PAWANG UJAN

 

Suatu haghi di negeghi Hantah Beghantah ado ghajo manggil bebeghapo pawang ujan, di antaghonyo dari Singapugh, Thailand, dan Indonesio. Ghajo negeghi itu minta ketigo pawang untuk bghentiken ujan pas saat acagho lomba beci ekagh ghaksaso antagh negeghi tetanggo. Masing-masing pawang ngajuke syaghat ke Ghajo sebage pghoyek mbghentike ujan pas acagha.

Pawang dari Singapugh : “Ghajo, aku minta syaghat untuk mbghentike ujan pas acagho lomba beji ekagh, minta Patung Singo daghi emas 24 kaghat untuk dipasang di negeghi aku sebagai kenang-kenangnyo”

Ghajo : “Ai, gilo apo. Kagek pghoyek acagho lomba ghugi, kathek untung kami. Aku nak buat acagha ini bae abes banyak aghtonyo. Apolagi nak bayagh awak tu pake pantung Singo 24 kaghat. Dakdo, balek bae awak tu, gugugh kau dalem sayembagho ini”

Pawang dari Singapugh : “Ai, Ghajo. Aku keabesan sen, untuk balek ke negeghi sebeghang”

Ghajo : “Dakdo….!, payo pawang daghi Thailand mano, sini”

Pawang dari Thailand : “Ghajo, syaghat aku, Cuma minta mindahke Pantung Gajah yang ado di Maghkas Bghimob ke negeghi aku, supayo aku di teghimo lagi oleh Ghajo aku sebagai pawang gajah”

Ghajo : ”Ai, ini pulok, lebih gilo lagi. Aku dak galak ngantike patung gajah di maghkas Bghimob tu, duduk becogok di depan sano. Dah balek bae pulok kau!”

Pawang dari Thailand : “Ai, Ghajo. Dak jadi aku jadi pawang gajah di istana ghajo kami”

Diem-diem pawang daghi Indonesia jual mahal, tapi Ghajo negeghi Hantah Beghantah jingok. Ghajo langsung manggil, “Hoi, sini kau. Kau daghi Indonesio ye, katonyo pintegh nian. Apo kepinteghan kau sebagai pawang ujan”

Keghno dak galak disangko juwal mahal, pawang daghi Indonesio ni mutegh akalnyo, pecak gaya patung daghi negeghi Yunani yang topang dagu tu. “Cak ini, ghajo, daghipada mahal-mahal, keghno kito sudah kenal lamo, aku punyo syaghat dakdo mahal gino, mughah meghiah” Kato pawang daghi Indonesia ni.

Ghajo : “Apo pulok syaghatnyo, yang penting mughah meghiah, ujan dakdo tughun kagek pas acagho, sip…, kito cs san, biso bebagi untung. Payo…Aku setuju”

Pas haghi-H, pawang daghi Indonesio mulutnyo komat-kamit maco mantgha. Ghajo jingok semakin yakin, keghno pas haghi tu ujan dak tughun. “Waw…., pakam nian mantgho wong ini”. Pas, ketiko Ghajo maco kato sambutan pembukaan acagho lomba beci ekagh ghaksasa dimulai…., ujan tughun. Deghes lagi, sampe-sampe tulesan yang dibaco Ghajo luntugh galo. Ghajo maghah-maghah di depan tamu negeghi tetanggo, “ Hoi….mano pawang daghi Indonesia tadi”

Pawang daghi Indonesia : “Ado apo Ghajo, maghah-maghah?”

Ghajo : “Neh…kau ni, pecak bloon bin pilon bae. Ngapo pas aku maco sambutan, haghi jadi ujan deghes nian cak ini. Apo bae mantghanyo, hah?!”.

Pawang daghi Indonesia : “Khan, Ghajo tadi minta syaghat yang mughah meghiah, mayagh mughah pulok untuk aku, yang penting aku masok tv. Aku Cuma pake syaghat cabe samo bawang bae, samo maco “jangan tughun ujan jangan tughun ujan 1000 kali”.

Ghajo : “Wah…kacau galo acagha aku ni….!”

Pawang daghi Indonesia : “Tulah Ghajo, kalo beminta tu jangan samo pawang ujan. Kalo nak minta mghentike ujan, mintaklah kepado Tuhan SwT, gghatis, dak pake syaghat pulok, dijamin halal….”

Ghajo langsung sakit giginyo kambuh lagi……#$%@(&&#^^&^#@^@%%@%@

Gh = dibaca R

(modifikasi sumber : haghian Sumatera Ekspress haghi Minggu tanggal 13 Nopembegh 2011, ghubghik Anehdot)

TERJEMAHAN BEBAS

Suatu hari di negeri Antah Berantah ada raja memanggil beberapa pawang hujan, di antaranya dari Singapura, Thailand, dan Indonesia. Raja negeri itu minta ketiga pawang untuk memberhentikan hujan saat acara lomba adu kelereng raksasa antar negeri tetangga. Masing-masing pawang mengajukan syarat ke Rajo sebagai proyek memberhentikan hujan saat acara.

Pawang dari Singapura : “Raja, aku minta syarat untuk memberhentikan hujan saat acara lomba adu kelereng raksasa, yaitu minta Patung Singa dari emas 24 karat untuk dipasang di negeri aku sebagai kenang-kenangnya”

Raja : “Ai, gila apa?. Nanti proyek acara lomba rugi, tidak ada untung kami. Aku mau buat acara ini saja habis banyak hartanya. Apalagi akan bayar anda pakai pantung Singa 24 karat. Tidak!, pulang saja Anda, Anda gugur dalam sayembara ini”

Pawang dari Singapura : “Ai, Rajo. Aku kehabisan uang, untuk pulang ke negeri aku”

Raja : “Tidak….!, Hayo pawang dari Thailand mana, sini”

Pawang dari Thailand : “Rajo, syarat aku, cuma minta memindahkan Pantung Gajah yang ada di Markas Brimob ke negeri aku, supaya aku di terima lagi oleh Rajaku sebagai pawang gajah”

Raja : ”Ai, ini lagi, lebih gila lagi. Aku tidak mau mengganti patung gajah di markas Brimob itu, aku duduk jongkok di depan sana. Sudah pulang saja juga kamu ini!”

Pawang dari Thailand : “Ai, Rajo. Jadi, aku tidak jadi pawang gajah di istana rajo kami”

Diam-diam pawang dari Indonesia jual mahal, tapi Raja negeri Hantah Berantah melihatnya. Raja langsung memanggilnya, “Hoi, sini kau. Kau dari Indonesia ya, katanya pintar sekali. Apa kepintaran anda sebagai pawang hujan”

Karena tidak mau disangka jual mahal, pawang dari Indonesia ini pura-pura muter akal, seperti gaya patung dari negeri Yunani yang topang dagu itu. “Seperti ini, Raja, daripada mahal-mahal, karena kita sudah kenal lama, aku punya syarat tidak mahal sekali, murah meriah” Kata pawang dari Indonesia.

Raja : “Apa saja syaratnya, yang penting murah meriah, hujan tidak turun nanti ketika acara, sip…, kita cs san (tahu sama tahu), bisa berbagi keuntungan. Oke…Aku setuju”

Saat hari-H, pawang dari Indonesia mulutnya komat-kamit membaca mantera. Raja melihat semakin yakin, karena saat hari itu hujan tidak turun. “Waw…., hebat betul mantera orang ini”. Saat, ketika Raja membaca kata sambutan pembukaan acara lomba adu kelereng raksasa dimulai…., hujan turun. Deras lagi, sampai-sampai tulisan yang dibaca Raja luntur semua. Raja marah-marah di depan tamu negeri tetangga, “ Hoi….mana pawang dari Indonesia tadi”

Pawang dari Indonesia : “Ada apa Raja, marah-marah?”

Raja : “Nah…kamu ini, seperti orang bloon bin pilon saja. Mengapa saat aku membaca kata sambutan, hari jadi hujan deras sekali seperti ini. Apa saja manteranya yang kau baca, hah?!”.

Pawang dari Indonesia : “Khan, Raja tadi minta syarat yang murah meriah, membayar saya murah juga, yang penting aku masuk acara tv. Aku Cuma pakai syarat cabe sama bawang saja, sama membaca “jangan turun hujan-jangan turun hujan 1000 kali”.

Raja : “Wah…kacau semua acara aku ini….!”

Pawang dari Indonesia : “Itulah Raja, kalau bermohon itu jangan kepada pawang hujan. Kalau mau minta menghentikan hujan, mintalah kepada Tuhan SwT, gratis, tidak pakai syarat lagi, dijamin halal….”

Raja langsung sakit giginya kambuh lagi……grrrrrr…….#$%@(&&#^^&^#@^@%%@%@

(modifikasi sumber : harian Sumatera Ekspress hari Minggu tanggal 13 Nopember 2011, rubrik Anehdot)