Kekuatan Kalimat “Subhanallah

Pasti semua sudah mengetahui arti dari kata “Subhanallah”, yaitu “Maha Suci Allah”. Suatu kata yang memiliki makna bagaimana Allah disucikan dari segala sesuatu yang menduakan keberadaan-Nya, disucikan dari perbuatan sebagaimana yang dimiliki oleh para makhluk ciptaan-Nya, disucikan dari segala sesuatu yang menyatakan bahwa ada yang lain yang dapat melakukan sesuatu sebagaimana yang Ia lakukan, disucikan dari campur tangan makhluk akan keagungan diri-Nya, bahkan bagaimana sikap kita saat melihat jejak-jejak ciptaan-Nya di alam semesta ini, atau bentuk pengakuan seorang hamba terhadap kelemahan dan ketidakberdayaan diri, atau menggerakkan sesuatu yang ada di alam semesta ini melalui IlmuNya.

Bobot nilai dari kalimat “Subhanallah” membuat berat timbangan walaupun sebagai bacaan yang ringan dan sangat mudah mengucapkannya. Kalimat ini merupakan kalimat yang disukai oleh Ar Rahman Al Jalal, yang dapat menghapuskan dosa dan tidak menolak permintaan seorang hamba yang diajukan kepada-Nya. Efek secara psikologis, dapat menghilangkan rasa gelisah dan ketakutan.

Subhanallah” menggerakkan sesuatu yang ada di alam semesta melalui Ilmu-Nya
Dalam QS.Al Isra (17) ayat 1 dijelaskan bahwa dengan Maha Suci Allah, Allah menggerakkan seorang hamba melalui kuasa-Nya melakukan sebuah perjalanan luar biasa yang melampaui batas akal manusia. Pertama, perjalanan isra’ dari Masjidil Haram di Makkah Mukarramah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dan kedua, perjalanan mi’raj dari bumi ke langit tertinggi dan terus menembus hingga suatu tempat di sisi Allah yaitu Sidhratul Muntaha. Beliau dinaikan oleh Allah dengan menggunakan kendaraan yang bernama ‘Buraq’ (BuraqAl Barq – Kilatan Cahaya) atau kendaraan cahaya dengan kekuatan dari Allah, sehingga dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya normal (dalam dunia ilmu pengetahuan modern, ada istilah Tachyons : baca di artikelnya).

Semua yang ada di alam semesta ini, galaksi, bintang, planet-planet bahkan segala kehidupan yang ada di dalamnya bergerak, tumbuh dan hidup dengan kekuatan kalimat Subhanallah. Dalam pengertian bahwa tidak ada yang menggerakkan, yang menumbuhkan, dan yang menghidupkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini selain dari Allah SwT, Tuhan Yang Maha Mencipta segala sesuatu di alam ini. Kalaupun ada yang lain melakukan hal tersebut, dijamin alam semesta ini tidak akan ada keseimbangan, keharmonisan, keindahan di dalamnya. Maka Maha Suci Allah dari para sekutu-sekutu yang dituduhkan untuk apa yang dilakukan-Nya.

Subhanallah” bentuk pengakuan hamba kepada Rabbul Jalal
Ketika keindahan, keharmonisan, keseimbangan, keanekaragaman apa yang ada di alam semesta ini, seperti indahnya hiasan bintang gemintang di langit, semerbak wangi dari keanekaragaman bunga-bunga, indahnya warna-warni aneka tumbuhan yang tumbuh dan aneka hewan yang ada, keseimbangan kehidupan melalui jaring-jaring dan rantai makanan, keharmonisan bersandingnya antar makhluk, nampak dipandangan mata manusia, terdengar oleh telinga manusia, terucap kalimat “Subhanallah…”. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang cacat, tidak ada yang sumbang, dan tidak ada yang tidak seimbang. Sekiranya telinga ini dapat mendengar bahwa makhluk hidup yang lain sedang bertasbih, akan semakin syahdu irama tasbih tersebut. Layaknya tasbih para Malaikat yang ada di langit dan di bumi, seraya memuji dan memuja Sang Pencipta. Layaknya nyanyian penghuni Syurga berupa bacaan tasbih sebagai bentuk syukur atas kenikmatan syurga yang didapat.

Allah-pun menantang manusia untuk melihat ciptaan-Nya apakah ada yang cacat secara berulang-ulang, dan Ia sendiri menjelaskan pasti mata manusia akan mendapatkan kepayahan mencari celah cacat tersebut. Sebagaimana yang dimaktubkan dalam QS. Al Mulk (67) ayat 1 – 4 yang artinya, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup (kematian dan kehidupan), supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”.

Subhanallah” Mensucikan Allah dari segala sesuatu yang menyekutukan-Nya
Pernahkah terbayang bila sebuah negeri dipimpin oleh dua orang raja yang memiliki kekuasaan? Dijamin negeri tersebut akan dalam keadaan bahaya, karena masing-masing raja menginginkan akan keeksistensian dirinya masing-masing. Ia ingin istana, ia ingin rakyat, ia ingin harta, dan ia ingin wilayah sendiri-sendiri. Akan terjadi perseteruan antara dua raja yang berkuasa di satu negeri, mereka akan saling mengalahkan, dan akan saling menyisihkan satu yang lainnya. Dan akibatnya negeri tersebut tidak akan pernah aman, dan rakyatnya akan jadi sengsara.

Bayangkan bila hal ini terjadi pada Allah SwT, bagaimana bila ada tuhan lainnya selain Allah SwT. Dipastikan alam semesta ini akan terjadi guncangan yang sangat hebat. Allah, Maha Suci dari hal demikian, tetapi manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya mengada-ada akan hal demikian. Dalam QS. Al Anbiya (21) ayat 21 – 22, “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.

Mereka mencari tuhan tandingan lain selain Allah SwT, atau mencari sekutu lain sebagai teman Allah SwT, atau mencari perantara lain dalam mengatur alam semesta ini. Naudzubillahi min dzalika. Allah pun menjelaskan klarifikasi-Nya di dalam kitab-Nya, sebagaimana dalam QS. Al An’am ayat 100,”Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu”. Atau dalam QS. Al Anbiya (21) ayat 26 – 27 ,”Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak (yaitu para Malaikat)”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya”. Atau dalam QS. Al Mukminun (23) ayat 91, “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”. Dan atau dalam QS. Yunus (10) ayat 68, “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”.

Dan manusiapun mencari sesuatu yang diakui sebagai penjelmaan atau bahkan keturunan dari-Nya. Ketahuilah bahwa alam semesta ini menjadi berguncang hebat mendengar hal demikian, sebagaimana dalam QS. Maryam (19) ayat 88 – 92 yang artinya, “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu (ahli kitab) telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.

Manusiapun mengalihkan tuduhan tersebut kepada utusan Allah yang suci dunia akhirat. Ketahuilah ketika Allah SwT meminta klarifikasi kepada utusan-Nya tersebut, justru utusan tersebut gemetar mendengar pengklarifikasian dari Allah SwT. QS. Al Maidah (5) ayat 116 – 117, “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab (sambil bergemetar keras): “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya hal demikian). Jika aku pernah mengatakan (hal demikian) maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.

SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI … SUBHANALLAHAL ‘ADHIM …
Semoga kita terpelihara dari hal-hal yang merusak keyakinan dan amal.

(GoesPrie, 16 – 5 – 12)

 

 

About these ads