PRASANGKA

Semua pasti pernah berprasangka, baik itu prasangka baik terhadap sesuatu atau seseorang maupun berprasangka buruk. Berprasangka muncul karena ketidaktahuan informasi tentang sesuatu itu atau seseorang, atau kekurang lengkapan dari informasi yang ditangkap. Bayangkan, sebagai umpama A berprasangka terhadap B berkenaan rizki yang didapat, “ah…si B pasti pakai ajimat kalau berjualan, jelas untung terus…”. Kemudian si B mendengar dan menanggapi prasangka si A, “ah, si A kan hanya menebak-nebak saja…, ia khan hanya iri mengapa saya untung terus…”. Kasus ini, prasangka dilawan dengan prasangka. Mungkin si A benar dan mungkin juga salah. Benar, karena pemahaman si A bisa jadi menganggap orang yang untung pakai ajimat penglaris, masalah pemahaman. Salah, karena si A tidak mengenal baik si B. Sementara si B, berprasangka menganggap si A hanya iri atas apa yang ia dapatkan.

Prasangka berhubungan erat dengan informasi, saksi dan kesaksian. Kalau prasangka baik tidaklah menjadi masalah, bisa jadi prasangka baik tersebut menjadi sebuah doa bagi yang diprasangkai, tetapi menjadi sebuah masalah besar bila prasangka tersebut adalah prasangka buruk. Prasangka buruk, bila benar menjadi sebuah pergunjingan, dan bila salah menjadi sebuah fitnah. Dalam aturan manapun, baik aturan agama maupun masyarakat, namanya pergunjingan dan fitnah merupakan dosa, baik dosa dalam pengertian agama maupun dosa dalam pengertian hukum dalam masyarakat. Dalam masyarakat bila seseorang sudah terindikasikan dengan ‘gunjing’ dan ‘fitnah’ maka seseorang tersebut sudah dicap sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, apapun informasi yang keluar darinya. Sedangkan dalam aturan agama apapun, terkhusus dalam Islam, ‘gunjing’ dan ‘fitnah’ dikategorikan perbuatan dosa yang bisa mengurangi pahala bagi yang melakukannya. Rasulullah saw, mengumpamakan dengan ‘gunjing’ adalah bagaikan memakan daging bangkai saudaranya sendiri, dan perkara ‘fitnah’ bagaikan sebuah bentuk perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan.

‘Gunjing’ dan ‘fitnah’ selalu berkolerasi dengan prasangka buruk, akibat tidak adanya informasi yang lengkap dan memadai, saksi yang jujur, dan persaksian yang membenarkan perbuatan buruk yang disangkakan itu. Dalam Al Qur’an disebutkan dalam QS.Al Hujurat (49) ayat 19 yang terjemahannya : ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Solusi terhadap prasangka-prasangka :

  1. Mengklarifikasi berita atau informasi yang didapat (Tabayyun), sebagaimana dalam QS.Al Hujurat (49) ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
  2. Mencari saksi kebenaran sumber berita yang dapat dipercaya tetapi bukan memata-matai (Tajasus), QS.An Nur (24) ayat 13, “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta”.
  3. Menyangkal kebenaran berita yang menyebabkan ‘pergunjingan’ atau ‘fitnah’ hingga ada informasi yang valid (shahih) dan saksi lebih dari satu orang (mutawatir), sebagaimana etika yang di ajarkan dalam QS.An Nur (24) ayat 16, “Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”.
  4. Berpaling dari hal demikian bilamana kebenaran dari berita tersebut untuk menghindari ‘pergunjingan’ , sebagaimana etika yang disampaikan pada QS.Al Maidah (5) ayat 42, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.

Ada dikisahkan seorang Salafus shaleh ketika mendapatkan berita negatif tentang shahabatnya, maka ia berusaha untuk mencari seratus alasan agar terhindar dari berprasangka berkenaan kabar negatif tersebut hingga ia bertemu langsung dengan shahabatnya yang menjadi sumber berita tadi. Budaya klarifikasi (tabayyun) inilah jarang dilakukan, sehingga kebenaran berita didapat. Lebih baik berprasangkalah dengan prasangka baik, semoga dengan itu bisa jadi merupakan doa kita terhadap shahabat kita. Wallahu a’lam bis Shawwab.

(GoesPrie, 12 – 4 – 12).

About these ads