Membina Keluarga dengan Konsep Al Fatihah

Siapa sih yang tidak ingin berkeluarga? Atau siapa sih, yang sudah berkeluarga tidak ingin keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah? Banyak teori dan teori tentang membentuk keluarga yang sakinah, ada yang berhasil dan ada yang masih merangkak menuju ke cita-cita itu, atau ada juga yang masih jauh dari angan-angan.

Ketika membina keluarga adalah konsekuensi sebuah pernikahan yang tidak lepas dari segala macam ujian (pen.: ujian obyektif atau subyektif ya, mas?). Ada yang menikah berangkat karena sebuah persamaan (pen.: emangnya persamaan matematika ya…), tetapi ketika sudah berjalan tali pernikahan itu justru yang terjadi banyak perbedaan-perbedaan yang didapat, akhirnya diperdebatkan, dan akhir ceritanya unhappy ending. Tragis…lalu menangis…menjadi sebuah penyesalan diri.

Kita sholat sehari semalam, minimal tujuh belas rakaat bila tidak mengadakan perjalanan jauh….sekali. Dari tujuh belas rakaat itu belum ditambah dengan shalat nawafilnya dengan sekian rakaat. Dalam tiap rakaat pasti kita baca sebuah surat yang sering dibaca berulang-ulang, yang sesuai dengan nama surat, yaitu Surat Al Fatihah. Banyak yang dapat digali dari surat ini, sampai-sampai seorang mufasir Indonesia membuat sebuah buku tafsir surat Al Fatihah dengan nama Samudera Fatihah. Barangkali saking luasnya yang dapat ditafsir dan dijelaskan dari berawal surat ini. Dan surat ini merupakan muqadimah dari Al Qur’an, sekaligus sebagai sebuah ringkasan yang LUAR BIASA padat makna dari surat-surat yang lainnya, dan LUAR BIASA padat makna akan sendi-sendi kehidupan manusia.

Ketika ingin membangun sebuah keluarga, dapatlah juga kita melihat dengan atau dari sudut pandang surat Al Fatihah. Konsep yang ada dalam surat ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan membangun sebuah keluarga sakinah. Saya tidak mengatakan ini tafsir pribadi, tapi sebuah perenungan dari setitik makna di antara samudera makna yang terkandung dalamnya. Mulai dari bacaan Basmalah hingga penutup dengan bacaan pengabulan harapan, semuanya penuh makna yang Subhanallah…LUAR BIASA.

Marilah kita coba dengan kedangkalan ilmu yang dimiliki ini, untuk merenungi makna yang ada secara sederhana dan aplikatif bagi kehidupan berkeluarga.

    • Bacaan Basmalah

      Ketika memulai sesuatu kita diwajibkan memulai dengan mengawalinya atas nama Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Secara universal, agama manapun biasanya juga ketika akan melakukan sesuatu, pasti memulai dengan izin kepada yang memiliki dirinya atau pemilik alam ini, dalam hal ini tidak lain adalah Sang Pencipta, Allah SWT. Bahkan secara syariat Islam, bila tidak memulai dengan bacaan basmalah maka amalnya tertolak alias tidak bernilai di sisi Allah.

      Apalagi ketika akan membangun sebuah bangunan keluarga yang diikat dengan namaNya pernikahan maka sudah seharusnyalah mengawali dengan izin dari Sang Pencipta, Allah SWT. Bukan dengan yang lainnya untuk meluruskan segala sesuatu yang menyertainya. Pilihan calon pasangan hidup kriteria yang dipilih terwarnai dengan nilai ilahiyah. Diketahui, kriteria pasangan hidup ada empat menurut Rasulullah yaitu karena kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Bila yang dipilih yang terakhir atau dengan nilai ilahiyah maka tiga yang awal akan terwarnai. Kekayaannya bukan dalam bentuk materi semata melainkan kekayaan hati dan kekayaan ilmu yang lebih melanggengkan pernikahan, kalaupun mendapat kekayaan materi itu merupakan nilai tambah saja. Nasab keturunannya bukan dalam hal nasab kebangsawanan atau kedudukan yang dimiliki oleh orangtuanya melainkan nasab keturunan orang-orang sholeh menjadi prioritas pilihan. Kecantikan yang didapat bukan semata-mata kecantikan fisik, melainkan kecantikan yang terpancar dari akhlaknya (inner beauty).

      Awalan basmalah merupakan pembuka dari segala pilihan dan pijakan sehingga seseorang hendak membangun bahtera rumah tangganya terpagari oleh rambu-rambu ilahiyah sekaligus kontrol bagi diri dan pasangan hidupnya dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Konsep bacaan Basmalah adalah konsep kunci pembuka keberkahan dan keridhoan yang memiliki alam semesta ini.

      • Bacaan Hamdalah

        Konsep bacaan Hamdalah adalah konsep syukur. Dalam kehidupan rumah tangga bila tidak ada konsep syukur yang dikembangkan maka yang ada adalah kesia-siaan kehidupan dan kekufuran terhadap nikmat. Hal yang wajar ketika berkeluarga harus terjamin sandang, pangan dan papan (aman, nyaman dan nyam-nyam), ditambah lagi sesuatu pelengkap lainnya seperti fasilitas untuk mobilitas usaha, dan harta investasi sebagaimana tersirat dalam QS. Ali Imron ayat 14. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang terjebak ke dalam konsep materialistik buta tanpa landasan, yang mengabaikan konsep ilahiyah.

        Janji Allah jelas, bahwa ketika bersyukur maka nikmat akan bertambah (QS. Ibrahim ayat 7) tapi diimbangi juga dengan konsep berbagi karena banyaknya nikmat yang diberikan (QS. Al Kautsar ayat 1-2). Suami bila memiliki konsep syukur akan memudahkannya mencari rizki, istri bila memiliki konsep syukur akan melanggengkan rasa cinta kasih dari suami, dan anak bila memiliki konsep syukur akan mendapatkan keridhoan dari kedua orangtuanya. Lihat betapa banyaknya contoh, ketika suami tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam kesulitan kehalalan rizki dan menjadi hamba harta sekaligus hamba istri. Ketika istri tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam hawa nafsu materialistik dan tidak amanah terhadap amanah suami. Dan anak, ketika tidak memiliki konsep syukur, akan merongrong wibawa dan harta orangtua walaupun orangtuanya masih hidup terlebih lagi bila sudah tiada.

          • Bacaan Ar Rahman dan Ar Rahim

            Konsep bacaan Ar Rahman dan Ar Rahim adalah konsep kasih dan sayang. Dengan mengagungkan asma Allah Yang Maha Kasih dan Yang Maha Sayang, sebagai aplikasi kehidupan berkeluarga juga harus menumbuh konsep turunan asma ul husna tersebut. Kehidupan berkeluarga akan menjadi gersang bila tidak ada nilai-nilai kasih dan sayang, yang ada dan tumbuh adalah kehidupan dalam hasad, hasud, iri, dengki, curiga dan kebencian.

            Kata Rasulullah bahwa rumah yang bahagia adalah rumah  tercipta seperti syurga di dunia, Baitii Jannatii, rumahku syurgaku. Saling percaya, saling terbuka, saling memberi, saling berbagi menjadi bagian kehidupan keluarga dengan sinar surgawi.

              • Bacaan Maaliki Yaumiddin

                Konsep Maaliki Yaumiddin adalah konsep manajemen keluarga yang berorientasi akhirat. Suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, istri merupakan pemimpin bagi amanah yang diberikan suaminya, dan anak merupakan pemimpin bagi fungsi kedudukannya. Kesemuanya itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Setiap langkah yang dilakukan dalam menjalankan bahtera keluarga sebagai fungsi manajemen selalu berorientasi akhirat, agar mendatangkan keselamatan dan kenyamanan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

                  • Bacaan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in

                    Konsep bacaan ini adalah konsep pelaksanaan kewajiban baru kemudian hak, bukan pelaksanaan hak dulu baru kewajiban. Orang sering terjebak dalam hal hak dan kewajiban, banyak orang sering menuntut hak tapi lupa akan kewajiban. Dalam keluarga sering terjadi gesekan dan gonjang ganjing kehidupan karena tiap individu selalu menuntut hak. Suami menuntut haknya sebagai suami lupa kewajibannya sebagai seorang suami, isteri selalu menuntut hak sebagai isteri tapi lupa akan kewajibannya sebagai seorang isteri. Banyaknya perceraian dan percekcokan dalam keluarga dikarenakan banyaknya penuntutan hak yang tidak diimbangi dengan penunaian kewajiban. Tumbuh dan berkembang kekecewaan demi kekecewaan akibat tidak terpenuhi tuntutan hak. Ingatlah sebuah pepatah, tunaikan kewajiban maka hakmu akan terpenuhi.

                      • Bacaan Ihdinas Shirathal Mustaqiim

                        Konsep bacaan Ihdinas Shirathal Mustaqiim adalah konsep ilmu, ilmu yang benar bukan ilmu berdasarkan asumsi atau anggapan. Ketika membangun keluarga tidak mungkin dibangun dengan sebuah atau beribu asumsi melainkan berdasarkan ilmu, petunjuk dan arahan. Ilmu, petunjuk dan arahan seperti apa, yang jelas adalah ilmu, petunjuk dan arahan yang membawa bahtera keluarga ke arah ketenangan dan kelanggengan sesuai arahan Sang Pencipta.

                        Sebuah keluarga haruslah aktif dalam hal pencarian ilmu, petunjuk dan arahan. Namanya saja mohon petunjuk, berarti ada unsur keaktifan sebuah usaha pencarian. Ilmu merupakan landasan amal, bila amal tidak dilandasi ilmu maka sia-sia. Ilmu untuk menjalankan bahtera keluarga perlu agar tidak sia-sia dalam mengarungi samudera kehidupan berkeluarga.

                        Banyak model dan type keluarga yang Allah SWT berikan contohnya, baik melalui ayat kauniyah yang ada di sekitar, atau sebuah perjalanan sejarah yang tercatat dalam kalamNya. Baik itu contoh pada manusia maupun kehidupan makhluk Allah lainnya seperti hewan. Terkadang manusia tidak mau mengambil pelajaran (ibroh) dari alam berkenaan dengan kehidupan keluarga, sehingga ia tersesat di dalam hutan petunjuk, atau layaknya si buta yang memegang peta.

                          • Bacaan Sirathal ladzina an’amta ‘alaihim, Ghairil Maghdhubi ‘alaihim  Waladh dhaaliin

                            Konsep bacaan ini adalah konsep model atau contoh aplikasi ilmu berkeluarga. Ada tiga kelompok contoh keluarga menurut konsep ini, yaitu keluarga sukses dunia akhirat, keluarga yang dibenci dan tersesat.

                            Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu belajar ilmu dan mengamalkan dengan landasan ilmu. Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu mengambil pelajaran dari sejarah atau kauniyah keluarga yang ada di sekitarnya. Keluarga yang sukses dunia akhirat adalah keluarga yang memperoleh kenikmatan hakiki karena dilandasi dengan ilmu dan keimanan, serta selalu memperbaiki diri dan keluarganya agar keselamatan tercurah kepada seluruh anggotanya. Mereka selalu selektif dalam hal apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

                            Keluarga yang dibenci dan tersesat adalah keluarga yang tidak mengikuti petunjuk bahkan menjauhi petunjuk. Menjalankan bahtera kehidupan berkeluarga yang sekiranya menguntungkan kehidupan dunianya semata tanpa peduli arahan ilmu. Keluarga yang semau gue, tidak mengindahkan kaidah kehidupan, tidak selektif terhadap apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

                              • Bacaan Amin

                                Konsep bacaan Aamiin, adalah konsep pengharapan. Pengharapan kepada sesuatu zat yang menguasai alam ini yaitu Allah SWT. Ketika keluarga berharap kepada Zat Yang Maha Pengabul Segala Harapan, ia akan termotivasi dan tidak akan pernah kecewaan terhadap segala keputusan yang diterima. Berbeda ketika keluarga berharap kepada makhluk yang selalu mengecewakan harapan-harapan, yang tumbuh adalah sikap apatis terhadap kehidupan dan terjebak ke dalam kehampaan kehidupan.

                                Sebenarnya masih luas dan lebar  makna yang terkandung tetapi karena keterbatasan perenungan dan ilmu yang dimiliki, maka hanya demikian penjelasannya. Saya jelaskan sekali lagi ini merupakan sebuah perenungan dari setitik pemaknaan di antara samudera pemaknaan yang tak terjangkau oleh akal saya, semoga bermanfaat bagi saya dan semua.

                                (Materi Ceramah Walimahan tanggal 17 Januari 2010, GoesPrie)