Protesnya Siswaku

Pertama kali aku mengajar sekolah dasar tahun 1998 di sebuah sekolah di kota Yogyakarta mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa, walaupun sebelumnya sudah mengajar di tingkat SMP empat tahun. Suatu saat aku mengajar mata pelajaran Matematika di kelas empat, aku menyampaikan dengan semangat harapanku mereka paham apa yang kusampaikan beserta latihan-latihannya. Aktivitas lancar, tapi menjelang akhir pelajaran ada dua siswa putri mengangkat tangannya, saya kira mengajukan pertanyaan,”ya…silakan nak, ada apa?”.

Salah satu dari mereka berkata,”Pak…cara mengajar Bapak kurang kami sukai…kurang seru dan bosan…”.

Yang lain ikut menimpali,”iya Pak, kurang seru dan tidak enak…”. Kata-kata mereka lugu dan tanpa ekspresi emosi…. Aku kaget dan terhenyak dengan kata-kata itu, terdiam sejenak.

“Bapak marah?”, tanya mereka.

“Oh tidak, nak…”, jawabku. “menurut kalian, bagaimana yang kalian inginkan?”.

“ya…pake cerita…, keluar, atau sambil main teka-teki, atau yang lainnya…seperti itu Pak…, biar kami tidak bosan”.

“Oh….”. Mulai saat itu aku mencoba dan selalu mencoba melakukan variasi pembelajaran dan selalu bertanya kepada siswa bagaimana cara mengajarku menurut mereka.

***

Pada kesempatan lain, aku diamanahi sebagai kepala sekolah dasar. Suatu ketika aku didatangi oleh beberapa siswaku. Mereka minta izin untuk menyampaikan sesuatu, dan aku izinkan. “Pak Pri. Marah tidak, kalau kami menyampaikan sesuatu ini?”.

“Lho kok marah? Memangnya kalian ada salah?”

“Ya, Pak, kalau kami salah atau cara kami ini salah, kami minta maaf”.

“Oh ya…silahkan, sampaikan maksud kalian” Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah tulisan dan diserahkan kepada saya, lalu saya baca. Aku sempat tersenyum membaca tulisan mereka dan sesekali kupandang wajah mereka yang masih lugu, sambil melihat reaksi mereka ketika aku tersenyum. Ternyata isinya surat pernyataan siswa di kelas mereka beserta tanda tangan sebagian siswa yang ada, akan ketidakpuasan terhadap salah seorang guru yang cara mengajar, menurut mereka kurang baik dan agak kasar. Lalu saya katakan,”terima kasih atas surat ini, insya Allah, Bapak akan menindak lanjuti. Bapak bangga dengan cara kalian menyampaikan ketidakpuasan ini ketimbang kalian demonstrasi keluar kelas khan?” sambil tersenyum.

Merekapun dengan ceria keluar dari ruanganku… ya…anak-anak. Dan kejadian-kejadian ini beberapa kali terulang hingga sekarang, ketika siswa merasa kurang puas terhadap gurunya. Dan ada juga surat mereka saya simpan sebagai bentuk apresiasi langkah yang mereka lakukan. Selamat siswaku, Kalian lebih cerdas dalam menyampaikan ketidak puasan terhadap sesuatu, dan harus kalian teruskan kekritisan kalian.

(9 Januari 2010,gOEspRIE)