PELICIN

Pelicin dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan kata dasar ‘licin’ dengan imbuhan awalan ‘pe’. Licin merupakan bentuk kata sifat yang diartikan dengan sesuatu yang melancarkan sesuatu lain yang melalui sebuah permukaan, bisa disebabkan oleh cairan, gas atau bahkan benda padat. Atau sesuatu yang tidak kasar, halus. Sesuatu yang membuat licin ini yang disebut pelicin. Manfaat dari pelicin ini banyak baik bagi tubuh, peralatan mekanis atau suatu pekerjaan atau yang berhubungan dengan pekerjaan. Semua pelicin pasti disukai semua orang kecuali satu macam jenis pelicin.

Contoh yang berhubungan dengan pelicin :

1.Kendaraan hovercraft yang membutuhkan semburan udara sebagai media pelicin antara hovercraft dengan media jalan atau air sebagai tempat berlalunya hovercraft. Tanpa pelicin udara maka dijamin kendaraan hovercraft akan mengalami kesulitan untuk bergerak.

2.Peralatan mekanis, membutuhkan minyak pelicin yang sering disebut dengan lubricant oil agar gesekan antar mekanis yang terdiri dari logam dapat lancar. Bayangkan bila kendaraan anda tidak diberi oli atau lubricant oil, dijamin pula kendaraan anda hancur dengan diawali kerusakan komponennya.

3.Ketika anda makan makanan yang tidak melibatkan kuah seperti roti kering, bakpao, nasi goring dan lain-lain (wau enaknye…), maka anda akan mengalami kesulitan menelan atau akan merasakan gejala kesedakan karena makanan yang ditelan mengalami kesulitan melalui saluran kerongkongan yang sudah memiliki mekanis peristaltic. Anda akan berusaha memasukan seteguk atau dua teguk air putih untuk melancarkan makanan memasuki wilayah lambung. Nah, air inilah sebagai pelicin makanan mulai dari kerongkongan hingga lambung.

4.Bahkan bila seseorang yang mengalami kesulitan buang air besar,  juga dibutuhkan pelicin sejenis obat pencahar agar limbah hasil perut bisa keluar. Kalau tidak dikeluarkan maka akan mendatangkan masalah besar bagi tubuh manusia, mulai dari pusing-pusing hingga pingsan-pingsan.

Contoh pelicin yang digunakan di atas merupakan bentuk pelicin yang disukai, disenangi, pelicin wajib, dan sudah seharusnya ada dan dipakai. Tetapi di antara pelicin di atas, ada jenis pelicin lain yang membuat orang kesal, sementara pada saat yang bersamaan justru dicari orang  yang sedang mengambil kesempatan. Ya, mengambil kesempatan ketika kesempatan tersebut sudah diatur mekanismenya. Sebagai contoh, masalah antrean, masalah mencari kerja, masalah dalam hukum dan banyak lagi.

Masalah antrean, kesempatan setiap orang sudah diatur dengan mekanisme siapa yang dahulu datang dialah yang mendapatkan kesempatan awal untuk mendapatkan penyelesaian sebuah proses. Atau sudah diatur dengan system nomor antrean. Tetapi banyak juga orang yang ingin diistimewakan atau dikhususkan pelayanannya. Maka ia melakukan sesuatu sebagai ‘pelicin’ untuk mendapatkan keistimewaan tersebut, yaitu berupa keterdekatan, pertemanan, perkeluargaan, jabatan, bahkan dengan menggunakan uang! Luar biasa. Ada cerita sedikit ketika mengurus sesuatu di kantor imigrasi, kebetulan kita sudah memasukkan berkas beberapa hari yang lalu, dan tinggal menunggu panggilan untuk foto. Sambil duduk-duduk, berbincang-bancinglah kami dengan peserta lain yang kebetulan menunggu giliran foto atau wawancara. Dari hasil perbincangan beberapa orang, ternyata harga masing-masing untuk mengurus surat yang sama dengan variasi harga yang fantastis. Ironis dengan tulisan di pagar luar ‘jangan menggunakan jasa calo’ ternyata calonya justru bergentayangan di dalam kantor (oknumers=jamak dari oknum).

Masalah mencari pekerjaan dan masalah hukumpun demikian, hampir sama dengan masalah antrean. Dengan menggunakan sesuatu yang dapat dijadikan pelicin yang bentuknya bukan cair atau gas melainkan padat dan terkadang bernafas serta  bisa makan. Pelicin-pelicin inilah yang sering bermasalah dan membuat orang lain kesal, bahkan menginjak-injak nilai kemanusiaan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa budaya pelicin ini menjadi budaya, atau dibudayakan, atau terbudayakan?. Kalau contoh sebelumnya, pelicin-pelicin yang istimewa dan memiliki keistimewaan sesuai dengan spesifikasi masing-masing untuk digunakan, justru pelicin golongan terakhir ini dipakai agar sang pemakai diistimewakan seistimewa-istimewanya tanpa melihat aturan yang telah ditetapkan atau perasaan orang lain yang dikorbankan. Bahasa kasar lain untuk diistilahkan pada jenis pelicin ini adalah ‘sogokan’ atau ‘suap’. Bila dilakukan memang sang pemakai merasa diistimewakan tetapi hasilnya menghilang makna dan nilai ruh dari yang didapat. Inilah namanya hilangnya suatu keberkahan dari sesuatu. Dalam ajaran Islam bahwa penyuap dan yang disuap adalah sama kedudukannya, tidak memiliki nilai akhirat yang akan menyelamatkan dirinya dari pengadilan Sang Maha Penguasa Alam Semesta, Sang Hakim Yang Maha Adil. Wallahu a’lam bis shawwab.

(GoesPrie, 29 – 12 – 11)

About these ads