TRADISI dalam MASYARAKAT ISLAM

Tradisi  (bahasa Latin : traditio, artinya diteruskan) menurut artian bahasa adalah sesuatu kebiasaan yang berkembang di masyarakat baik, yang menjadi adat kebiasaan, atau yang diasimilasikan dengan ritual adat atau agama. Atau dalam pengertian yang lain, sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Biasanya tradisi ini berlaku secara turun temurun baik melalui informasi lisan berupa cerita, atau informasi tulisan berupa kitab-kitab kuno atau juga yang terdapat pada catatan prasasti-prasasti. Saya mencoba membuat tulisan ini untuk mencoba memberikan gambaran perbedaan antara sebuah ajaran sesuai dengan tuntunan dengan sebuah tradisi yang melalui asimilasi budaya dengan ajaran agama tertentu.

Tradisi-tradisi ini biasanya dihubungkan antara suatu kegiatan manusia dengan aktivitas alam sekitar, antar manusia, manusia dengan sang penguasa (bentuk umum). Memang secara naluriah, manusia mengakui akan adanya sebuah penguasaan ‘sesuatu’ terhadap ‘sesuatu’ agar ‘sesuatu’ tersebut tidak mengganggu aktivitas manusia dalam kehidupan. (Kalau dalam Islam adalah Fitrah ketuhanan yang sudah ada terpatri sejak zaman azali, sebagaimana saat manusia masih di alam ruh yang diminta kesaksian akan keberadaan Sang Penciptanya, Qur’an Surah Al A’raf [7] ayat 172).

Sebagai contoh tradisi yang dihubungkan antara kegiatan manusia dengan aktivitas alam, seperti tradisi sesaji untuk gunung, untuk laut, untuk hujan dan sebagainya agar supaya aktivitas alam tersebut ‘tidak mengganggu’ aktivitas manusia. Mereka menganggap ada ruh penguasa bagian alam tersebut yang menguasai dan mengatur aktivitas mereka. Maka mereka melakukan sebuah ritual berdasarkan tradisi-tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun dan ‘wajib’ dilaksanakan, tanpa ada alasan apapun untuk menolak (khawatir kualat = mendapat hukuman). Mereka melakukan ritual-ritual yang terkadang tidak logis, dan terkesan dipaksakan (maaf, bukan berdasarkan suka atau tidak suka).

Adapula tradisi yang dihubungkan antara kegiatan manusia dengan aktivitas alam agar supaya aktivitas alam tersebut ‘mendatangkan keuntungan’ bagi kehidupan manusia. Agar supaya panen dengan panenan yang baik, tangkapan ikan yang baik, hasil toko yang baik, rumah yang selalu mendatangkan rejeki yang baik, dan sebagainya. Bahasa simbol yang ada sebenarnya adalah bahasa simbol rasa syukur yang disimbolkan dengan ritual tertentu sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap Sang Pemberi Rejeki.

Selain itu di atas, ada tradisi yang berhubungan antar manusia, seperti hubungan dengan pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian, kegembiraan mendapatkan sesuatu. Banyaknya bahasa simbol yang dilibatkan. Memang manusia sangat menyukai bahasa simbol dan proses interaksi antar manusiapun melalui bahasa simbol. Aksara yang dipakai tiap Negara berbeda-beda berawal dari simbol-simbol. Simbol-simbol ini memiliki arti tersendiri di tiap ritual tradisi-tradisi. Dan manusia ternyata terkadang peka terhadap bahasa simbol, walaupun pada saat kekinian bahasa simbol ini tidak lagi diperhatikan dan hanya syarat terlaksananya ritual berdasarkan tradisi tadi. Sebagai contoh di budaya tradisi kelahiran, ada tradisi agama yang diasimilasikan dengan budaya tradisi. Dalam ajaran Islam ada tradisi Aqiqah, kemudian diasimilasi dengan budaya tradisi berupa acara cukuran dengan semangkuk kembang setaman, ada pembagian bendera yang terselip uang dan dengan tangkai yang tertancap di kelapa muda. Semangkuk kembang setaman memiliki arti sang anak diharapkan kesiapannya untuk mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni atau keheterogenan yang dibatasi umur (disimbolkan mangkuk), bendera menyimbolkan semangat kehidupan, uang menyimbolkan berbagi, dan kelapa muda menyimbolkan salah satu manfaat bagi kehidupan dan bermasyarakat sehingga mendatangkan manfaat luas bagi kehidupannya. Wallahu a’lam, arti dan awal dari tradisi ini.

Tradisi perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, ada tradisi antar-antaran ketupat, yang menurut budaya Jawa ketupat berarti Kupat, Ngaku Lepat, mengakui kesalahan, atau ada juga berarti Laku Papat yaitu puasa, zakat, shalat ‘id dan silaturahim. Ada penyambutan tamu pada perayaan-perayaan dengan gapura (ghafuroo) janur kelapa, yang memiliki arti ampunan dan memperbaiki perilaku agar bermanfaat bagi orang lain.

Kemudian ada tradisi kematian dengan memperingati mulai dari tiga hari, nujuh hari, empat puluh hari, setahun, dua tahun dan terakhir nyribu hari (nyewu dina). Dalam tradisi Islam memang tidak ada tradisi memperingati kematian, tradisi ini merupakan tradisi budaya Hindu, yang kemudian diasimilasikan dengan budaya Islam dan diwarnai dengan tradisi relijius keislaman. Dalam budaya kejawen (maaf, kebetulan saya bertanya kepada salah seorang kejawen murni), bahwa manusia itu memiliki saudara kembar ketika lahir (perewangan). Saat meninggal saudara kembar ini tetap hidup dan sering menyertai dan mendatangi keluarganya. Agar tidak mengganggu maka keluarga almarhum mengadakan acara sebagaimana hari-hari yang ditentukan tadi dengan memberikan sesuatu sesaji tertentu menurut kesukaan dari almarhum.

Uraian di atas tadi merupakan sebagian dari bentuk-bentuk tradisi yang ada dimasyarakat yang menurut mereka berasal dari turun-temurun dari para orangtua mereka dan disampaikan secara lisan berupa cerita dan bukan secara tulisan yang terkodifikasi. Maka tiap tradisi sering dan terus bermodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman atau sesuai dengan selera dari masyarakat yang ada, contoh budaya peringatan kematian tiga hari dan tujuh hari pada perkembangannya sekarang sering gabung dengan istilah tiga sekaligus nujuh hari. Budaya pernikahan ada akad dan walimahan, maka sebelum nikah ada acara pingitan atau siraman, sesudah aka dada acara lempar pantun atau cacap-cacapan (budaya Palembang), diwalimahan ada orgen tunggalan.

Sebagai perbandingan dalam Islam, bahwa ritual tradisi ibadah dalam Islam sudah terkodifikasi tanpa modifikasi, secara sederhana dan tanpa dipaksakan. Tradisi ibadah ini yang terkodifikasi tanpa modifikasi ini termasuk ibadah wajib (makhdhoh) dan ibadah sunnah muakadah. Terkadang pada sunah muakadah seperti aqiqah, khitan, akad nikah dan walimah ada kesan ada tambahan dalamm pelaksanaannya. Selama tidak bertentangan dengan ajaran tidak bermasalah. Acara tasyakur (di Indonesia : Syukuran), dalam Islam secara sederhana dalam bentuk berhamdalah, berbagi melalui tasyakuran dengan tidak berlebih-lebihan (berfoya-foya, kegiatan mubadzir), dan meningkatkan aktivitas beribadah (berupa shalat dan berkurban : QS Al Kautsar [108] ayat 1-2). Ritual kematian, sebagai kewajiban kifayah yaitu selesai setelah prosesi penguburan jenazah, tinggal ahli waris melakukan amanah sebagai anak sholeh yang selalu mendoakan bagi almarhum/ah dan beramal sholeh setiap saat yang tidak ditentukan dengan waktu-waktu tertentu. Bagi umat Islam, menurut ajaran Islam bahwa untuk selalu berhati-hati dalam melakukan ritual yang dianggap ibadah karena tuntutan tradisi, karena dikhawatirkan amalnya akan tertolak dan mendatangkan kerugian jangka panjang hingga di hari Perhitungan kelak. Dan banyak ritual tradisi yang menurut kebanyakan umum belum tentu sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, karena hanya berdasarkan warisan dari orangtua-orangtua mereka secara lisan tanpa terkodifikasi dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Wallahu a’lam bis shawwab.

(GoesPrie, 29 – 12 – 11)

About these ads