Generasi Siap (Buka Lowongan) Kerja

Membaca sebuah iklan di sebuah harian ibukota dengan bunyi “DICARI: GENERASI SIAP (BUKA LOWONGAN) KERJA”, saya langsung mengerutkan kening dan berpikir, “Apa bisa?”. Kalau dilihat dari kacamata orang nyleneh dan para pemimpi, PASTI BISA. Dan sebaliknya bila dilihat kacamata orang pragmatis dan orang bermimpi, BELUM TENTU BISA. Mengapa?

Mari kita berkaca kelompok mana kita. Banyak orangtua inginkan anaknya lulus dengan lulus terbaik, maka selain menyekolahkan anaknya di sekolah pada umumnya, mereka juga mengkursuskan anaknya di tempat kursus yang bonafit (mengapa tidak di sekolah bonafit saja ya…?). Harapan mereka, anaknya dapat lolos dari sebuah saringan yang paling ditakuti di Indonesia dengan nama UJIAN NASIONAL. Selamat ya…bagi Lembaga Kursus atau Lembaga Bimbingan Belajar (apalagi dengan jaminan 100% lulus UN, kalau tidak uang dijamin dikembalikan). Keberhasilan UN (pendidikan?) tidak lepas dari keberhasilan Anda. Lembaga sekolah formal jangan memble dengan pujian ini.

Ternyata proses ini bak gayung bersambut, sebagian besar lembaga sekolah formal seolah kehilangan kepercayaan dirinya. Banyak yang menyarankan siswanya mengikuti bimbingan belajar, bahkan mengadakan bimbingan belajar di sekolah agar nantinya lulus dalam UN. Guru-guru pun kehilangan sentuhan mendidiknya, mereka terlibat dan larut dalam kegiatan bimbingan belajar yang memfasilitasi siswa untuk menghadapi UN. Ya…hitung-hitung tambahan untuk “asap” di rumah.

Ketika ditelisik lagi, ternyata mengikuti pepatah “setali tiga uang”, siswanya pun kehilangan kepercayaan diri pula. Mereka bersibuk ria untuk ikut kursus bimbingan belajar dengan berjam-jam, kalau bisa izin tidak masuk sekolah hanya karena untuk mengikuti bimbingan belajar. Tujuannya, sama dengan tujuan orangtua mereka, sekolah mereka dan para guru mereka. Hal yang paling ditakutkan bila mereka tidak lulus UN, apa kata tetangga?.

Akhirnya pepetah “setali tiga uang” berubah menjadi “setali beruang-uang”, dinas pendidikan tingkat daerah bersaing bahwa daerahnya telah sukses dalam meluluskan lulusan siswa di daerahnya dengan angka-angka persentase fantastis! Wallahu a’lam, berapa biaya atau berapa banyak strategi yang diterapkan untuk melaksanakan pencapaian target angka persentase fantastis tersebut. Sehingga mengorbankan banyak perasaan hingga mengharu biru dunia pendidikan Indonesia.

Pernah suatu ketika, saya dalam sebuah seminar menyampaikan sebuah pokok pikiran ekstrim, kalau begitu standar isi untuk kelas terakhir tidak perlu disampaikan atau tidak perlu dibuat, cukup buat strategi rancangan belajar menghadapi UN saja sudah cukup. Tapi apa jawaban tanggapan pendapat saya itu, sambil berbisik disampaikan, “ya…bagi-bagi rezekilah…”.

Ya…akhirnya kembali kepada kebutuhan pragmatis…yang penting lulus UN, dapat masuk ke perguruan tinggi yang terkenal dan akhirnya ketika lulus, HANYA JADI PEGAWAI, yang berharap secuil fasilitas pensiun. Maaf, sekali lagi maaf. Saya pernah membaca pendapat seorang pengusaha, kalau tidak salah Pak Ciputra, yang mengatakan bahwa sebuah negara dapat maju bila ditopang oleh para sosok entreprenuer minimal dua persen dari jumlah penduduknya. Indonesia berpenduduk lebih dari dua ratus juta berarti bila dua persennya adalah empat juta orang harus sebagai sosok entreprenuer. Indonesia sudah ada berapa orang entreprenuer?. Mengapa butuh orang-orang demikian, jawabannya adalah karena mereka adalah orang-orang nyleneh dan para pemimpi yang berani berbuat sesuatu yang orang lain tidak berani melakukannya, dan mereka mengatakan SAYA BISA.

Orang-orang seperti mereka inilah yang cocok dengan iklan di atas, yang sebagai Generasi Siap Buka Lowongan Kerja, buka sekedar Generasi Siap Kerja. Kenyataannya banyak lulusan S1 dan S2 masih menganggur, apalagi yang hanya tamat sekolah lanjut tingkat atas! Mereka berharap dan berharap iklan lowongan kerja di lembaran koran, yang dapat menerima mereka bekerja. Masih mendhing bila mereka diterima bekerja, dan bekerja dengan profesional. Tetapi terkadang mereka bekerja, asal bekerja dan tidak profesional, apalagi yang mengandalkan melalui jalur kekeluargaan atau perkoncoan, dan parah lagi melalui jalur per-minyak oli-an atau pelicin (laris dah tukang oli, apalagi oli bekas).

Pola pendidikan haruslah diubah, ditanamkan sejak dini pola pendidikan entreprenuer atau dengan istilah Eduprenuer. Pendidikan berbasis otak kiri dikombinasikan dengan pendidikan berbasis otak kanan. Belajar dari negeri Singapura yang mungil, bahwa mereka menanamkan pada siswa, bagaimana segala sesuatu bernilai manfaat yang tinggi dan beda sehingga memiliki nilai bisnis, apapun. Mereka tidak memiliki sumber daya alam tetapi memiliki sumber daya manusia yang kompetitif. Mereka dapat melakukan alih teknologi dan alih ekonomi yang luar biasa, sehingga dapat mencapai kemakmuran bagi masyarakatnya.

Ayo, jadikan setiap diri kita sebagai GENERASI SIAP BUKA LOWONGAN KERJA, bukan Generasi Siap Mencari Kerja Serabutan. Siap sukses dan bermanfaat bagi orang lain.

(28 Januari 2010, GOESpRIE)