Kok Istikharah-ku Belum Dijawab?

Shalat Istikharah adalah shalat sunat yang dilakukan seseorang ketika dihadapkan dengan suatu pilihan yang bersifat mubah yang seseorang tersebut masih bingung dalam menetapkan keputusannya. Dalam praktiknya, shalat istikharah ini didominasi oleh permasalahan dalam memilih jodoh atau pasangan hidup, padahal tidak demikian, karena masih banyak bentuk permasalahan yang bisa diistikharahi. Pada pembahasan ini, saya mencoba mengupas permasalahan yang sering ditemui dalam hal shalat istikharah yang berhubungan dengan masalah menentukan jodoh. Pembahasan ini merupakan hasil dari beberapa tanya jawab, konsultasi atau curhat dari beberapa rekan. (sebelumnya maaf bila ada kesamaan kasus yang saya ungkap tetapi nama tetap RAHASIA, sesuai dengan permintaan).

1. Masalah bentuk jawaban dari shalat Istikharah

Banyak orang yang salah kaprah terhadap bentuk jawaban dari shalat Istikharah. Mereka sebagian besar menunggu jawaban shalat istikharah hanya berasal dari mimpi, padahal jawaban melalui mimpi merupakan salah satu bentuk cara jawaban yang diberikan oleh Allah terhadap orang yang sedang beristikharah. Banyak cara Allah memberikan jawaban shalat Istikharah, seperti bentuk ketenangan dan kemantapan terhadap masalah yang sedang dihadapi, atau tiba-tiba ada seseorang yang memberikan jawaban terhadap masalah yang sedang dihadapi, atau suatu peristiwa yang membuat kita merasakan sebuah keyakinan atas penyelesaian masalah yang sedang dihadapi, dan sebagainya.

Ketika kita terjebak dalam hanya satu bentuk cara jawaban shalat istikharah yaitu melalui mimpi, maka akan yang terjadi para Istikharah-er selalu menanti-nanti mimpi tiap malam. Dan setiap pagi ia selalu merenungkan makna mimpi yang baru didapat pada malam harinya. Hal ini dikhawatirkan ia terjebak dalam sebuah tathayyur mimpi atau terjebak sebagai peramal mimpi. Ciri orang demikian adalah matanya sayu (wah kayak meramal saja), wajah tampak kuyu seolah memikirkan sesuatu yang berat, tampak kebimbangan dan kebingungan, tingkah laku serba salah (apalagi perkara jodoh, mandi tak basah, makan tak kenyang, tidur tak nyenyak, jalan sering nyasar).

2. Masalah waktu, kapan jawaban dari shalat Istikharah

Perkara yang kedua ini sering menjebak para Istikharah-er menentukan batas waktu jawaban istikharah. Seolah mereka mendikte Allah untuk menjawab dengan waktu yang mereka tentukan, lucu khan. Karena ada deadline sebuah keputusan maka ia membuat batas waktu jawaban istikharah, contoh pokoknya dalam waktu satu minggu ini harus sudah ada jawaban istikharah yang dilakukan. Alhasil, ketika tenggang waktu yang ia tetapkan habis maka ia mengambil keputusan sesuai dengan kecenderungan dirinya, lebih lucu khan. Lebih baik tidak perlu istikharah tapi langsung saja ia tentukan hasilnya melalui perenungan saja, cukup.

3. Hal yang merusak skenario shalat Istikharah

Ada beberapa hal yang merusak skenario shalat istikharah dari sekian banyak hal, antara lain: menentukan bentuk jawaban, menentukan waktu jawaban, telah melibatkan kecenderungannya sebelum ia shalat, tidak adanya sebuah keseriusan dalam beristikharah, sebagai cara alternatif bila kecenderungannya keliru, atau sebagai penguat untuk jawaban dari kecenderungannya terhadap sesuatu, atau hanya sebagai gugur kewajiban agar ia tidak disalahkan ketika jawaban yang ia pilih tidak sesuai dengan harapan.

Imam An Nawawi yang dikutip Sayyid Sabiq, mengatakan sesudah istikharah haruslah mengerjakan apa yang dirasa lebih baik untuk diri dan hendaknya bebas benar-benar dari kehendak pribadi. Jadi jangan sampai lebih mengutamakan sesuatu yang dirasakan baik pada waktu sebelum beristikharah, sebab kalau demikian, maka sama halnya dengan tidak beristikharah kepada Allah atau kurang penyerahan terhadap pengetahuan serta kekuasaan Allah”.

(4 Pebruari 2010, GOESpRIE), Semoga yang sedang beristikharah mendapatkan jawaban yang terbaik untuk dirinya, dunianya, agamanya, akhiratnya. Amin.