PENGALAMAN KAMI

Teeett…teett…tett…bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. “Horee….selesai” teriak siswa kelas 5B SD Harapan Indonesia menyambut dengan gembira.

“Nah…anak-anak, tugasnya tolong diselesaikan di rumah berikut laporan pengamatannya”, kata Bu Rahma.

“Ya…bu… ”, jawab mereka serempak.

“Sekarang bereskan buku dan alat tulis kalian. Dan mari kita akhiri pelajaran kali ini dengan berdo’a bersama”. Selesai mengucapkan salam anak-anak kemudian dipersilahkan keluar dari kelas oleh Bu Rahma.

Di luar kelas tampak serombongan siswa masih berkumpul sambil membicarakan rencana tugas pengamatan mereka. Kali ini Bu Rahma memberi tugas mengamati jenis-jenis tanaman atau hewan di daerah sekitar Kalibebeng sekaligus mengadakan kemah edukatif akhir pekan bersama para pengasuh kepanduan.

Adim, Syaif, Andi, Angga dan beberapa teman satu kelompoknya berdiskusi tentang persiapan kemah edukatif mereka sekaligus tugas sains.

“Angga…, saya usul bagaimana kalau  mendata jenis tanaman berbunga majemuk lalu kita cocokkan dengan data yang ada di buku katalog tanaman perpustakaan. Setuju?”, usul Andi.

“Iya Ngga…saya setuju usulan Andi”, timpal Syaif.

“Oh ya, tapi kita perlu membatasi bahasan pendataannya”, sambung Adim.

“Baiklah, mari kita rumuskan bersama”, jawab Angga semangat.

Akhirnya mereka sepakat merumuskan pendataan tanaman sesuai dengan tugas mereka dan juga pembagian tugas untuk persiapan kemah akhir pekan.

—****—

Sabtu siang rombongan siswa kelas 5 SD Harapan Indonesia berangkat dengan 3 bis dari sekolah  menuju tempat kegiatan yaitu bumi perkemahan Kalibebeng. Semua menikmati perjalanan menuju lokasi yang melewati kebun salak, perkebunan penduduk yang tertata rapi dan tak kalah indahnya adalah pemandangan perbukitan yang hijau dan terpelihara. Terbayang aliran mata air yang jernih dan sejuk  mengalir di sepanjang saluran air di pinggir jalan.

“Subhanallah…indah sekali…”, kata Rani dengan mata yang berbinar cerah melihat pemandangan tersebut.

“Iya..ya..aku juga senang dengan pemandangan ini”, sahut Fitri.

Sebagian siswa  bernyanyi tentang keindahan alam dengan iringan tepuk tangan berirama siswa lainnya. Tanpa terasa akhirnya sampai ke tujuan di bumi perkemahan Kalibebeng, dan satu persatu siswa turun dari bis sambil membawa perlengkapan kemah dan perbekalan mereka. Dipimpin oleh Pak Shobar sebagai pimpinan rombongan, mereka menuju lokasi kemah dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak pinggiran perbukitan di Kalibebeng. Terlihat jelas puncak gunung Merapi yang indah dan sedikit kepulan asap yang keluar. Sesekali burung-burung  terbang  melintas di atas rombongan dengan suara yang terdengar merdu menghilangkan kelelahan yang terasa.

“Nah…kita sudah sampai di lokasi tempat pendirian kemah. Sekarang istirahat sebentar sebelum kita mendirikan tenda”, kata pak Shobar.

“Alhamdulillah akhirnya sampai juga”, kata Angga.

“Wah…kita bisa betah nih tinggal berkemah di sini”, Sambung Syaif.

“Ayo…semua barang dikumpulkan, istirahatnya sudah cukup. Kelompok putra di sebelah Utara dan kelompok putri di sebelah Barat. Dan di sini khusus untuk tenda pembina”, instruksi pak Shobar. “Jangan lupa buat pembatas lokasi perkemahan masing-masing”.

Kelompok putra membuat pembatas lokasi kemah sekaligus batas masing-masing kelompok kecil, demikian juga dengan kelompok putri. Mereka dengan semangat mendirikan tenda masing-masing dan akhirnya selesai menjelang waktu Ashar.

“Alhamdulillah…tenda kita selesai”, kata Adim

“Kegiatan selanjutnya akan diadakan apel pembukaan khan”,Andi menyela.

“Iya…”, jawab Angga sambil mengencangkan tali tenda bagian depan.”Alhamdulillah, insya Allah kuat”, lanjutnya.

“Yuk…kita masukkan dan tata barang-barang kita”, kata Angga

“Ayo…”, serempak mereka mengiyakan ajakan Angga.

Kelompok Adim segera menata barang mereka di dalam tenda. Hampir semua kelompok baik putra maupun putri sudah menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.

“Prit…prit…prit…,prit…prit…prit…” bunyi peluit pak Shobar memberi tanda kepada para siswa untuk berkumpul. Dengan berlari mereka menuju ke lokasi pak Shobar berdiri dan membuat barisan masing-masing kelompok. “Anak-anak, sebelum apel pembukaan dimulai, kita sholat Ashar berjamaah dahulu baru kemudian kita siapkan apel pembukaan. Siap…”

“Siaaaap….”, teriak para siswa bersamaan.

Kemudian mereka berwudhu dengan air yang mengalir melalui keran-keran kecil dari pipa saluran air besar yang ada di sekitar mereka. Dan mereka lanjutkan dengan sholat Ashar berjamaah di tempat yang agak lapang di sekitar perkemahan mereka.

—****—

“Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Anak-anak, sore hari yang cerah ini, di suasana yang membuat kita takjub akan kekuasaan Sang Pencipta dan disertai rasa syukur kita atas nikmat Sang Maha Kuasa, mari kita mulai kegiatan perkemahan edukatif akhir pekan ini dengan bersama-sama kita membaca bacaan Basmalah bersama. Semoga kegiatan ini tidak hanya akan mencerdaskan akal pikiran kalian tetapi lebih dari itu semoga kegiatan ini akan menambah rasa keimanan kita semua dengan melihat kebesaran Sang Pencipta di sekitar lokasi ini”, Pak Shobar memberikan sambutannya. “Teknis pelaksanaan kegiatan akan dipandu oleh masing-masing guru pemandu kalian. Sekian terima kasih, wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh”, pak Shobar mengakhiri sambutan singkatnya.

Setelah apel pembukaan selesai para siswa membubarkan diri dan menuju ke tenda masing-masing. Mereka berkelompok dan berdiskusi dengan guru pemandu masing-masing mengenai tugas yang akan dikerjakan bersama. Ada yang ingin meneliti hewan-hewan serangga yang hidup di lingkungan berbatuan, ada yang ingin meneliti populasi serangga di sekitar sumber mata air di Kalibebeng dan ada pula yang ingin mendata tumbuhan bunga di lereng bukit sekitar Kalibebeng.

—****—

Selepas Isya’ mereka melakukan kegiatan diskusi lanjutan untuk mempersiapkan kegiatan penelitian besok pagi hingga pukul 21.30. Acara dilanjutkan dengan permainan mencari jejak di sekitar lokasi perkemahan. Menjelang pukul 23.15 permainan selesai, mereka kembali ke kemah masing-masing untuk beristirahat dan mengembalikan tenaga untuk persiapan kegiatan esok pagi.

—****—

Selepas pukul 06.00 para siswa sudah menyiapkan diri untuk kegiatan penelitian masing-masing. Tiap kelompok siswa mulai berangkat sesuai lokasi penelitian. Ada yang menuju lereng sungai Kalibebeng, ada yang ke hutan pohon pinus, bahkan ada yang menuju celah perbukitan yang rimbun.

Angga dan teman-teman memilih sisi Utara dinding sungai Kali Bebeng yang sedang kering dan yang ada hanyalah hamparan pasir dan bebatuan material gunung Merapi. Mereka mencatat dan menggambar bagian dari tanaman serta memotretnya. Dengan semangat kelompok Angga menelusuri dinding sungai Kali Bebeng. Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 09.25, walaupun begitu sinar matahari yang cerah tidak mengubah suasana di daerah Kali Bebeng yang tetap sejuk. Adim sudah merasa capek dan mengajak teman satu kelompoknya untuk beristirahat, ”Angga, Andi, yuk istirahat sebentar, saya capek nih”

”Ayo, kita istirahat sebentar sambil nikmati perbekalan kita, aku tadi tidak sempat sarapan”, sahut Angga. ” Syaif, kamu bawa snack apa ? bagi dong”.

”O…, aku bawa nasi gudeg lauk krecek”, Kata Syaif.

”Nih, mau cicip tidak. Aku bawa gethuk dengan tempe bacemnya, asli Kaliurang lho…”, Timpal Andi.

Mereka saling tukar perbekalan dan menikmatinya sehingga tanpa terasa 20 menit berlalu. Dengan bergegas keempat anak itu  melanjutkan tugas yang sempat tertunda sejenak. Ketika berjalan sambil menulis data yang didapat, Angga melihat ada celah di dinding sungai Kali Bebeng dengan lebar kurang lebih satu meter dan tinggi hanya cukup untuk orang merunduk. ”Hei Syaif, Andi, Adim, kemari. Coba lihat, apa yang kutemukan”, teriak Angga mengejutkan yang lain.

”Ada apa, Ngga ?”, Kata Syaif.

”Hah… lubang apa ini”, Adim terperangah.

”Nggak  tahu ya. Barangkali ini lubang bekas tentara Jepang. Kata Pak Andri guru IPS kita di sekitar sini memang banyak lubang bekas peninggalan tentara Jepang ketika perang dulu”, kata Angga.

”Yuk, kita coba masuk”, sela Andi.

“Nggak ah.., takut”, sahut Adim sambil menggelengkan kepala.

“Ayolah…kita coba sebentar. Barang kali ada jalan tembus ke sisi bukit ini”, bujuk Angga.

”Nanti kita tersesat atau ada ular ganas di dalam lubang ini atau …hiii”, bergidik Adim menjawab bujukan Angga.

”Nggak usah takut !Bismillah, kita sama-sama…, hitung-hitung ada pengalaman serunya”, tantang Angga.

”Baiklah, kita coba. Tapi kamu yang tanggungjawab”, kata Adim.

”Ya… ayo kita sama-sama masuk”, tegas Angga.

Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam lubang itu. Beriringan mereka berjalan merunduk sambil berpegangan satu dengan lainnya. Dengan senter di tangan Angga berjalan di depan sebagai penuntun kelompoknya. Ternyata jalan dalam celah tersebut lumayan panjang dan gelap sehingga suara nafas mereka terdengar bergema. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan seperti aula selebar lapangan voli dan di atas langit-langitnya terdapat lobang kecil yang cukup untuk cahaya matahari menembus ke dalamnya. Terdengar gemericik air yang jatuh di bebatuan. Pemandangan tersebut membuat keempat anak itu terperangah. Mereka menyorotkan lampu senter ke dinding-dinding gua, terlihat lubang-lubang kecil sebesar dua kali kepalan orang dewasa. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Angga dan teman-temannya.

Ketika asyik melihat dinding gua, tiba-tiba salah satu di antara lubang-lubang itu mengeluarkan cahaya biru berkilau yang membuat mereka kaget, sampai-sampai hampir lari. ”Apa itu ?”, sergah Adim yang dari tadi memang agak takut.

”Entahlah, coba kita lihat”, kata Angga.

”Jangan Angga ! ”, cegah Andi.

”Tidak apa-apa, coba aku lihat sendiri”, kata Angga meyakinkan temannya. ”Hah… apa itu ?”. Sedikit kaget Angga berteriak.

”Ada apa Angga ?”, tanya Andi tak kalah kaget.

”Entahlah, aku sendiri tidak tahu dan merasa aneh !”, Kata Angga. ”Di dalam lubang ini seperti ada batu kristal kecil yang berwarna biru !”.

”Coba lihat, Ngga”, timpal Syaif mencoba memberi solusi. Kemudian Syaif melihat ke dalam lubang yang mengeluarkan cahaya tadi. ”Subhanallah, apa ini yaa.., apakah sebuah batu permata?”

”Entahlah, coba saya ambil Syaif”, kata Angga.

Kemudian Angga mencoba meraih batu yang terdapat di dalam lubang. Ketika tangan Angga menyentuh batu kristal itu, tiba-tiba cahaya yang keluar semakin terang hingga memenuhi ruangan dimana mereka berada. Ruangan terasa dingin, cahaya biru memenuhi ruangan beberapa detik dan akhirnya padam kembali. Gelap. Hening. Semua yang berada di dalam ruangan gua itu terkesima sejenak dan menahan teriakan yang seharusnya keluar dari mulut mereka.

”Apa yang terjadi Angga?”, tanya Adim sambil memegang tangan teman-temannya.

”Entahlah, aku sendiri tidak tahu”, jawab Angga masygul.

”Yuk, kita keluar saja. Aku takut nih !”, sela Syaif  dengan mimik ketakutan.

”Iya, Angga. Ayo kita keluar !”, sambung Andi tak kalah takutnya dengan Syaif.

”Baiklah, mari kita keluar dengan hati-hati”, ajak Angga. ”Kenapa ya, kok tiba-tiba batu kristal itu mengeluarkan cahaya biru yang memenuhi ruangan dan mengubah suasana ruangan menjadi dingin. Dan sekarang batu itu menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya biru”, lanjut Angga yang masih dipenuhi rasa keheranan.

Mereka berempat beriringan keluar dari dalam gua dengan penerangan lampu senter yang di bawa tadi. Sesampai di mulut gua, rasa kaget kembali terasa karena suasananya sudah lain, tidak seperti ketika masuk gua. Banyak petugas polisi dan beberapa guru pembimbing sementara teman-teman mereka tidak terlihat seorangpun.

”Pak Shobar …pak Shobar… ada apa ini ? kemana teman-teman yang lain ?”, teriak Angga. Untuk kesekian kalinya terjadi keanehan . Pak Shobar tidak bereaksi. Pak Shobar sepertinya tidak mendengar panggilan itu. Kemudian Angga dan ketiga temannya melangkah mendekati tempat pak Shobar yang berdiri dikelilingi beberapa polisi . Sekali lagi mereka mencoba untuk memanggilnya.

”Pak Shobar… ini kami, ada apa ini ? Kemana teman-teman yang lain ?”, serempak mereka bertanya.

Pak Shobar menoleh dan kaget sambil berkata, ”Subhanallah…, Allahu Akbar…. Angga, Andi, Syaif, Adim…kemana saja kalian ?”. Pak Shobar dengan bergegas berlari kecil menuju keempat siswanya dan memeluk mereka erat-erat.

Angga dan teman-temannya saling memandang dengan wajah penuh tanda tanya ”Memangnya apa yang terjadi, Pak ?”, tanya Angga.

”Angga…, kami mencari kalian sejak tiga hari yang lalu. Bapak mendapatkan laporan dari temanmu terakhir melihat kalian di sekitar sini”, jawab Pak Shobar.

”Hah…tiga hari…?”, Angga dan ketiga temannya bertambah heran.

”Ya, tiga hari yang lalu kami kehilangan kalian. Sekarang orangtua kalian menunggu di posko bumi perkemahan di atas. Kasihan mereka menunggu sudah lama. Alhamdulillah sekarang kalian kembali”, jelas pak Shobar.

Masih dalam keheranan, mereka berempat saling bertanya,”Apa yang terjadi pada kita berempat ?”.

”Ayo, kita ke posko”, kata salah satu polisi yang mendampingi mereka.

Kesemuanya berjalan menuju posko. Di sana tampak orangtua Angga, Adim, Syaif dan Andi menunggu. Terlihat ibu Angga dan Syaif masih memerah matanya yang disebabkan menangis. Sejurus kemudian para orangtua itu memeluk dan menciumi anaknya masing-masing. ”Kalian kemana saja nak..”, keluh mareka.

Mereka berempat ditanya oleh salah seorang polisi untuk mencatat kejadian yang sebenarnya terjadi. Mendengar apa yang diceritakan Angga dan kawan-kawannya membuat orang-orang yang berada di posko itu saling memandang satu dengan lainnya, heran dan juga takjub. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada keempat siswa SD Harapan Indonesia itu. Satu fenomena alam yang sulit dijelaskan secara ilmiah tapi itu semua merupakan satu bentuk kekuasaan Sang Pencipta. (Goesprie)