Berbahagialah Engkau, Wahai Guru, terutama Guru TK dan SD

Di banyak wisuda mahasiswa yang selesai kuliahnya tampak banyak wajah-wajah ceria, wajah-wajah bahagia. Mereka berbaur dalam sebuah prosesi wisuda dengan mengenakan pakaian kebesaran para wisudawan. Tanpa terasa satu demi satu peserta maju dan naik ke panggung podium untuk disematkan samir/gordon tanda kelulusan, dan mereka mendapatkan kesempatan diberi ucapan selamat oleh para guru besar di tiap fakultas dan jurusan masing-masing. Wuih jadi ingat, nostalgia nih. Setelah selesai acara mereka berbaur dan berbagi cerita yang diselingi dengan ucapan selamat dari para sanak keluarga, rekan, tamu undangan lain dan sesama wisudawan. Dan terselip pula kata-kata,”Selamat ya, hebat ya. Kemarin siapa dosen pembimbingmu?”. Atau “Wah hebat…kemarin dibimbing oleh prof siapa (maksudnya profesor pembimbing)” dan lain-lain ucapan selamat.

Ketika direnungkan dan diamati jarang sekali bahkan tidak mungkin ada, terdengar sebuah ucapan terselip diucapan saat memberikan selamat kepada para wisudawan,”Duh…,siapa Guru TK-mu dulu?” atau “Siapa Guru SD mu dulu?”. Apa sebuah hal yang janggal?.

Saya pernah menjadi guru SD dan sekarang saya kira masih sebagai guru di SD, berpikir dan didapatkan sebuah penyemangat dalam beraktivitas sebagai guru. Ternyata Allah Maha Adil. Sebagian besar pahala guru TK dan SD disembunyikan oleh Allah, yang nantinya akan diperlihatkan di padang Masyhar. Karena jasa-jasanya sebagai pembuka jalan bagi siswa-siswi yang luar biasa. Mengajarkan sesuatu yang belum diketahui menjadi tahu adalah sebuah pekerjaan yang luar biasa, belum lagi kebanyakan orang banyak yang terkesan kepada para gurunya terutama guru TK dan SD (bahasa iklan, kesan pertama yang menggoda). Belum lagi yang mengajarkan pembiasaan-pembiasaan perilaku dan akhlak, ini pekerjaan yang LEBIH luar biasa lagi.

Mereka ini diibaratkan sebagai orang-orang yang membangun pondasi sebuah bangunan super bertingkat. Berhasil dan kuat atau tidaknya bangunan ini tegak adalah tergandung pada pondasinya yang dibangun. Guru identik dengan yang demikian, mereka membangun pondasi sebuah generasi masa depan.

Berbahagialah Wahai Guru (Terutama Guru TK dan SD), ANDA sebagai pembangun generasi sebuah bangsa. Jasa kalian hampir sama dengan orangtua yang memiliki anak yang shaleh, yaitu akan mendapatkan bagian pahala di sisi Yang Maha Adil berupa Ilmu yang bermanfaat yang ditebarkan, Amal Jariyah yang Ditanamnya dan Anak Yang Sholeh yang Dididiknya.

(10 Nopember 2010, GOESpRIE)