Manusia Berperilaku Hewan, menurut Bahasa Al Qur’an

Dalam sebuah istilah bahwa manusia adalah Homo homini lupus (Manusia adalah serigala bagi yang lainnya) dan Homo homini socio (Manusia adalah teman bagi yang lainnya). Dua istilah ini adalah menggambarkan sosok manusia hubungannya dengan manusia lainnya, dipandang dari ilmu sosial yang dikemukakan oleh Plautus tahun 945 di negeri filsafat Yunani. Istilah pertama adalah gambaran bagaimana manusia merupakan makhluk sosial dan butuh interaksi sosial serta hidup secara komunal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan istilah kedua adalah istilah dimana manusia, ketika menemukan manusia lain yang berlawanan terhadap pola pikir dan kesepakatan komunal atau kesewajaran hubungan komunal maka dianggap musuh yang harus disingkirkan, dengan cara-cara yang terkadang melebihi apa yang terpikir secara manusia. Lupus merupakan nama hewan dalam bahasa Yunani yang berarti Serigala, yang digambarkan sebuah kelicikan dalam berinteraksi komunal, mengambil kesempatan dalam kesempitan, menyerang lawan atau buruannya dengan cara keji atau dengan cara dikeroyok, menyingkirkan saingan dalam perburuan dengan cara kamuflase atau penjebakan.

Perilaku manusia dalam gambaran ilmu sosial ini yang menempatkan lawannya (politik, komunal atau kamunitas lainnya) sebagaimana halnya perilaku serigala, disebut dengan perilaku serigala dengan segala intriknya. Ini adalah bentuk penghukuman istilah bagi manusia yang berperilaku seperti hewan dengan istilah manusia merupakan serigala bagi yang lainnya.

Dalam terminologi Islam, banyak istilah perumpamaan lain yang diperuntukkan untuk manusia yang berperilaku menyimpang jauh dari tatanan agama (Islam) dan sosial. Kalau dalam pergaulan, penulis yakin 100 persen, bila Anda memiliki masalah dengan orang lain dan kemudian Anda mengumpat dengan umpatan nama-nama penghuni kandang di kebun binatang pada orang yang bermasalah dengan Anda, pasti akan menimbulkan konflik lanjutan yang tak kalah hebat dari konflik sebelumnya. Tetapi, sangat diherankan, ketika Al Qur’an menegur manusia dengan disamakan perilaku hewan akibat menyalahi aturan agama (Islam) atau tatanan sosial, justru manusia tidak merasa, bahwa teguran itu bukan untuk dirinya. Kalau bahasa Al Qur’an dalam QS.Al Baqarah ayat 6 menjelaskan bahwa kelompok tersebut yaitu orang yang ingkar akan Allah, diberi maupun tidak diberi peringatan, sama saja bagi mereka. Apa saja bahasa Al Qur’an untuk menegur manusia dengan mensejajarkan dengan perilaku hewan bahkan lebih dari itu, berikut contoh-contohnya:

1.Manusia seperti Hewan bahkan Lebih buruk lagi
Dalam QS Al A’raf 7 : 179, Allah menjelaskan :
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah penggunaan dua fungsi indera yaitu mata dan telinga, serta fungsi hati (Qalbun) dan pada ayat lain disebutkan fungsi akal. Pada hewan semua fungsi tersebut (mata, telinga dan otak) hanya digunakan untuk kepentingan perut dan organ (satu kilan) di bawah  perut, sementara pada manusia seharusnya lebih dari itu yaitu untuk kepentingan isi dalam dada (hati) ke atas sehingga memiliki daya guna secara kemanusiaan. Nah ketika fungsi instrumen pada manusia tersebut tidak digunakan maka wajarlah, dalam bahasa Al Qur’an, manusia disamakan dengan hewan ternak bahkan lebih dari itu buruknya (melebihi dari perilaku hewan). Lihatlah ketika hewan memikirkan makanan yang masuk ke perutnya, mereka tidak terpikir untuk makan barang lain selain makanan yang harus dimakannya. Berbeda dengan manusia, apa saja bisa dimakan. Ada istilah “hari ini makan apa, hari esok makan dimana, lusa saya makan siapa” Ketika hewan memikirkan untuk berkembang biak sesuai dengan insting hewaninya (mengawini pasangannya kapan dan dimana saja tanpa malu-malu), manusia justru mengumbar nafsu hewani dengan melakukan perbuatan tercela dan menyimpang dalam hal syahwat birahi, alasan mereka hak azazi manusia. Kalau boleh kata itu adalah hak azazi hewani yang ditelingkung manusia. Wajar Allah pernah memusnahkan negeri Sodom dan Gomora, dan beberapa negeri lainnya dengan bencana akibat pengumbaran syahwat birahi seperti dengan penyakit yang berhubungan dengan bagian (satu kilan) di bawah perut. Hal demikian agar manusia melihat sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda-tanda) kausalitas sebuah pelanggaran yang melanggar aturan Allah sebagai sang Pencipta dan sekaligus Pengatur melalui hukum-hukumnya.

2.Manusia seperti Keledai
Allah menjelaskan dalam QS Al Jumuah 62 : 5 yang artinya :
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Keledai dalam bahasa Inggris disebut donkey dan panggilan mereka untuk yang jantan dengan sebutan Jack dan betinanya Jenny atau Jennet. Istilah keledai yang ditujukan pada manusia adalah perumpamaan sebuah sifat kebodohan, keras kepala, tidak merubah sudut pandang,  (maaf ya… keledai). Mengapa? Sebenarnya sifat alaminya adalah keras kepala sebagai bentuk perlindungan dirinya terhadap ancaman dari luar. Nah, bagi keledai bagus memiliki sifat keras kepala karena ia berusaha melindungi dirinya, tapi bagi manusia alangkah buruknya. Kemudian keledai tidak peduli akan memikul beban bawaannya sebanyak apapun, sampai ia menyerah bila ia tidak sanggup membawanya alias ndeprok (duduk terlunglai) sambil berteriak memekik keras, hingga tuannya memukul-mukulnya untuk berdiri lagi.
Mengapa perumpamaan keledai ini disamakan dengan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat (kaum Yahudi)? Kita tahu bahwa kaum Yahudi merupakan kaum yang keras kepala, bagaimana Allah mengirimkan banyak utusan (Nabi dan Rasul) kepada mereka tetapi mereka selalu menolak akan aturan-aturan Ilahiyah bahkan menentang. Contoh, ketika Musa as bertemu utusan Allah (Malaikat) di Gunung Thursina untuk menerima perintah Allah selama beberapa waktu, umatnya (Yahudi) justru membuat tuhan tandingan berupa patung sapi, alasan mereka Tuhannya Musa tidak dapat dilihat. Dan ketika mereka dijajah Fira’un mereka mengeluh, setelah mereka terbebaspun lebih mengeluh lagi. Ketika mereka diberi makan berupa manna dan salwa, merekapun mengeluh dengan alasan, makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Dan ketika mereka disuruh masuh ke tanah Filistin (Palestina), mereka pun menolak dan balik memerintah Musa as untuk masuk sendiri. Alasan mereka, kalau sudah aman baru mereka akan masuk. Bahkan mereka tahu akan hukum Taurat, justru mereka membuat hukum tandingan dan membunuh para utusan Allah (Nabi dan Rasul) seperti dijelaskan dalam QS Ali Imron ayat 21, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih”. Padahal keinginan Allah terhadap kaum Yahudi, akan memuliakan mereka denganTaurat. Pada kenyataannya mereka memilih kehinaan dengan meninggalkan Taurat, mengganti hukum Taurat sesuai dengan hawa nafsu dan keuntungan dunia mereka.

3.Manusia seperti Unta
Dalam QS Al Waqiah 56 : 51-55 diterangkan bahwa :
Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan”.
Sifat unta ketika minum air adalah layaknya seperti mesin pompa untuk mengisi kantung air yang berada di punuk unta dan sebagian kecil masuk ke perut. Perumpamaan ini untuk menggambarkan bagaimana ahli nereka meminum minuman mereka yaitu air yang mendidih di dalam neraka. Kalau bagi unta sebuah solusi bagi rasa dahaga mereka, tetapi bagi ahli neraka bukanlah sebuah solusi melainkan sebuah siksaan yang amat sangat pedih. (boleh coba deh, Anda menyeruput air hangat saja dengan cara unta, dijamin bibir jadi dower, kerongkongan terbakar dan lambung luka-luka). Naudzubillahi min dzalika.

4.Manusia seperti Makannya Binatang
Allah menerangkan pula dalam QS Muhammad 47 : 12, yang terjemahannya :
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka
Sudah diketahui bahwa bedanya manusia dengan hewan adalah adanya akal dan hati yang menuntun mereka menuju hidayah/petunjuk, sementara untuk urusan perut dan urusan sekilan bawah perut tidak ada bedanya. Hanya, untuk manusia untuk urusan kedua dituntun petunjuk sehingga mendatangkan keselamatan dunia akhirat. Tetapi orang-orang yang kufur akan ayat-ayat petunjuk Sang Pencipta dan Pengatur, Allah SwT, meniadakan aturan-aturan tersebut. Mereka menganggap bahwa kehidupan di dunia ini dengan beberapa prespektif  menurut pandangan mereka. Ini dikuatkan dengan teori-teori ilmiah (menurut mereka) yang dikaji di dunia akademik. Teori mereka seperti :
a.Teori alam semesta yang terus berkembang tiada batas, tanpa awal dan akhir (Steady State Theory)
b.Teori alam semesta yang selalu berevolusi tetap tak terbatas (Oscillating Theory)
c.Teori alam semesta yang memiliki alam paralel, satu dengan lainnya berinteraksi dan saling berpengaruh serta dimungkinkan dapat pindah dari satu ke lainnya, dll.
Yang inti dari teori-teori tersebut adalah kehidupan dunia ini kekal dan dapat berpindah dari satu sisi alam semesta ke alam semesta lainnya. Walaupun, mereka mengakui adanya hari akhir, mereka menganggap hanya sebentar saja, sebagaimana ucapan mereka yang diabadikan dalam Al Qur’an QS Ali Imron 3 ayat 24 yang artinya : “Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (sendiri)”.
Nah, ketika mereka memiliki anggapan demikian maka bagaimana mereka harus menikmati kehidupan dunia ini dengan bersenang-senang semata, dan tidak memandang apakah itu masuk dalam hal-hal larangan dari Allah. Mereka hidup untuk makan bukan makan untuk hidup. Kebutuhan perut dan sedikit di bawah perut diutamakan sebagaimana layaknya perumpamaan mereka makan seperti makannya binatang.

5.Manusia seperti Laba-laba yang membuat rumah
Dalam ayat lain, Allah menjelaskan perumpamaan lain untuk manusia seperti dalam QS Al Ankabut 29 : 41, yang artinya : ”Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”.
Dalam penelitian, bahwa jaring laba-laba adalah suatu yang paling menakjubkan karena dapat dibandingkan dengan kekuatan baja, selentur bahan yang elastis buatan manusia. Sebagai perbandingan kekuatan bahwa kekuatan jaring laba-laba ini tiga kali lipat kekuatan benang baja dengan seukurannya, dapat memiliki daya elastisitas hingga 600 persen, dan lebih kuat dari bahan elastis buatan manusia yaitu serat kevlar (bahan rompi anti peluru). Dengan besarnya kekuatan ini, mengapa Allah tetap menyebutkan rumah laba-laba ini rumah yang paling lemah? Jawabannya adalah pada pondasi dari pembuatan sarang laba-laba ini ! Perhatikanlah, bahwa kekuatan sebuah bangunan adalah terletak pada kekuatan pondasinya, sebuah bangunan biasa hingga bangunan bertingkat haruslah memiliki pondasi yang kuat. Pondasi ini dibuat dengan ditanam di dalam tanah dengan kedalaman tertentu disesuaikan dengan tinggi bangunan serta desain bangunannya.
Nah, perhatikanlah bagaimana seekor laba-laba membangun sarangnya. Mereka selalu menempelkan bagian ujung dari rajutan sarangnya pada bagian-bagian benda atau ranting atau sesuatu bidang yang berdekatan. Ini merupakan bentuk pelajaran bagi kita dari sarang laba-laba, dimana bahan sarang laba-laba ini berdasarkan penelitian ‘memang’, sekali lagi ‘memang’ sesuatu yang luar biasa (sangat kuat dan sangat lentur) tetapi karena peletakan pondasi sarangnya hanya sekedar ditempelkan pada sesuatu maka pondasi sarang tersebut tetaplah lemah. Dan memang desain sarang laba-laba ini didesain untuk menangkap mangsa dan atau tempat menyimpan telur mereka, terbilang cukup kuat dan efektif untuk penjebakan mangsa berupa serangga sekuat apapun.
Kembali ke bahasan perumpamaan pada manusia, bahwa ketika manusia mengambil pelindung-pelindung selain Allah maka pelindung-pelindung tersebut adalah amat sangat lemah. Bahkan pelindung-pelindung tempat manusia mengambilnya sebagai pelindung sendiri mengakui akan kelemahan mereka dan mengakui akan keberadaan serta kekuatan Allah sebagai satu-satunya tempat pelindung, sebagaimana dalam QS. Al Furqon 25 ayat 17-18 yang artinya : ”Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah (yang dijadikan pelindung) selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah atau pelindung); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?”. Mereka (yang disembah atau pelindung itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa”. Manusia yang berharap kepada pelindung-pelindung selain Allah ini mendapatkan kekuatan, kemanfaatan, menjauhkan kemudharatan,  dan keselamatan. Bentuknya ada yang berupa benda mati (benda-benda keramat, bebatuan, logam dan sebagainya), benda-benda dasyhat (gunung, petir, matahari, dan sebagainya), hewan, manusia dan jin. Padahal semua yang ada di alam semesta ini selalu bertasbih, bertahmid, sujud hanya kepada Allah yang Maha Pelindung (Allah Al Waliy). Bukan didapatkan apa yang diharapkan manusia yang mengambilnya sebagai pelindung tetapi justru mendatangkan kecelakaan bagi dirinya sendiri dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Naudzubillahi min dzalika.

6.Manusia seperti Ternak
Allah menjelaskan pula tentang keberadaan manusia yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan, sebagaimana dalam QS Al Furqon 25 : 43-44 yang artinya : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”
Selain benda dan makhluk hidup di luar diri manusia, ada juga jenis manusia yang mengambil hawa nafsu yang ada dalam dirinya sebagai tuhan. Kita ketahui pengertian tuhan disini adalah segala sesuatu yang diperturutkan, diakui keberadaannya, dan menghambakan diri terhadapnya dengan penuh kecintaan berlebihan. Ketika seseorang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya, maka sosok manusia ini akan mentransformasikan dirinya sendiri sebagai sekutu tuhannya, atau dengan kata lain mereka menjadi tuhan terhadap dirinya sendiri (faham sinkretisme diri dengan tuhan, atau faham wihdatul wujud) dan secara bertahap akan memaksakan orang lain untuk menuhankan dirinya. Dalam sejarah kenabian, sosok Namrud laknatullah atau Fir’aun laknatullah memposisikan diri sebagai yang berkuasa, dapat memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, seperti dikisahkan dalam QS An Nazi’at 79 ayat 20 – 25  : “Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia”. Atau dalam QS Al Baqarah 2 ayat 158 : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim (yaitu Namrud laknatullah) tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.
Demikian perumpamaan manusia seperti ternak bahkan lebih sesat lagi ketika mereka menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Bila hewan ternak dihardik dengan perlakuan pecut atau cemeti untuk mengaturnya, maka demikian manusia yang seperti ternak ini, diatur dengan azab dunia dan kalau pun tidak tersadarkan akan diberi akhirat yang lebih pedih.

7.Manusia seperti Anjing
Dalam penjelasan lain, Allah mengumpamakan manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah, kemudian berlepas diri terhadap ayat-ayat tersebut dan mengikuti syaitan serta hawa nafsu mereka untuk mendapatkan kecenderungan terhadap dunia, sebagai seekor anjing. Perumpamaan tersebut dijelaskan dalam QS Al A’raf 7 : 175-176 yang artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.
Kita perlu tahu tabiat seekor anjing adalah seekor hewan yang memiliki kesetiaan yang besar terhadap tuannya yang memberikan makan kepadanya, tetapi bila ada orang lain yang memberikan makan padanya maka iapun akan menerima dengan senang tanpa peduli bila tuannya melarangnya. Ketika tuannya atau orang lain yang memberikan makanan kepadanya, maka anjing ini secara naluriah akan menjulurkan lidah dengan gerakan tertentu sebagai ungkapan rasa senang. Kemudian, bila tuannya atau orang lain tadi menghalau maka sang anjing menganggap sebuah permainan dengan tetap sambil menjulurkan lidahnya. Demikian pula ketika dibiarkan, seolah mereka menunggu instruksi bagi yang telah memberi makannya, baik tuannya maupun orang lain.

8.Manusia seperti Hewan gembalaan
Dalam QS Al Baqarah 2 : 171, Allah menjelaskan yang artinya : “Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti”.
Ketika orang-orang kafir diseru ke dalam kebenaran hakiki, mereka selalu menolak dengan alasan tidak rasional, tidak sesuai dengan perkembangan zaman, menghambat dan berbenturan dengan hak azazi manusia (manusia yang mana???), dan sebagainya. Hal ini karena mata hati, telinga mereka tertutup hawa nafsu sehingga sinar hidayah sulit tertembus. Tidak bisa membedakan antara panggilan hidayah dan peringatan dengan permainan dunia dan hawa nafsu, sebagaimana yang Allah jelaskan juga pada QS Al Baqarah 2 : 6-7, 18, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman, Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup” ; ”Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”.

9.Manusia seperti Anai-anai yang beterbangan
Gambaran manusia saat terjadi kiamat diceritakan sekilas pada QS Al Qari’ah 101 : 4, yang artinya : “Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran”. Perlu diketahui, hewan anai-anai atau dalam bahasa lain rayap atau laron atau white ant, merupakan jenis serangga yang hidup berkoloni. Mereka makan berbagai jenis kayu atau dedaunan tertentu. Mereka pun hidup dalam koloni besar dalam sarang dalam celah pepohonan, dalam tanah hingga membentuk gundukan tanah yang kokoh. Bila koloni mereka terusik, maka mereka akan keluar mencari sumber cahaya dan lari (bila yang tidak bersayap) atau terbang ke segala arah dengan pola acak (kacau). Atau dapat juga di lihat saat peralihan ke musim hujan, mereka keluar pada petang hari dan terbang menuju sumber cahaya dengan pola terbang acak sambil mengelilingi sumber cahaya. Nah, gambaran inilah yang diperlihatkan sebagai gambaran manusia saat terjadi kiamat, penuh kekacauan, mencari jalan selamat.
Pada ayat lain, dijelaskan bentuk kekacauan ini sampai-sampai tiap orang tidak peduli akan tanggung jawab keluarganya, baik itu istri, suami, ayah, ibu, anak, dan siapapun karena masing-masing sudah sibuk akan kengerian kejadian kiamat. Gambaran tersebut diungkap pada QS Abasa 80 ayat 33 – 37,  yang artinya : “Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua)(Kejadian kehancuran-kiamat), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. Jangankan kejadian ini, coba perhatikan saja kejadian saat terjadi bencana kebakaran, gempa, perang berkecamuk, atau teror ledakan bom di kerumunan orang, nampak sekali sebuah kekacauan yang tak terbayangkan. Apalagi kejadian seperti janji Allah, yaitu kiamat. Semoga Allah berikan keselamatan bagi kita semua… .

10.Manusia seperti (jadi) Kera dan Babi
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina” (QS Al Baqarah 2 : 65).
Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan, yaitu mengutuki mereka, mereka disambar petir, menjelmakan mereka menjadi kera, dan sebagainya), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. (QS An Nisa’ 4 : 155).
“Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (termasuk orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”
(QS Al Maidah 5 : 60).
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina
” (QS Al A’raf 7 : 165-166).
Masih ingat cerita rakyat dari Sumatera Barat, Malin Kundang, sebuah cerita anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu. Atau kisah Juraij seorang ahli ibadah di kaum bani Israil yang terkena tuah perkataan ibunya. Ini sebagian kisah atau cerita bagaimana kekuatan sebuah laknat atau kutukan karena sebuah kedurhakaan atau sebuah kebaktian terhadap seorang ibu. Nah, bayangkan pula ketika seorang hamba yang durhaka terhadap sang Pencipta dirinya dengan melakukan perbuatan seperti membunuh para utusanNya, melanggar perjanjian dan persaksian dengan Allah, mengingkari ayat-ayat Allah dengan sikap sombong, dan berbuat kefasikan serta kezoliman secara terus-menerus. Bentuk kewajaran bagi sang Khaliq memberikan sebuah hukuman yang sangat keras bagi mereka dengan bentuk kutukan dan laknatan, dijadikan pada mereka jenis kera dan babi. Naudzubillahi min dzalika….

11.Manusia seperti Binatang yang paling buruk (QS Al Anfal 8 : 22, 55)
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman

Allahu a’lam Bis shawwab.

(GoesPrie, 18-4-13)

About these ads