SEBUAH PENGALAMAN TENTANG PUNISHMENT

Aku pernah punya seorang murid SD yang memiliki kebiasaan mengumpat dengan bahasa daerah yang kasar terhadap temannya, anggaplah namanya Jaim. Ia sering sekali bila dalam keadaan kesal mengeluarkan kata-kata Lo2, B3ng4k, Buy4n (bahasa Palembang, yang artinya B*d*h banget). Sehingga teman-teman yang terkena kata-kata ini beragam reaksi, mulai dari sedih, diam, sampai melakukan perlawanan.

Suatu ketika si Jaim mengganggu teman perempuan sekelasnya dan ternyata temannya melakukan perlawanan, maka keluarlah kata-kata dari si Jaim sebagai senjata pamungkasnya. Karena tidak terima, temannya melapor ke saya. Dan saya panggil si Jaim ke kantor saya. Si Jaim merasa benar, barangkali dengan kata-kata yang diucapkannya itu dianggap biasa saja tanpa mengetahui efek terhadap perasaan teman-temannya yang lain. Saya tanya kepada si Jaim, “Jaim, mengapa Jaim sering sekali mengucapkan kata-kata seperti itu?. Ia jawab dengan agak emosi, “Habis pak, mereka juga ngeselin saya”. Lalu saya tanya lagi,”Di rumah, kamu biasa mengucapkan kata umpatan itu?”. Ia mengangguk lemah. Kemudian saya suruh ambil sebuah cermin dan di pasang dekat pintu kantor dan saya suruh merapikan pakaiannya. Si Jaim pikir, ah cuma seperti ini hukumannya, barangkali. Hanya ia agak bingung dan heran, apa maksud saya menyuruhnya demikian. Setelah merapikan bajunya, ia menghadap saya, “Sudah Pak”. Saya jawab,”Belum, rapikan juga rambutmu”, sambil saya memberi sisir padanya. Setelah selesai, ia kembali menghadap ke saya sambil berkata,”sudah belum, Pak?”. Saya tetap mengatakan belum hingga raut wajahnya mulai berubah. Ia berusaha merapikan pakaian, celana, dasi, rambut dengan berulang kali ia bercermin. Selesai itu, ia menghadap kembali dan berkata,”Pak, bagaimana kalau ini, sudah belum?”. Saya tetap menjawab,”hampir”, sambil memberi minyak wangi kepadanya untuk dipakai. Ia memakai minyak wangi yang saya berikan, dan kembali menghadap ke saya sambil agak tertunduk dan berkata,”Pak, sudah rapi belum?. Saya jawab,”Sudah, nah sekarang kamu kembali ke cermin, lihat penampilanmu, sudah cakep (ganteng) khan?”. Si Jaim agak tersipu. Saya terus menyuruhnya memandang dirinya dicermin agak lama hingga ia mulai protes. Saya berkata kembali kepada si Jaim,”Cakep (ganteng) tidak dirimu?”. “Menurut Bapak, bagaimana?”. “Lho, Bapak khan tanya dirimu”. Ia menjawab,”Cakep tapi malu lama-lama bercermin di sini”. Saya tersenyum dengan jawabannya, kemudian saya bertanya,”Sudah siap terima hukuman?”. Si Jaim bingung, tapi tetap menjawab,”Siap Pak”. “Nah, tataplah matamu yang ada di cermin itu”. “Sudah Pak”. “Tataplah sambil kamu ucapkan kata-kata Lo2 dan Buy4n (kata umpatan gaya Palembang) sebanyak 10 kali”. Si Jaim terdiam. “Ayo, ucapkan”. Kemudian si Jaim baru mengucapkan 2 atau 3 kali kata-kata umpatan tadi, mukanya berubah merah, dan seraya menghadap ke saya dan berkata lirih,”Pak, saya menyesal dan tidak akan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi ke teman-teman saya”. Saya melihat kesungguhan ucapan si Jaim, sambil menyuruhnya untuk keluar dan minta maaf ke teman-temannya.

Suatu hari, saya terdengar ucapan umpatan itu lagi dari mulut si Jaim. Terlihat ia langsung berlari menghadap saya, sambil beristighfar dan terengah-engah ia berkata,”Maaf Pak, saya khilaf. Saya tidak sengaja tapi selama ini tidak pernah lagi saya mengucapkan kata-kata itu, betul Pak, saya minta maaf”. “Minta maaf ke temanmu, ya”. “Ya, Pak”. Dalam hati saya,” Jaim…, Jaim…”.

(25 April 2011, GoesPrie, catatan sebuah pengalaman pribadi)