HUDA, Siswaku

Hampir sepuluh tahun yang lalu ketika masih di Jogjakarta, saya didatangi oleh orangtua salah satu siswa saya. Mereka mengeluh tentang perkembangan belajar anaknya yang susah belajar bahkan hampir dikatakan kalau disuruh belajar ia selalu membuat alasan untuk tidak mau belajar. Ketika saya tanya, apa aktivitasnya di rumah, orangtua siswa saya itu mengatakan mengumpulkan barang-barang aneh seperti kawat, kabel, accu bekas, lampu bekas atau yang lainnya.

Pada kesempatan lain, saya panggil wali kelas siswa tersebut, dan saya tanya aktivitas belajarnya selama di kelas. Jawaban yang saya terima dari wali kelas adalah sesuatu yang bisa jadi mewakili emosi dari wali kelas, susah diatur. Kalaupun izin ke kamar kecil bisa lima belas menit lebih, dan ternyata tidak ke kamar kecil melainkan ke halaman sekolah untuk mencari sesuatu atau membuat sesuatu yang baginya menyenangkan.

Saya kembali ketemu dengan orangtua siswa tersebut, dan memberi saran untuk dikonsultasikan ke psikolog dan harus sering sharing dengan wali kelasnya. Waktu terus berjalan, ternyata tidak menunjukkan hasil yang memuaskan bahkan membuat sedih kedua orangtua siswa tersebut.

Lebih kurang dua tahun yang lalu, saya ketemu dengan orangtua siswa yang sepuluh tahun yang lalu pernah ketemu di Jogjakarta. Kebetulan saya sedang memberikan pelatihan kepada guru di sebuah sekolah di Belitang, Sumatera Selatan. Kesempatan ketemu lagi,  dan curhat lagi. Ia menyampaikan bahwa ia bingung dengan anak yang satu ini, ia katakan bagaimana caranya agar anaknya bisa dan mau sekolah lagi. Ternyata setelah lama tidak ketemu, siswa ini drop out dari sekolah setingkat SMP. Bahkan sang anak pernah memegang ijasah SDnya sambil mengibas-ngibaskan dan mengatakan, apa arti selembar kertas ini, yah? Tapi sang ayah sempat menyampaikan pula bahwa anaknya ini lebih sibuk ke warnet sampai berjam-jam, dan ia khawatir kalau-kalau terpengaruh dengan dampak negatif dari internet. Akhirnya saya sarankan agar anaknya ketemu dengan saya selepas sholat jum’at, siangnya.

Selepas sholat Juma’at, saya ketemu dengan anak itu. Kami berbincang-bincang sekaligus melepas kangen antara guru dengan murid. Ia sedikit bicara tapi tertangkap apa yang menjadi obsesinya. Terakhir selesai bincang-bincang, saya katakan padanya, “Kamu ingin jadi Bill Gates ya? Boleh, tapi terus belajar dan jangan berhenti untuk belajar”. Ia hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang saya katakan.

Selepas sholat Isya’, ayahnya ketemu lagi dengan saya membawa selembar kertas sambil berkata,”Pak Pri, tadi siang pak Pri nasehati apa ke anak saya?”. Saya jawab,”Tidak banyak tapi saya sampaikan agar ia terus belajar, memang ada apa?”. “Nih, dia buat proposal untuk saya”. Saya ambil selembar kertas yang ada di tangan ayah siswa itu, saya baca dan saya langsung tertawa sambil berkata,”Penuhi saja apa yang dimintanya”. Ternyata siswa saya tadi membuat proposal yang diajukan ke ayahnya untuk dibelikan komputer beberapa unit dan memasangkan jaringan telpon yang sekaligus sebagai jaringan internet.

Beberapa bulan kemudian sejak bertemu dengan orangtua siswa saya tadi, saya ditelpon yang intinya ia bingung karena diberi uang oleh anaknya sebesar dua juta lebih, uang pertama dari tangan anaknya, yang berasal dari bisnis online yang dijalankannya.

Tanggal 28 Desember 2009, saya coba menelpon ayah dari siswa saya tadi hanya untuk menanyakan khabar perkembangan anaknya. Ia ceritakan bahwa beberapa hari yang lalu, anaknya mendapat bonus dari bisnis via internet lebih kurang tiga puluh juta rupiah, sebuah angka fantastis. Dan ia khabarkan anaknya juga baru mendapatkan sertifikat lulus ujian Paket B. Saya katakan,”Syukurlah”.

Akhirnya aku berpikir, perlu juga dikembangkan di sekolah-sekolah konsep Eduprenuer dan  Edupsikologi selain pembelajaran yang mengolah keragaman potensi siswa, yang jarang tersentuh atau para pendidik belum peduli.

Sukses Untuk Anakku-Siswaku…Belajarlah tanpa Henti…
(31 Desember 2009, GoesPrie).