PEKERJAAN YANG PENUH KEBERKAHAN

Oleh Abine Hisyam

Motivasi untuk memenuhi dan mendapatkan kebutuhan hidup adalah suatu kewajaran dan kewajiban bagi seseorang baik masih sendiri maupun sudah berkeluarga. Wajar karena sebagai makhluk hidup dan wajib karena sebagai tuntunan hidup dan kehidupan. Untuk mendapatkan kebutuhan hidup itupun melalui proses pencarian yang disebut bekerja bukan membebankan diri pada orang lain. Orang yang bekerja adalah lebih mulia dibandingkan mengemis (bukan berarti menafikan orang yang bersedekah) atau membebani orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup yang wajib adalah berupa sandang, pangan dan papan, selain itu adalah sebagai pelengkap saja. Tetapi, permasalahannya adalah bagaimana untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat mendatangkan suatu keberkahan dari Sang Pencipta yaitu Azza wa Jalla Allah SwT. Pekerjaan apapun dapat mendatangkan keberkahan kecuali ada yang menggugurkan keberkahannya. Pekerjaan apapun dapat mendatangkan keberkahan kecuali sudah tercatat secara syar’i bentuk pekerjaan yang mendatangkan ketidak berkahan bahkan dosa. Ada banyak hal yang menyebabkan pekerjaan itu mendatangkan keberkahan, keberkahan bagi yang melakukan pekerjaan itu, keberkahan hasil yang didapat, keberkahan efek yang ditimbulkan oleh pekerjaan itu. Hal-hal yang mendatangkan keberkahan suatu pekerjaan antara lain adalah :

Satu, mencari pekerjaan diniatkan dalam rangka ibadah
Mencari pekerjaan harus dalam rangka ibadah bukan dalam rangka maksiyat kepada Allah Sang Pemberi Makna. Ketika seseorang mencari pekerjaan diniatkan untuk bermaksiyat maka gugurlah keberkahan secara keseluruhan. Sangatlah rugi bila seseorang ketika ketika mencari pekerjaan niatnya dikotori dengan niat maksiyat kepada Allah. Bila ia sudah berkeluarga maka keringat yang menetes ketika mencari pekerjaan itu semuanya akan menjadi nilai ibadah dan mendatangkan syafaat baginya.

Dua, mendapatkannya dengan cara yang benar secara ibadah
Sering terlupakan pula untuk mendapatkan sebuah pekerjan hendak aman secara syar’i dan aman secara proses. Aman secara syar’i dan secara proses artinya tidak melanggar dan melabrak ketentuan syariat seperti menjauhi cara yang kotor melalui proses suap menyuap dan manipulasi. Banyak orang melakukan dengan cara pintas tapi memangkas keberkahan hingga hilang. Suap menyuap, sogok menyogok, manipulasi, perjokian, penipuan, pengancaman dan sebagainya merupakan bentuk-bentuk yang melanggar. Tidak hanya rugi dan merugikan diri sendiri melainkan bagi orang lain. Tidak akan pernah mendatangkan keuntungan dunia melainkan kerugian di dunia bahkan akhirat. Dalam diri seseorang tersebut bahkan akan tumbuh sifat-sifat mazmumah atau tidak terpuji lainnya bagaikan jamur dan penyakit yang subur menggerogoti induk semangnya sampai ia lupa diri dan dilupakan oleh sang Penciptanya. Naudzubillahi min dzalika.

Tiga, melakukannya dalam rangka ibadah
Ketika ia berkerja harus dalam rangka ibadah pula dan dengan senang hati. Bila ia melakukan secara terpaksa maka akan membebani dirinya sehingga menghambat kelancaran pekerjaan. Selalu mensyukuri apa yang ia lakukan. Ada sebuah kisah ketika ada sahabat yang diberi nasehat dan kampak oleh Rasulullah untuk bekerja menghidupi diri dan keluarganya, ia dengan senang hati melakukannya. Berbeda dengan kisah Tsalabah ia lakukan pekerjaannya sebagai suatu beban dan kesusahan serta kurang mensyukuri karena menginginkan sesuatu yang lebih dari yang ia memiliki. Dapat diambil ibroh pula dari makhluk Allah yang bernama burung, mereka dengan gembira melakukan pekerjaannya dengan kicauan di pagi hari dengan perut kosong dan di sore hari dengan perut penuh makanan. Kicauan burung itu simbol zikir dan rasa syukur.

Empat, mendapatkan sesuatu dari pekerjaan itu dapat menguatkan ibadah
Perlu diingat pula bahwa ketika mendapatkan sesuatu dari suatu pekerjaan hendaknya menguatkan ibadah dirinya kepada Allah sang Pemberi Pekerjaan. Jangan sampai dengan pekerjaan yang ia lakukan justru menjauhkan dirinya dari ibadah. Ia dilalaikan dengan pekerjaannya atau bahkan dibutakan hatinya karena pekerjaanya sampai turunnya keputusan Allah terhadap dirinya. Lihatlah kisah Tsalabah yang ia lupa dan lalai bahkan meninggalkan ibadahnya karena pekerjaannya. Jangan sampai ketika belum bekerja ia mengamalkan ayat kursi dan ketika sudah mendapatkan kursinya ia lupakan ayatnya. Ketika ia belum bekerja rajin sholat dan ketika ia sudah bekerja ia lupa dengan sholatnya hingga ia disholatkan orang.

Lima, efek yang ditimbulkan pekerjaan itu dapat memunculkan bentuk dan nilai ibadah lain
Suatu hal yang luar biasa bila sesuatu didapat memunculkan sesuatu yang lainya yang lebih baik. Ketika ia belum bekerja dan belum kaya ia rajin shalat, dan ketika sudah bekerja dan kaya ia semakin rajin sholat, zakat dan infaq. Ketika ia belum bekerja dan pandai ia rajin zikir, dan ketika ia sudah bekerja dan semakin pandai ia semakin rajin shalat, bersyukur dan menyebarkan ilmu serta kebaikan lain. Bahkan memberikan motivasi serta sebagai model bagi orang lain. Luar biasa dan subhanallah.

Inilah hal-hal yang dapat menjadikan pekerjaan itu menjadi berkah. Banyak hal lagi yang dapat dilakukan agar pekerjaan yang dikerjakan menumbuhkan keberkahan dan semakin intensifnya ia beribadah, bukan semakin menjauhkan diri dari berkah Allah. (Goesprie).