Ayo Menggambar

Suatu ketika dalam sebuah pelatihan motivasi untuk guru-guru, saya meminta kepada para peserta untuk menggambarkan sesuatu dari jenis hewan apa saja. Saya beri waktu secukupnya agar peserta dapat mengekpresikan kreasi mereka. Setelah mereka selesai menggambar, saya minta salah satu dari peserta untuk mengumpulkan semua pekerjaan rekan-rekannya. Kemudian saya periksa semua hasil gambar yang ada, dan ternyata hasilnya… LUAR BIASA !!!

  1. Sebagian besar peserta menggambar hewan dari jenis unggas.
  2. Atau sebagian besar peserta menggambar dengan posisi gambar menghadap ke kiri.

Ketika peserta yang memiliki kemiripan gambar saya tanya, apakah Anda menyontek? Jawabnya, tidak! Ya, jelas tidak karena jarak tempat duduk antar mereka agak berjauhan. Saya tanya yang lainnya, apakah Anda janjian tadi diluar sebelum memasuki ruangan ini? Jawabannya, tidak! Betul, karena mereka fokus bahwa mereka akan menerima pelatihan hari ini dan mempersiapkan diri untuk pelatihan itu. Saya tanya kembali, apakah Anda memiliki ilmu telepati? Jawabannya pun TIDAK! Sekali lagi TIDAK!

Hasil yang demikian juga sama, ketika peserta diminta menggambar sesuatu hal yang menyenangkan. Hasilnya sebagian besar peserta ada kemiripan gambar yaitu pola pemandangan, dimana terdapat gambar gunung yang seragam antara satu hingga dua buah gunung, atau gambar awan yang jumlahnya rata-rata ganjil 1,3 atau 5, atau gambar jalan yang berdampingan dengan sawah, atau gambar burung elang yang sedang terbang dengan jumlahnya pun ganjil, kemudian ada sedikit tambahan ada gambar orang dengan jumlah antara 1 hingga 3 gambar, baru variasi lainnya.

Apa artinya ini? Kalau bisa, saya coba uraikan sedikit dengan beberapa pengalaman-pengalaman sharing dalam berbagai pelatihan.

  1. Bahwa hasil pola pendidikan pada masa mereka (jelas juga kita dong) berhasil, berhasil menanamkan pola keseragaman bukan keragaman.
  2. Bahwa pola keseragaman mencetak manusia-manusia otak kiri, yang cenderung seragam (walaupun keseragaman tetap dibutuhkan dalam kehidupan ini).
  3. Bahwa pola keseragaman menjauhkan dari pola kreativitas dan keunikan potensi.

Ada cerita anekdot tentang otak, ceritanya demikian :

Ada seorang profesor peneliti otak manusia yang ada di dunia ini. Ketika ia dibawakan oleh asistennya sebuah otak orang Jerman, ia tolak, alasannya bahwa otak orang Jerman terlalu berkerut karena terlalu pintar. Kemudian dibawakan sebuah otak orang Jepang, ia tolak juga, alasannya bahwa otak orang Jepang juga berkerut karena terlalu banyak kerja. Ketiga kalinya ia dibawakan otak orang Yahudi, ternyata ia tolak juga, alasannya otaknya juga terlalu berkerut karena terlalu banyak dipakai untuk memikirkan bagaimana mendapatkan uang yang banyak dari orang lain. Terakhir ia dibawakan otak orang Indonesia, setelah ia lihat dan memperhatikan, ia senang sekali dan setuju untuk diteliti. Ketika itu asistennya bertanya, “Prof, kok otak orang Indonesia yang mau diteliti?” Jawab sang Profesor,”Ya…, karena masih orisinil dan jarang dipakai, kalaupun dipakai baru sebelah kirinya”. (maaf ya…saya juga orang Indonesia yang merasa juga baru otak kiri yang terpakai dan berusaha untuk menggunakan otak kanannya).

Ayo menggambar, ajaklah siswa kita mencoba menggambar:

1.Bagaimana kalau menggambar becak abad 22 terbang di kota Paris?
2.Bagaimana kalau menggambar pemandangan laut di abad 25?
3.Bagaimana kalau menggambar robot bebek terbang di ruang angkasa?
4.Bagaimana kalau menggambar dengan mata tertutup?
6.Bagaimana kalau menggambar dengan tanan kidal?
7.Bagaimana kalau menggambar dengan dua tangan sekaligus?
8.Bagaimana kalau menggambar wajah sendiri dengan melihat cermin?
9.Bagaimana kalau menggambar apa ya…? (waduh sampe biengoeng nieh….)

(1 Januari 2010, GoesPrie).