BIRRUL WALIDAIN

Diriwayatkan dari Abu Abdul Rahman Abdullah bin Mas’ud ra., dia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amalan apa yang paling disukai Allah SWT ?” Beliau menjawab :”Shalat tepat waktu” Aku bertanya lagi : ”kemudian apa ?” Beliau menjawab : “Birrul walidain”. Aku bertanya lagi : “kemudian apa ?” Beliau menjawab : “Jihad fi sabilillah”.

Birrul asal kata dari al birru yang berarti kebajikan sebagaimana yang tercantum dalam QS Al Baqarah (1) ayat 177 dan al walidain berarti kedua orangtua, bisa berarti orangtua kandung maupun orangtua istri/suami (mertua). Jadi birrul walidain berarti berbuat ihsan atau berbuat baik kepada kedua orangtua sebagaimana dalam Qur’an surat Al Isra’ (17) ayat 23 “wa bil walidaini ihsana”

Kedudukan Birrul walidain dalam Islam :

  1. Bahwa birrul walidain atau perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah SWT dalam al Qur’an langsung sesudah perintah beribadah hanya kepada Nya semata dan  sesudah larangan mempersekutukan Nya seperti dalam Qur’an surat Al Isra’ (17) ayat 23 : “wa’budullaha wa laa tusyrikuu bihi syai’a wa bil waalidaini ihsaanaa” dan pada ayat lain al Qur’an surat 2 ayat 83 dan surat 4 ayat 36.
  2. Allah SWT mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada kedua orangtua seperti pada 31 ayat 14 : “wa washshoinal insaana biwaalidaihi”  dan ayat 46 ayat 15.
  3. Allah SWT meletakkan perintah berterima kasih kepada kedua orangtua langsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah SWT seperti pada surat Luqman ayat 14.
  4. Rasulullah SAW meletakkan birrul walidain sebagai amalan yang disukai atau yang terbaik sesudah sholat tepat waktu.
  5. Rasulullah SAW meletakkan ‘uququl walidain (durhaka kepada kedua orangtua) sebagai dosa besar nomor dua sesudah syirik kepada Allah sebagaimana yang diriwayat oleh Abu Bakrah Nufa’I ibnu al Harits ra, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tidakkah akan kuberitahu kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?”. Beliau mengulanginya pertanyaan tersebut hingga tiga kali. Kemudian para shahabat mengiyakan. Lalu Rasulullah SAW menyebutkan : “ yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada Ibu Bapak”. Kemudian beliau merubah posisi duduknya yang semula bersitelekan menjadi duduk biasa dan berkata lagi : “Begitu juga dengan perkataan dan sumpah palsu”. Beliau mengulangi lagi hal demikian hingga kami mengharapkan mudah-mudahan beliau tidak menambah lagi. (Mutafaq alaihi)
  6. Rasulullah SAW mengaitkan keridhoan dan kemarahan Allah SWT dengan keridhoan dan kemarahan orangtua (ridhor robbi fii ridholwaalidi wa sukhthur robbi fii sukhthul waalidi) (HR Tirmidzi)

Bentuk-bentuk birrul walidain antara lain adalah :

  1. Mengikuti keinginan dan saran mereka/kedua orangtua dalam berbagai aspek kehidupan sebagai catatan selama itu sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana yang tertera dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 15 dan dalam hadits Rasulullah SAW : “ tidak ada ketaatan dalam maksiyat kepada Allah, ketaatan hanyalah semata-mata dalam hal yang ma’ruf” (HR.Muslim). Jadi kalau itu bertentangan dengan aspek syari’ah harus ditolak dengan cara ma’ruf sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as ketika diperintah ma’syiat oleh ayahnya.
  2. Menghormati dan memuliakan kedua orangtua dengan penuh rasa terima kasih, hormat, kasih sayang kepada keduanya yang tidak mungkin bisa dinilai jasa-jasanya dengan apapun (QS.31:14; 17:23). Memanggilnya dengan panggilan yang menunjukkan hormat, bicara lemah lembut, tidak kasar, pamit bila pergi, memberi khabar kita dan menanyakan khabarnya dan masih banyak lagi amal kita yang menyebabkan kedatangan keridhoan mereka.
  3. Membantu mereka secara fisik maupun financial bila sudah mampu. Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa betapapun banyak uang atau harta untuk mereka tidak sebanding dengan jasanya. Rasulullah bersabda : “Tidak dapat seorang anak membalas budi kebaikan ayahnya kecuali jika mendapatkan ayahnya tertawan menjadi budak sahaya yang hina kemudian ia tebus dan dimerdekakan”. Apalagi terhadap ibu dengan bandingan 3 banding 1 terhadap bapak.
  4. Selalu mendo’akan mereka dalam kebaikan dunia dan akhirat serta mohon ampunan kepada Allah untuk mereka berdua.
  5. Bila mereka sudah meninggal masih banyak kewajiban kita terhadap mereka seperti menyelenggarakan atau merawat jenasah secara baik, melunasi semua hutang-hutangnya, melaksanakan wasiyatnya (asal tidak bertentangan dengan syari’at Allah), meneruskan silaturahmi yang dibinanya diwaktu masih hidup serta memuliakan para shahabat-shahabat mereka dan selalu mendo’akan mereka sebagaiman sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dapat melakukan Birrul walidain dan selalu diridhoi Allah setiap amal-amal yang kita lakukan.

lihat juga di www.alfurqon.or.id

(17 Januari 2010, GoesPrie)