Janji itu, Kok belum terwujud?

Sebagai manusia pasti menginginkan segala sesuatu kebutuhannya terpenuhi, kebutuhan sandang, pangan dan papan, minimal. Itu merupakan kebutuhan minimal, kebutuhan aman, nyam-nyam dan nyaman. Dan ketika kebutuhan minimal sudah terpenuhi maka pasti memiliki keinginan berikutnya yaitu yang bersifat tambahan seperti untuk harta simpanan (tabungan, deposito, perhiasan, dan lainnya), keperluan mobilitas aktivitas (kendaraan), dan terakhir harta investasi usaha (ternak, pertanian atau perkebunan). Ini digambarkan jelas dalam surat Ali Imron(3) ayat 14, dan sekaligus sebagai bentuk perhiasan dunia atau kesenangan dunia.

Kalau ditilik dari sebuah janji Sang Pencipta adalah sebuah kepastian, bukan sebuah hal yang relatif atau nisbi atau ketidakpastian sebagaimana bila manusia sebagai makhluk yang berjanji. Bila Sang Pencipta Allah SwT berjanji pasti dan disertai dengan syarat tertentu demi untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk Allah. Hal ini karena Allah Maha Kaya dan tidak perlu syarat untuk dirinya melainkan untuk manusia sendiri.

Salah satu janji Allah berkenaan dengan pemenuhan janji dan kebutuhan manusia adalah seperti yang terdapat pada surat An Nahl(16) ayat 97 “man ‘amila shalihan min dzakarin au untsa wa huwa mu’min, falanahyiyannahu hayaatan thayyibatan, walanajziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun”, yang artinya “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan mereka itu beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Dari ayat di atas jelas, ada dua syarat dan dua hasil yang dicantumkan Allah, yaitu:

Syarat pertama, beramal shaleh (berbuat baik), syarat kedua beriman, dan hasilnya adalah mendapatkan rahmat Allah di dunia dan atau mendapatkan rahim Allah di akhirat. Dari empat entry tersebut dapat dikombinasikan menjadi beberapa hasil, yaitu:

  1. Bila seseorang beramal shaleh dan beriman.
  2. Bila seseorang beramal shaleh tapi tidak beriman.
  3. Bila seseorang tidak beramal shaleh dan tidak beriman.
  4. Bila seseorang tidak beramal shaleh tapi tetap beriman.

Keempat kombinasi ini bisa menghasilkan hasil yang berbeda-beda, dan pada tulisan ini dicoba hanya membahas bagian pertama dan kedua.

Coba lihat poin kedua, dimana seorang tidak beriman tapi beramal shaleh (berbuat kebaikan-kebakan) terkadang justru kehidupan di dunianya (rahmat Allah) banyak tercurah kepada mereka, dan sedikit diantara mereka tidak mendapatkan kelayakan hidup di dunia. Hal ini sering menjadi godaan tersendiri bagi orang-orang beriman, dalam pikiran mereka, mereka yang tidak iman kok sukses, sementara kami yang beriman tidak mendapatkan kebahagian di dunia, kesusahan demi kesusahan dan kesulitan demi kesulitan yang didapat. Walaupun dalam pikiran mereka tahu bahwa mereka tidak mendapatkan rahimnya Allah, keridhoan Allah di akhirat. Dalam kepragmatisan manusia, mengapa hal ini terjadi? Dimana letak keadilan Tuhan di dunia? (mereka jarang melihat sebuah keadilan yang hakiki, karena sedikitnya ilmu untuk memahami demikian, dan mohon dimaklumi).

Sebagai oposit keadaannya yang terjadi adalah, ketika seorang beriman dan beramal shaleh (berbuat kebaikan-kebaikan) terkadang jarang terpenuhi kehidupannya di dunia. Walaupun mereka punya keyakinan bahwa bisa jadi di akhirat mereka mendapatkan keridhoan Allah. Ada apa? Atau apa yang salah? Atau salah paham memahami ayat?

Sebagai seorang beriman tetaplah berprasangka baik alias husnuzzhan terhadap apa yang diberikan Allah, ridho terhadap keputusan Allah sehingga dalam menjalani kehidupan akan ringan dan selalu semangat. Mari kita kupas, ada apa maksud tersembunyi alias rahasia yang terkandung dalam realitas kehidupan ini, dan jangan sampai pula kita hanya ”merasa”. Merasa sudah beramal shaleh (berbuat kebaikan-kebaikan) atau malahan merasa sudah beriman. Ada beberapa hikmah yang terkadung di dalam makna belum terwujudnya janji Allah, antara lain:

1. Bisa jadi Allah tunda waktunya

Ketika kita berharap janji itu turun tapi tidak kunjung diturunkan, ketika kita berharap balasan itu turun dari Allah tapi tidak datang juga. Adalah Hak Allah kapan sebuah balasan akan diturunkan atau diberikan. Waktu ketika di dunia, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau beberapa tahun lagi. Dan bisa jadi Allah tunda hingga hari kiamat, sebagai bentuk tabungan amal bagi seorang mu’min sekaligus sebagai kejutan baginya. Ia tidak menyangka ketika di akhirat diberikan Allah bentuk balasan yang tak terkira sehingga mendatangkan syafaat Allah dan sekaligus memudahkannya menuju ke syurga Allah. Dengan adanya demikian hikmahnya adalah agar kita selalu termotivasi untuk selalu beramal, tidak sekedar memilih waktu atau saat, tetapi termotivasi beramal sepanjang masa (long life amaliyah/long life the best doing for all).

Ada sebuah cerita seorang kakek yang berumur lanjut sedang menanam biji korma dengan sungguh-sungguh. Kakek tersebut ditanya oleh seorang khalifah, “Wahai kakek, mengapa engkau menanam korma dengan sungguh-sungguh padahal engkau sudah lanjut usia dan tidak ada keluarga dan kapan engkau akan memanennya”. Sang kakek menjawab dengan semangat,”Siapa tahu tanaman korma ini bermanfaat bagi orang lain walupun aku sudah tiada dan aku akan memanennya di akhirat”. Bayangkan seorang kakek yang lanjut usia tetap bersemangat untuk melakukan sebuah amal yang bisa jadi menurut pandangan orang sia-sia.

2. Bisa jadi Allah ganti bentuk balasannya

Sebagai hak prerogatif Allah untuk memberikan macam bentuk balasan untuk hambaNya ketika bermohon sesuatu. Seseorang terkadang terjebak ke dalam satu atau beberapa amal shaleh saja, atau amal kebaikan saja, atau bentuk amal ibadah saja. Mereka seolah merasa cukup dengan apa yang dilakukannya dan berharap balasan yang banyak dan bermacam-macam. Bahkan terjebak dalam hitungan-hitungan jumlah amalan untuk mendapatkan suatu balasan. Ketika shalat, hitung-hitungan jumlah rakaat. Ketika zikir, hitung-hitungan jumlah wiridnya. Ketika shadaqah, hitung-hitungan jumlah yang akan kembali padanya (walaupun dalam Al Qur’an mencantumkan demikian, sebagai contoh surat Al An’am (60) ayat 160 bahwa satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan). Berapa kali ia naik haji, berapa banyak anak yatim yang ia santuni dan sebagainya.

Sebenarnya ketika kita beramal tidak perlu hitung-hitungan, cukuplah Allah Maha Menghitung (Al Hisab) apa yang kita lakukan. Hikmah yang terkandung adalah agar kita selalu memvariasi bentuk amal yang kita lakukan, dan tidak terjebak dalam bentuk hitungan jumlah amal atau wiritan. Kita tidak tahu amal mana yang kita lakukan yang menjadi keutamaan bagi kita di sisi Allah, sehingga mendatangkan keridhoanNya.

3. Bisa jadi Allah tukar manfaatnya

Mudah bagi Allah untuk merubah manfaat balasan dari suatu amal seseorang, dan menurut Ilmu Allah justru itu bermanfaat dan dibutuhkan bagi hambaNya. Seseorang bersemangat dalam beramal dan bervariasi dalam bentuk amalnya tetapi ia tidak tahu fungsi dan manfaat amal itu secara luas bagi dirinya. Terkadang manusia berpikir pragmatis, semisal ketika ia sholat balasannya pasti tambah pahala dan penghapus dosa, titik. Ketika ia bershadaqoh, pasti akan menambah jumlah harta dan keberkahan harta. Padahal itu adalah manfaat minimal sebuah amal, bagaimana berubah menjadi sebuah keunggulan sebuah amal jarang terpikir. Allah Maha Tahu kebutuhan hambaNya, (ya…jelas dong Allah khan penciptanya, masak tidak tahu kebutuhannya). Allah lah yang mengatur bentuk manfaat dari amal yang dilakukan sang hamba, sesuai kebutuhan yang lebih dekat yang sedang dan sangat dibutuhkan sang hamba, terserah Allah. Berbicara keunggulan sebuah amal, semua amal memiliki keunggulan masing-masing dan bagaimana seorang hamba menjadikan amal tersebut menjadi keunggulan amaliyah baginya.

Hikmah yang terkandung bahwa kita harus selalu melihat bagaimana amal yang kita lakukan menjadi keunggulan amaliyah bagi kita. Bagaimana sebuah amal berbobot bagi kita, bukan hanya sekedar gugur kewajiban dalam beramal, yang penting sudah sholat, atau yang penting sudah zakat, atau yang penting sudah tobat…. Bukankah Allah sudah menyatakan dalam surat Tabarak (67) ayat 2 yang disebutkan bahwa Allah jadikan peristiwa kematian dan kehidupan, dalam rangka menguji siapa di antara hambaNya yang paling berkualitas/berbobot amalnya (ahsanu amalan).

4. Bisa jadi Allah beri sebuah atau banyak ilmu, hikmah, ilham bahkan petunjuk darinya

Ketika Allah memberikan suatu ilmu atau hikmah kepada hambaNya, berarti seorang hamba tesebut mendapatkan sebuah kemuliaan. Kemuliaan disini maksudnya adalah mendapatkan sebuah manfaat yang berguna baginya, amalnya, kehidupan akhiratnya, dan bagi orang lain. Sedikit orang yang mendapat hikmah karena kebutaan mata hati dalam melihat ayat-ayatNya. Padahal hikmah bertebaran di seantero jagad raya. Sedikit orang yang mendapat ilmu karena akalnya sudah dikotori oleh keduniaannya semata, sehingga banyak orang berilmu tapi seperti zombi, merusak dirinya dan membuat takut bagi orang lain. Banyak orang pinter tapi minteri. Banyak oang cerdas akalnya tapi ngakali orang lain.

Banyak orang melakukan amal tetapi tidak mendapatkan apa-apa untuk dirinya sendiri apalagi sebuah petunjuk, yang akan menyelamatkan kehidupan di dunia dan akhirat. Target keselamatan menurut al Qur’an ada tiga, sebagaimana surat Maryam (19) ayat 33, yaitu keselamatan ketika kita dilahirkan, saat kita diwafatkan dan saat kita dibangkitkan kembali. Kelahiran sudah kita lalui, tetapi kematian dan kebangkitan belum kita lalui, padahal itu merupakan sebuah kepastian yang belum terjadi. Ketika ia mendapatkan ilham untuk berbuat banyak kebaikan-kebaikan maka ia sudah mendapatkan sebuah petunjuk dari Allah.

Dari hal demikian maka kita akan selalu merenungi dari setiap amal yang dilakukan dan selalu mengambil pelajaran darinya, bahkan mengamati setiap amal yang dilakukan orang lain dalam rangka merenungi hikmah-hikmah yang terkandung, dan akhirnya petunjuk Allah-lah yang ditemukan.

5. Bisa jadi Allah inginkan kita bermuhasabah/introspeksi diri

Selain di atas, bisa jadi Allah inginkan kita selalu bermuhasabah terhadap setiap amal yang dilakukan, untuk memperbaiki motivasi, variasi, bobot amal yang dilakukan. Dapat ditemukan banyak hasil muhasabah, antara lain:

  1. Kita kurang bersyukur, sehingga melatih diri kita untuk selalu bersyukur apa yang kita dapat, apa yang kita terima dari Allah, sekalipun menurut ukuran kita, balasan itu kecil.
  2. Kita selalu memperbaiki amal yang kita lakukan setiap saat, dan tidak merasa puas dari apa yang kita lakukan.
  3. Agar kita mendapatkan nilai pahala sabar di sisi Allah dengan bentuk keputusan Allah yang ditetapkan pada kita.
  4. Agar kita dapat berpikir dan bertindak dengan pola hasil berlipat (multi level): multi level pahala, multi level keridhoan, multi level ampunan dari Allah SwT. Masa hidup kita singkat, bagaimana dengan waktu sesingkat ini menghasilkan sesuatu yang optimal bagi keselamatan ketika kita diwafatkan dan ketika kita dibangkitkan kelak.

Janji Allah adalah pasti dan merupakan suatu kepastian yang pasti, dan tidak pula teringkari karena Allah Maha Menepati Janji. Kelengkapan hidup dunia adalah suatu kepastian kebutuhan sebagai manusia, tetapi kelengkapan hidup akhirat adalah suatu kepatian kebutuhan hakiki bagi manusia. Keselamatan akhirat juga tergantung di dunia karena kita hidup di dunia, maka manfaatkan kehidupan ini agar menuai manfaat di akhirat kelak.

(27 Januari 2010, sebuah perenungan perjalanan hidup, GOESpRIE)