Keluarga SAMARA (2), I Love You Full

Pada tulisan kedua ini, saya mencoba mengambil keratan pertama (kalau tulisan pertama sekulit) berkenaan dengan keluarg SAMARA. Orang membayangkan bahwa keluarga SAMARA itu adalah keluarga yang tenang selamanya tanpa riak dan gelombang dalam kehidupannya. Itu adalah sesuatu hal yang mustahil, kenyataannya bahwa keluarga SAMARA, justru penuh dengan riak dan gelombang disetiap detik denyut kehidupan dalam keluarga. Hanya bedanya adalah bagaimana me­menej kejadian di setiap riak dan gelombang yang terjadi. Apakah riak dan gelombang tersebut berubah menjadi badai dalam kehidupan keluarga atau justru riak dan gelombang menjadi sesuatu penghias kehidupan yang justru menumbuhkan makna mawaddah dan rahmah sesuai dengan tujuan ayat 21 dari surat Ar Rum. Yuk kita kerat (kupas) sedikit maknanya.

Riak dan Gelombang menjadi Badai

Keluarga yang tidak dilandasi akan nilai ilahiyah, dan mengasup rizki yang tidak halal, peluang merubah riak dan gelombang menjadi badai sangatlah besar. Mengapa? Karena mereka membangun pondasi keluarga dengan pondasi duniawi atau materi. Kita ketahui bahwa duniawi dan materi itu nisbi atau relatif dan tidak kekal, ketika mengambil sesuatu yang tidak kekal maka siap-siap untuk menghadapi sebuah kehilangan atau kesirnaan. Sebagai contoh, kecantikan atau ketampanan, bisa bertahan berapa lama? 5 tahun, 10 tahun, 30 tahun atau 40 tahun. Kalau hal ini yang dipilih maka dijamin usia pernikahan tidak akan lama, mesra di awal, hambar di tengah dan dibuang (minimal disisihkan) di akhir. Ibaratnya adik cantik abang sayang, adik hilang cantiknya abang menendang (emang bola futsal). Kekayaan? Jabatan? Kekuasaan? Ketenaran? Apalagi. Wajar banyak riak dan gelombang berubah menjadi badai dalam keluarga dikarenakan hal-hal yang duniawi atau materi atau fisik.

Belum lagi bila asupan rizki yang tidak halal masuk dalam diri dan keluarga, akan tumbuh virus-virus kedurhakaan dan ketidaktaatan. Virus ini akan menyebar dengan cepat dan berkembang dalam diri seseorang dan keluarganya, yang menutupi di setiap sudut hatinya, sudut akalnya. Asupan ini bukan menumbuhan sifat mawaddah (kasih sayang secara fitrah) dan rahmah (kasih sayang yang Allah tumbuhkan). Ibarat sebuah tanaman yang batang daunnya ditumbuhi dengan benalu dan kambiumnya digerogoti virus tanaman, dan akhirnya keropos dan hancur. Tidak meninggalkan generasi tanaman yang berkualitas melainkan tanaman yang menyebarkan kualitas rendah dan merusak. Dan akhirnya akan tumbang dengan sendirinya atau ditumbangkan sang pemiliknya.

Riak dan Gelombang menumbuhkan Mawaddah wa Rahmah

Sebaliknya bila sebuah keluarga dibangun dengan landasan ilahiyah, Insya Allah (Insya Allah yang islami 100% jaminan bukan fifty-fifty) riak dan gelombang rasa mawaddah dan rahmah dalam kehidupan keluarganya. Sebuah kehidupan keluarga pasti ada pasang surut hubungan, pasang surut rizki yang diterima, tetapi tidak menjadikan alasan riak dan gelombang menjadi badai. Mereka selalu penuh berbaik sangka (husnuz zhan full) dan optimis dalam mengarungi kehidupan. Kalaupun terpercik badai kecemburuan hubungan, mereka selalu bisa mengatasi, mereka selalu bisa merekontruksi permasalahan dan hubungan menjadi lebih baik. Bahkan Rasulullah SAW pernah menyatakan sebuah jaminan bahwa bila seorang suami/istri yang serendah-rendahnya iman tidak akan berbuat zhalim dengan pasangannya. Jadi bila ia sudah berbuat zalim maka dipertanyakan keimanannya.

Perlu diketahui bahwa ketika berkeluarga merupakan sebuah pertemuan dua insan yang penuh dengan perbedaan, bukan persamaan kecuali keimanan. Maka dengan perbedaan yang ada di tiap masing-masing pasangan, bila terjadi perbedaan tetap dilandasi dengan keimanan sehingga tumbuh dalam lingkup keluarganya sifat toleransi yang tinggi. Perbedaan sifat, sikap, kebiasaan, kesukaan dan banyak lagi bukan menjadi sesuatu yang mengganggu keharmonisan dalam keluarga, dan justru memperindah sebuah kombinasi kehidupan dalam keluarga. Lihatlah bagaimana sebuah pelangi menjadi indah karena keaneka ragaman warna. Lihatlah alam ini penuh keindahan karena keragaman bentuk dan sifat.

(8 Pebruari 2010, GOESpRIE)