istri ngambek pasti bilang, “Dasar suami dak tahu perasaan” atau “Dasar dak punya perasaan”. Sementara bila Suami marah pasti bilang, “Dasar istri dak punya pikiran” atau “Apa tidak mikir”…. Kalau kata-kata ini sudah keluar, pasti Jaka Sembung alias kagak Nyambung, satu ke Utara yang lain ke Selatan. Konflik tanpa gencatan senjata yang terjadi. Memang perlu keseimbangan sang Istri harus memahami pikiran Suami dan Suami harus memahami perasaan Istri. Kata “maaf” ini sebagai jembatan pikiran dan perasaan yang terpisah, sehingga jadi Taman Ancol alias Nyaman sudah Nyantol.

Kata “cinta” dan “maaf” tidak hanya menjadi kata-kata umum bagi orang yang dimabuk cinta atau dilanda cinta ketika cinta monyet dan gorilla menlanda bagi remaja-remaji, tetapi kata-kata ini justru kata wajib bagi suami-istri untuk kelanggengan cintanya. Ada cerita dari seorang Kiai, ketika masa mabuk cintanya monyet, kata “cinta”, “sayang” dan “maaf” berhamburan,  tetapi ketika sudah berkeluarga kata “DASAR” sering keluar terlontar tanpa pikiran dan perasaan. Ada nasehat dari seorang Shahabat Rasulullah SAW, yaitu Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib untuk suami-istri, yaitu hindari 2 C dan lakukan 1 C untuk menjaga kelanggengan keluarga,  jangan mudah Cemburu karena membawa keperCeraian, jangan mudah menCela karena membawa perCekcokan, dan seringlah berCelak (berhias atau berdandan atau berpenampilan yang membuat pujian, di depan suami/istri) karena membawa suasana penuh Cinta. Perlu keterbukaan, hiasaan kata-kata cinta dan maaf sering diuntaikan, dan sambutlah belaian cinta dari Ar Rahman dan Ar Rahim melalui tali pernikahan/berkeluarga/suami-istri. Dan selamat berhitung-hitung kata “Cinta”, “Sayang” dan “Maaf” dalam berumah tangga.

(gOEsPriE, 15 – 12 – 11)

About these ads