EDU-PRENUER (1)

Eduprenuer berasal dari gabungan dua kata yaitu edukasi dan entreprenuer, yang memiliki maksud pendidikan yang berbasis entreprenuer, atau pendidikan yang menanamkan konsep-konsep entreprenuer pada peserta didiknya, atau pendidikan yang menerapkan konsep entreprenuer dalam aplikasinya. Mengapa eduprenuer dibutuhkan? Karena sistem pendidikan kita masih banyak yang menerapkan atau menghasilkan lulusan yang butuh pekerjaan dan tidak berani menerima tantangan hidup/dunia kerja. Buktinya: pertama, banyaknya penganggur berpendidikan; kedua, belum memiliki skill/kompetensi di dunia kerja yang masuk dalam era global (banyak pekerja asing yang profesional masuk ke dalam negeri dan kalah saing dengan mereka); ketiga: ketika tenaga kerja kita diekspor (maaf saya menggunakan istilah ini, katanya pahlawan devisa) sebagian besar adalah buruh kasar dengan gaji rendah (kalah pula dengan negara tetangga yang sak uplik jumlah penduduknya).

Kapan pendidikan berbasis entreprenuer ini diterapkan? Jawabannya adalah sejak dini, sejak di pendidikan rendah. Terkadang kita sibuk di pendidikan rendah dengan pembelajaran konsep, dan jauh dari pembelajaran konteks. Bahkan dalam standar isi salah satu mata pelajaran, anak SD harus menelan materi memahami peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan  daerah dan masalah pilkada atau otonomi daerah, luar biasa. Pendidikan entreprenuer dapat dikombinasikan dengan muatan lokal daerah, atau diterapkan secara spiderweb tematic dalam bentuk special event, atau simulasi-simulasi pembelajaran di lapangan, atau outdoor learning. Tinggal bagaimana bentuk kreatifitas sekolah, kreatifitas guru dalam merancang sebuah pembelajaran yang memadukan konsep entrepreneur di dalamnya. Dunia pendidikan turut bertanggungjawab dalam membantu mencetak sosok entrepreneur-entreprenuer muda. Bagaimana sebuah Negara besar yang berpenduduk lebih dari 200 juta sulit mencari hanya 2 persen sosok entrepreneur? Kapan lagi…

(1 Pebruari 2010, GOESpRIE)