Makanan Yang Penuh Keberkahan

Kebutuhan pokok hajat hidup manusia ada tiga yaitu pangan, sandang dan papan. Satu saja dari ketiga tadi yang dimiliki serasa hidup di dunia belantara dengan maut yang siap menerkam. Atau hanya dua saja belumlah sempurna. Berkenaan dengan pangan atau makanan dan minuman, bagi seorang muslim haruslah memenuhi tiga kriteria pokok yang menjamin dia untuk keselamatan dunia akhirat. Dalam artian bahwa makanan yang diasup merupakan makanan yang penuh keberkahan atau mendatangkan keberkahan dari Sang Pemberi Rizki, Allah SwT. Tiga kriteria pokok itu adalah : halal, thoyyib dan tidak berlebihan. Halal dan thoyyib sesuai dengan anjuran dalam ayat Allah SwT  Qur’an Surat Al Baqarah ayat 168. Sementara untuk sifat berlebihan sesuai dengan anjuran Allah dalam QS. Al Isra’ ayat 26 – 27.

Kriteria pertama : Halal. Halal artinya sesuai dengan tuntunan syariat, aman secara syariat. Aman secara syariat berarti mulai dari halal jenis zatnya, halal cara mendapatkannya, halal cara pengolahannya, halal cara penyajiannya, dan halal cara memakannya sesuai dengan petunjuk QS.4:3.

  • Halal jenis zatnya, maksudnya adalah tidak mengandung unsur bangkai, darah, daging babi, unsur khamar atau termasuk hasil olahan dari semua bahan tersebut. Kehalalan jenis zatnya ini merupakan harga mati bagi seorang muslim.
  • Halal cara mendapatkannya, tidak melalui cara mencuri, menzhalimi orang lain (termasuk korupsi dan manipulasi), hasil dari terkaman atau tangkapan binatang buas, dan sebagainya.
  • Halal cara pengolahannya, seperti tidak mencampur barang halal dengan barang haram dan berbahaya, bila hewan berkaki penyembelihannya tidak dengan cara keji, dicekik, dijatuhkan, dipukuli.
  • Halal cara penyajiannya, seperti tidak tercampurnya ke dalam bentuk sesajen kepada apapun (pemberhalaan), tidak tercampur dengan sajian makanan lainnya yang mengandung zat yang diharamkan.
  • Halal cara memakannya, maksudnya dapat membedakan antara memakan makanan dengan basmalah dengan tidak membaca basmalah, tidak memakan makanan yang bukan haknya.

Kriteria kedua : Thoyyib. Thoyyib arti lugasnya baik, baik bagi kesehatan. Arti secara luasnya bahwa makanan yang dimakan, minuman yang diminum harus memenuhi standar kesehatan dan minimal tidak membahayakan bagi tubuh. Banyaknya penyakit yang timbul berawal dari pencernaan, dan berhubungan langsung dengan apa yang masuk ke dalam perut. Bagaimana tubuh akan sehat bila asupan untuk tubuhnya tidak sesuai dengan kriteria kesehatan, dan bagaimana tubuh tidak didatangi penyakit sementara tubuh menerima asupan yang mengundang dan mengandung penyakit. Pola makan dan pola pengolahan makanan perlu dipelajari sebagai ilmu penunjang kehidupan agar tubuh selamat. Sebagai seorang muslim perlu memahami pesan Rasulullah SAW bahwa Allah lebih mencintai mukmin yang kuat (sehat) daripada yang lemah walaupun keduanya sama baiknya di mata Allah. Ketika tubuh sehat dan kuat secara secara teori akan berpengaruh positif pada kinerja dan amal ibadah dibandingkan dengan tubuh yang tidak sehat dan lemah.

Kriteria ketiga : Tidak berlebihan. Ketika syarat halal dan thoyyib sudah terpenuhi, ibarat sebuah kesempurnaan maka syarat tidak belebihan sebagai penyempurnanya. Walaupun halal dan thoyyib bila berlebihan maka keagungan akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sia-sia. Banyak pelajaran berkenaan dengan hal ini, di antaranya : bagaimana adab kita mengambil makanan ketika di perjamuan makan baik di dalam keluarga atau resepsi. Kita terkadang melihat masih banyak orang yang mengambil makanan melebihi kapasitas apa yang mampu ia dimakan sehingga ketika selesai makan pada perjamuan makan banyak yang bersisa dan menumpuk tidak tersentuh, terbuang mubazir. Padahal masih banyak orang miskin yang kekurangan makanan. Hilangnya kepekaan diri terhadap orang yang lebih membutuhkan.

Halal, thoyyib dan tidak berlebihan adalah menjadi syarat dan akhlak bagi seorang muslim yang beriman berkenaan dengan makanan. Semakin paham akan pentingnya ketiga hal tersebut semakin selamatlah dirinya. Satu hal berhubungan dengan hal lainnya. Masalah makanan berhubungan dengan tidak hanya masalah kesehatan semata melainkan berhubungan pula dengan masalah akhlak dan ibadah kepada Sang Pemberi Makanan yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

(10 Pebruari 2010, GOESpRIE)