Hewan Favorit

Dalam sebuah bincang-bincang ringan dengan teman-teman saya suka bermain teka-teki alias tebak-tebakan. Ketika itu saya ajukan pertanyaan sederhana yaitu tentang hewan-hewan apa yang menjadi favorit di Indonesia, yang disukai oleh seluruh kalangan, baik orang miskin maupun orang kaya, baik rakyat biasa maupun pejabat. Teman-teman menjawab dengan beragam jawaban, ada yang menjawab gajah karena keunikan belalainya, ada yang menjawab kera karena lucu dan menggemaskan, bahkan ada yang menjawab cucak rawa karena ada lagunya, dan banyak lagi jawaban yang luar biasa lucu-lucu. Saya sampaikan salah semua, saya jawab suka-suka saya buat jawaban, mereka protes tapi tetap minta jawaban. Saya jawab ada dua jenis hewan favorit yaitu kodok dan kambing hitam. Lho? Saya bilang, kodok itu awalnya dan kambing hitam itu hasilnya. Mereka bingung, dan saya biarkan bingung.

Akhirnya saya jelaskan, kodok itu hewan favorit para orangtua dulu (orangtua kita), bila anaknya jatuh pasti yang disalahkan kodok walaupun kodoknya tidak ada dan sebagai pelampiasannya adalah batu yang dipukul-pukul sampai hancur (kale...). Dan ketika ada masalah yang paling difavoritkan adalah kambing hitam walaupun wujudnya tidak berupa kambing hitam. Dan saya sampaikan kodok itu awalnya dan kambing hitam itu hasilnya. Itulah bentuk model pendidikan yang merakyat yang menuai hasil di depannya. Wajar bangsa ini penuh dengan ketidakpuasan, penuh dengan asumsi, penuh dengan komentator yang mencari bentuk penjelmaan dari wujud kambing hitam. Akhirnya jarang ketemu dengan minimal sebuah solusi pemecahan masalah, apalagi masalah bangsa.

Ketika demonstrasi, wujud kodoknya berubah menjadi sarana prasarana umum yang dirusak, dibakar, dibanting sampai puas…, dan…macam-macam. Ketika terjadi sebuah musibah, dicarilah sang kambing hitam dengan jari telunjuk yang diacungkan kepada siapa saja atau apa saja. Pejabat banyak yang berlepas tangan, dengan diserahkan tangannya ke bawahannya dan akhirnya dikorbankan demi penyelamatan jabatan. Alasannya…ya…penyegaran jabatan. Wallahu a’lam.

Kalau di negeri Jepang, berbeda lagi pola didikan awalnya adalah membangun semangat dan akhirnya bentuk rasa tanggung jawab. Ketika seorang anak laki-laki jatuh dan menangis, para orangtuanya, konon, mengatakan mengapa kamu menangis atau jangan menangis nanti kamu tidak akan menjadi seorang samurai (sosok satria Jepang yang gagah). Mereka tidak menggunakan seekor hewan favorit tapi sosok kesatria yang memiliki kegagahan dalam medan perjuangan di sejarah Jepang. Hasilnya…Luar biasa, mereka sangat concern terhadap komitmen tanggungjawab. Bila terjadi sesuatu kegagalan, mereka dengan gagah mundur tanpa menunjuk orang lain sebagai penyebab sebuah kegagalan.

Coba bayangkan, bila di negeri ini kita ubah pola pendidikannya, mengganti hewan favorit tadi dengan sosok yang hebat di masa perjuangan pasti akan didapat hasil yang berbeda. Mengapa menangis (ya…pasti, jatuh ya…sakit, masih anak kecil lagi), jangan menangis nanti tidak bisa seperti Patih Gajah Mada atau nanti tidak bisa seperti Bung Tomo, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Cut Mutiah (walaupun mereka juga bisa menangis, tapi menangisnya hanya kepada Sang Pencipta alam ini), dan segudang sosok satriawan dan satriawati yang ada di negeri ini. Pasti hasilnya akan berbeda. Tapi jangan seperti ini, jangan menangis, nanti tidak bisa seperti Edi Tansil atau Robot Gedek (wah gawat darurat nih).
(Maaf ya, saya pakai contoh nama-nama ini).

(2 Pebruari 2010, GOESpRIE)