Si Karmin

Sore itu langit tampak mendung, barangkali akan hujan. Bu Yati ibu Karmin beberapa hari ini kurang sehat. Sehingga hampir semua pekerjaan ibunya dikerjakan oleh Karmin, mulai mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar, belanja dan masak. Ayahnya sejak tiga bulan yang lalu meninggal karena kecelakaan terjatuh di lereng sungai. Sudah lama pula Karmin tidak ke sekolah karena tidak ada biaya. Ketika malam menjelang selepas sholat maghrib, Karmin seperti biasa menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

“Min…, Karmin..” ,panggil ibunya.

“Ya, Bu” sahut Karmin. “Ada apa Bu ?”

“Ibu minta air hangatnya “.

“Ini Bu”, jawab Karmin sambil memberikan gelas air minum ke ibunya.

“Sudah sholat Min ?”

“Sudah Bu”. “ Bu, sekalian makan ya, biar cepat sembuh”

“Nanti Min, Kamu makan dulu saja”

“Iya Bu”

Karmin kemudian makan malam duluan dengan agak kurang semangat, barangkali ia lelah dan memikirkan kesehatan ibunya.

***

Malam semakin larut dan agak gerimis, Ibu Karmin bertambah demam. Sementara Karmin tampak tertidur di amben bambu dengan berselimut kain sarung. Bu Yati berusaha untuk mengambil air untuk kompres di meja tetapi ia terjatuh. Karmin kaget dan terbangun. Ia dengan cepat-cepat menuju ibunya dan berusaha membantu.

“Bu….”

Ndak apa-apa Min…, Ibu hanya tersandung”

“Ibu tiduran saja, biar Karmin yang mengambilkan apa yang Ibu butuhkan”

“Ibu hanya ingin mengambil air untuk kompres kepala”

“Ini Bu” kata Karmin sambil meletakkan kain basah ke kepala Ibunya.

“Alhamdulillah, terima kasih Min”. “ Min, mau kan tolong Ibu ?”

“Mau bu, Ibu minta tolong apa ?”

Bu Yati sebenarnya tidak mau mengatakan, tetapi karena butuh obat ia menyampaikan ke Karmin. Bu Yati tahu kalau Karmin agak penakut. “ Min, ibu tolong belikan obat ke warung pak Totok ya. Barangkali warungnya masih buka”

“Iya Bu…, tapi….” Karmin tidak melanjutkan kata-katanya.

“Min, Ibu tahu kamu takut, tapi cobalah pergi beli obat. Semoga sakit ibu cepat sembuh”

“Iya bu…”

Kemudian Karmin beranjak pergi untuk beli obat, walau merasa takut tapi ia paksakan karena ia kasihan pada ibunya. “ Bismillah…” ucap Karmin lirih. Karmin membuka pintu depan rumahnya. Karmin membayangkan jarak warung pak Totok agak jauh dari rumahnya ditambah lagi suasana malam itu gelap dan  gerimis. Ia tengak-tengok ke kanan kiri dan mulai melangkahkan kakinya ke luar rumah. Jalan yang harus dilalui Karmin berliku-liku menyelusuri kebun yang lebat. Suasana semakin seram apalagi diselingi oleh kilat yang menyambar-nyambar. Karmin berjalan cepat sambil sedikit berlari-lari kecil dengan nafas yang terengah-engah dan detak jantung yang semakin keras.

“Wah.., harus melewati jembatan kayu itu” guman Karmin. Karmin ingat beberapa waktu yang lalu ada orang yang terjatuh dari jembatan kayu itu dan meninggal dunia. Sesampai di jembatan kayu, Karmin tampak ragu-ragu untuk melewati. Ia melihat sosok putih di pinggir jembatan. Dalam pikiran Karmin terbayang yang bukan-bukan, ia mulai gemetar dan bimbang akan lewat atau tidak. Tetapi karena ia terbayang wajah ibunya yang sakit dan menunggunya di rumah ia tekadkan untuk tetap melangkah. Sambil bertakbir ia langsung lari melintasi jembatan itu, “ Allah Akbar….”. Karmin lari dengan kencang. Dan kemudian ia berhenti sejenak sambil terengah-engah. Tetapi belum lagi ia menarik nafasnya tercium bau wangi, terasa merinding bulu kuduk Karmin. Karmin melihat ke sekitarnya, tampak di pojok kebun pisang ada bayangan hitam seperti tangan yang melambai-lambai. Ia lari lagi …. Terdengar samar-samar suara yang  menegakkan bulu kuduk “ hu..hu..hu..” berulang-ulang. Karmin tak sanggup lagi ia lari sekencang-kencangnya sambil berteriak “ tolong….”.

***

Akhirnya Karmin sampai juga ke warung pak Totok yang ternyata masih buka. Lalu Karmin bergegas menuju ke warung pak Totok. Dengan nafas yang masih terengah-engah Karmin mengucapkan salam “ Assalaamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam…”, jawab pak Totok. “ Lho, ada apa Min. Kok kamu terlihat pucat dan terengah-engah”

“Tidak apa-apa, pak” jawab Karmin. “ada obat untuk penurun panas dan pusing pak?”

“Ada.., nih Min”

“Terima kasih pak” jawab Karmin sambil menerima obat dan membayarnya.

“Oh ya, Min. Ibumu belum sembuh?”

“Belum pak”

“Semoga cepat sembuh”

“Terima kasih pak”

Kemudian Karmin pulang. Ketika mulai beranjak, Karmin ingat Pak Haji Imron guru mengajinya yang bercerita bahwa bila ketika ada perasaan takut datang untuk segera bermohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan dan menenangkan diri. Karena syaitan itu sering menggoda manusia dengan perasaan takutnya. Ia mulai geli dengan dirinya sendiri. Karmin kemudian mengucapkan ta’awudz dan mencoba untuk tenang. Ia berpikir bahwa ketika pikiran tenang maka segala sesuatu dapat teratasi dengan baik walaupun dirinya masih agak deg-degan.

Karmin berjalan cepat sesampai di kebun pisang ia berhenti sebentar sambil memperhatikan sekelilingnya yang tadi ia sempat lari terbirit-birit. Karmin melihat bayangan hitam yang melambai-lambai dan kemudian ia mendekati….Ternyata Karmin dapatkan bahwa bayangan hitam tadi adalah daun pisang yang tertiup angin. “Astaghfirullah.., ternyata daun pisang tho…”. Dan bau wangi yang sempat tercium itupun ternyata bau kembang pohon kenanga yang baru mekar. Karmin mulai geli terhadap dirinya sendiri yang penakut.

Setelah itu terdengar lagi suara hu berulang-ulang, Karmin melihat ternyata seekor burung hantu yang sedang bertengger di pohon. “ Barangkali ia sedang mengintai mangsanya sambil berteduh dari gerimis”.guman Karmin. “ Hah..Min min, kamu ini dasar penakut sekali” ucapnya lagi sambil menepuk kepalanya sendiri. Karmin mulai tenang. Ia melanjutkan perjalanan pulangnya dengan jalan cepat, ia khawatir ia sudah ditunggu-tunggu oleh ibunya.

Sesampai di jembatan kayu , Karmin berhenti sejenak untuk melihat sosok putih yang ia lihat tadi. Setelah diperhatikan ternyata adalah sepotong kayu besar dicat kapur putih yang ditancapkan di pinggir jembatan yang rusak. Tujuannya sebagai tanda agar orang yang lewat di sana untuk hati-hati agar tidak terjatuh ke lubang yang ada di jembatan rusak itu terutama pada malam hari. Karmin semakin geli terhadap dirinya sendiri. Dan akhirnya Karmin dengan tenang pulang ke rumah. Ia bangga dengan dirinya sendiri karena dapat mengalahkan perasaan takutnya. “ Alhamdulillah sudah sampai, Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikum salam…’ jawab ibunya lirih dari dalam. “Sudah dapat Min, obatnya ?”

“Sudah bu…” ,jawab Karmin sambil masuk ke rumah.

“Ganti dulu pakaiannya.. tadikan kena gerimis biar tidak masuk angin”

“iya bu”, jawab Karmin sambil memberikan obat tadi ke ibunya. “Biar cepat sembuh bu”.

Ibu  Karmin minum obat yang sudah dibelikan Karmin sambil berdo’a “ ya Allah, semoga engkau berikan keberanian dan keteguhan kepada anakku Karmin”. Sementara itu Karmin sudah ganti pakaian yang basah tadi dan bergegas menuju ibunya untuk memijat  kepala ibunya. (guspri)