Masalah Kreatifitas Guru

Guru terkadang mengeluh ketika fasilitas untuk mendukung proses pembelajarannya tidak ada, terkadang mempengaruhi kinerja dan motivasinya untuk mengajar. Ada seorang dosen bercerita tentang kasus guru ini, begini ringkas ceritanya:

Di suatu sekolah kedatangan tamu dari tim peningkatan mutu pendidikan, kemudian karena sebuah kesempatan yang baik diadakanlah sedikit tanya jawab. Guru-guru mengeluh karena media pengajaran kurang dan tidak mendukung proses pelajaran. Tim menginventaris permasalahan dan memberikan sebagian solusi dengan akan dikirim bantuan alat peraga supaya dapat membantu proses belajar. Setahun kemudian tim mencoba datang kembali sekaligus akan mencek dan memonitor proses pelaksanaan pembelajaran serta penggunaan media yang sudah dikirim. Alhasil, media yang terkirim ternyata masih menumpuk, bahkan ada sebagian yang rusak. Ketika ditanyakan mengapa demikian, mereka menjawab “takut rusak”. Tim monitor hanya menghela nafas atas kejadian tersebut.

Pada kasus lain, sering guru mengeluh akan media pembelajaran padahal bahan baku media sangat banyak. Yang terpikir adalah media pembelajaran perlu selalu tersedia dan baru, atau selalu yang bisa dibeli dengan harga yang cukup mahal. Padahal guru jarang berpikir mengoptimalkan potensi kreatifitasnya dalam pemanfaatan dan pembuatan media belajar. Pola pikir ini merupakan pola pikir lama bahwa segala sesuatu menunggu dari atasan, menunggu kiriman, menunggu bantuan, menunggu uluran, menunggu dan menunggu. Jarang terpikir sebuah solusi alternatif bila tidak ada, atau belum tersedia. Jarang terpikir solusi melalui sebuah kreatifitas dan inovasi yang berkembang dalam dirinya. Wajarlah banyak siswa yang tidak muncul kreatifitasnya, karena banyak guru yang kurang kreatif. Wajar banyak siswa selalu menunggu bantuan dalam hasil belajarnya, karena banyak guru yang selalu mengharap bantuan dan uluran. Ayo kembangkan pola kreatif, inovatif dan motivatif dalam pembelajaran. Terkadang mereka mencampur adukan dengan masalah kesejahteraan….(wajar…dalam satu sisi, maaf saya juga GURU)

(27 Januari 2010, GoesPrie)