HARAPAN RAKYAT

 WAKIL RAKYAT, idealnya mewakili rakyatnya dalam memfasilitasi kepentingan rakyat dan untuk mensejahterakan rakyatnya.

                Tetapi dalam kenyataannya, kepentingan pribadi lebih diutamakan sehingga banyak wakil rakyat lebih sejahtera ketimbang rakyat yang diwakilinya. Berbagai tunjangan dan fasilitas kenyaman hidup dan kehidupan diajukan untuk dirinya sendiri alasan seimbang dengan beban tugas yang diemban. Bahkan kepentingan untuk orang-orang yang berada dalam lingkaran dirinya difasilitasi, isteri, anak, , dan saudaranya. Kemudian lingkaran kedua dari dirinya kemenakan, cucu, teman/sahabat dekatnya. Kemudian efek lingkaran kedua yaitu lingkaran ketiga yaitu temannya dari teman/sahabat dekatnya, keluarga dari teman /sahabat dekatnya, keluarga dari temannya dari teman/sahabat dekatnya, tetangga dekatnya (kalau akrab dengan tetangga), keluarga dari tetangga dekatnya (kalau ada). Saya doakan, semoga orang-orang juga berdoa, termasuk juga orang-orang yang terzalimi berdoa untuk bagian yang sedikit ini agar memiliki kekuatan melebihi dari bagian yang banyak dari para wakil rakyat yang belum menjadi wakil bagi rakyatnya. Semoga mereka berbuat banyak untuk perubahan di rakyat ini dan menyadarkan yang termasuk kelompok yang banyak.

PENGUASA RAKYAT, pada hakekatnya mereka adalah pelayan masyarakat (abdi masyarakat, istilah dari Pegawai Negeri Sipil yang digaji oleh uang rakyat juga). Dan konsekuennya rakyat adalah Tuan bagi mereka.

                Tetapi dalam kenyataannya, para penguasa rakyat beserta punggawa-punggawanya justru ingin dilayani dan diladeni oleh masyarakat. Mengambil kesempatan sebagai “penguasa rakyat” untuk meminta “sedekah” dari rakyat ketika mereka butuh keperluan dalam mengurus sesuatu. Bukan membuat rakyatnya pintar dan pandai tetapi justru membodohi dengan dalih ketidaktahuan rakyatnya. Bukan menjadi teladan tapi justru menjadi selalu telatan dalam melaksanakan tugasnya, menjadi cekatan bila ada “sedekah” dari rakyatnya. Hanya sedikit dari penguasa rakyat yang peduli terhadap rakyatnya dan sekaligus sebagai pelayan bagi mereka. Saya doakan, semoga orang-orang juga berdoa, termasuk juga orang-orang yang terzalimi berdoa untuk bagian yang sedikit ini agar memiliki kekuatan melebihi dari bagian yang banyak penguasa rakyat yang belum menjadi pelayan bagi masyarakatnya, dan menyadarkan langkahnya kembali ke jalan yang benar.

PELINDUNG RAKYAT, istilah ini adalah pagar bagi rakyat terhadap gangguan dan ancaman dari yang para pengganggu dan pengancam. Meraka bertugas di jalanan, di darat, di laut dan di udara. Sebenarnya kami bangga memiliki mereka, dengan kegagahan dan kekuatan yang dimiliki.

                Tetapi, terkadang mereka yang diwakili oleh OKNUMS (jamak dari oknum) merusak kebanggaan dan kekaguman kami terhadap mereka. Di jalanan yang macet, terkadang si Oknums mencari kesempatan sehingga membuat jalan semakin macet (maaf, razia dadakan bukan rezeki dadakan). Di kantor, si oknums mempersulit urusan kepastian hukum bagi rakyat sehingga tertunda-tunda. Para saksi kebenaran tidak berani mengungkapkan kebenaran, karena khawatir menjadi tersangka akibat tidak paham hukum atau tidak punya uang “sedekah” yang lebih. Sering juga si Oknums menjadi sosok di balik layar skenario alias backing dari sebuah kegiatan ilegal yang merugikan masyarakat. Saya doakan, semoga orang-orang juga berdoa, termasuk juga orang-orang yang terzalimi berdoa agar para oknums sadar atau disadarkan oleh sebuah keadaan. Mereka kembali ke jalan yang benar, dan kami kembali bangga terhadap mereka.

(11 Mei 2011, gOEsprIE)