Perlakuan Guru

Ada tiga siswa sebuah SMP dihukum karena ketahuan merokok oleh guru bidang kesiswaan. Mereka dihukum berdiri (setrap) di halaman sekolah sambil diberi nasehat panjang lebar oleh sang guru. Tiba-tiba melintas seorang guru lain yang lebih senior (maksudnya: paling tua) jalan dengan santainya sambil merokok. Pemandangan ini membuat acara pengadilan siswa yang terhukum sedikit terusik, dengan terlihat dari pandangan mata antar mereka, termasuk sang guru yang berperan jakim (alias jaksa hakim). Agar tidak merubah suasana pengadilan kecil ini, sang guru menyela kalimat lain sebagai sebuah toleransi,” Silahkan kalian mau merokok, kalau sudah bisa menghasilkan uang sendiri”.

Diluar dugaan, ternyata salah satu siswa tadi kalau tidak sekolah atau pulang sekolah , ia jadi loper koran, menyeletuk, “Pak, berarti saya dibolehkan dong, karena saya jualan koran yang berarti sudah bisa menghasilkan uang sendiri”.

Dasar (maaf, sekali lagi maaf, saya pakai kosa kata ini) guru yang bisa dan tetap berkilah agar wibawa tidak hilang, “kamu kan masih sekolah!”, sambil sedikit mengusik kepala siswa dengan tangannya.

Siswa tadi hanya diam sejuta bahasa… (bentuk protes yang terpendam atau protes yang berdendam).

Dari peristiwa ini, kita tidak tahu kelanjutannya, apa yang terjadi ketika siswa itu setelah dewasa, atau bentuk penilaian terhadap dunia pendidikan pada saat itu, atau bentuk penilaian terhadap para guru yang berlaku ambivalen. Ini sebuah cuplikan peristiwa. Mengapa banyak kasus merokok terjadi pada siswa sekolah, kasus penggunaan NAPZA juga terjadi di dunia pendidikan yaitu pada siswa sekolah. Saya masih ingat sebuah kata pepatah : ”Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” atau kata pepatah itu diganti “Guru mengisap merokok, murid mengisap ganja”. Dan jangan bayangkan bila pepatah tadi berkembang menjadi: “Guru kencing berlari, murid …” dan akhirnya “Guru mengisap ganja, murid …”.

AYO BEBASKAN DUNIA PENDIDIKAN DARI ROKOK

(27 Januari 2010, GOESPrie)