Sok nih ye…

Ada tiga orang yang sedang melakukan perjalanan rekreasi menelusuri pegunungan di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, tujuannya mencapai kawasan pantai  Krakal. Perjalanan lumayan jauh, karena dengan gaya nekat jalan mulai dari kota Wonosari.  Bekal yang dibawa lumayan cukup dengan gaya turis luar negeri, menggunakan back packer, pakai sandal gunung, dua botol air mineral masing-masing orang membawanya.

Tanggal 2 Januari 2000 pukul 8.00 pagi, udara masih segar, jalanan berliku dan di sekeliling perjalanan tampak pemandangan yang lumayan indah… sekali, dihiasi dengan bukit-bukit kapur yang ditumbuhi tanaman jati dan singkong kayu. Sesekali bertemu dengan penduduk yang sedang membawa kayu bakar dari hutan. Sapaan ramah yang khas dari mereka, “badhe tindhak pundhi mas?” (terj.: mau kemana mas?), sambil senyum dan anggukan akrab dari mereka.

Pukul 11.30, waduh…persediaan air minum habis semua, minum terus…, kayak motor yang bocor mesinnya. Udara mulai menyengat apalagi sekarang musim kemarau panjang. Tempat tujuan masih jauh, sementara rumah penduduk jarang. Akhirnya ketemu juga rumah penduduk, ternyata sang pemiliki rumah menyapa kami terlebih dahulu dengan senyum dan keramahtamahan yang khas, “monggo mas, mampir riyen, ngombe-ngombe ”. (terj.:Mari mas, mampir dulu, minum-minum sebentar”. Dasar orang kota, pura-pura masih gagah dan pura-pura jual mahal, “Matur suwun, mbah…, warung ingkang cerak pundhi nggih mbah?” (terj.:Terima kasih, mbah. Warung yang terdekat dimana mbah). Pemilik rumah balas dengan ramah,” Cerak kok mas, namung sak tikungan niku”.(terj.:dekat kok mas, hanya satu tikungan itu). Kamipun mengucapkan terima kasih, dan melanjutkan perjalanan dengan perkiraan mencari tikungan dan ada warungnya.

Pukul 12.15, walah…hampir satu jam belum ketemu yang namanya tikungan dan warung. Kami berpikir su’uz zhan pada nenek tadi. Dan akhirnya kami menemukan yang namanya “sebuah tikungan jalan” dan ada warung sekaligus mushalla kecil, tepat pukul 13.35…. . Terpikir dalam benak kami “namung sak tikungan niku” (hanya satu tikungan itu)….., perjalanan masih jauuuuh.

Pengalaman kecil ketika jalan-jalan, akhirnya mendapat hikmah:

  1. Jangan sok jual mahal apalagi sok gagah ketika sedang travelling, apalagi di daerah yang belum familier bagi kita.
  2. Ramah tamah penduduk setempat merupakan bentuk keikhlasan mereka terutama di desa-desa, semoga jangan terulang lagi menyalah artikan maksud.
  3. Namung sak tikungan bisa berarti satu jam lagi kali? Sering ditemukan istilah Namung sak plinthengan (terj. Hanya satu lemparan ketapel) mungkin jauhnya satu bukit, pernah penulis ketemu istilah Namung sak pandangan mripat kae (terj. Hanya satu jarak pandangan mata itu) setelah dilakoni penulis ternyata hampir dua bukit harus dilampaui, lumayan….

(9 Januari 2010, GoesPrie).