Hukuman Siswa

Berbagai cara “guru” untuk menertibkan atau mendisiplinkan siswa dengan cara memberi punishment atau hukuman, dan yang paling minimal adalah ancaman berupa hukuman yang akan didapat atas pelanggaran yang akan dilanggar. Kekerasan lisan, fisik, bahkan mental terkadang diberikan pada siswa pelanggar kedisiplinan.

Di beberapa kasus, siswa mulai berani mengadakan perlawanan ketika siswa pelanggar kedisipilinan di beri hukuman fisik. Sudah banyak korban guru yang dipidanakan, walaupun menurut guru yang bersangkutan hukuman itu merupakan puncak jalan keluar bagi siswa pelanggar berat kedisiplinan.

Ada kisah-kisah kreatif guru dalam menghukum siswa walaupun tetap ada efek secara psikologis. Ada guru menghukum siswa kelas bawah dengan ancaman akan didudukkan di kursi hukuman di depan kelas bila melanggar kedisipilanan, versi lama berdiri menghadap tembok, atau versi lamanya lagi berdiri dengan satu kaki dan tangan kanan atau kiri memegang telinga dari lawan arah tangannya, baik di depan kelas atau di halaman sekolah. Memang sebagian besar siswa bisa kembali ke jalan yang benar sebagai siswa tetapi ada suatu hal besar yang menjadi momok sepanjang umur bagi siswa yang bersangkutan.
Ada siswa takut kepada ruangan gelap, ternyata ia pernah dihukum kurungan dalam wc sekolah.
Ada siswa trauma dengan warna dinding tertentu, ternyata ia pernah dihukum berdiri menghadap ke dinding selama jam pelajaran.
Ada siswa yang trauma melihat sebuah kursi yang terpisah dari meja, ternyata ia pernah dihukum di kursi hukuman memisah dari komunitas siswa lainnya.
Ada siswa yang menjadi lebih kasar perangainya dan temperamental, ternyata di sekolah sering mendapat hukum secara fisik akibat perilakunya.
Dan lebih parah lagi ada siswa yang membenci sosok “guru” karena perlakuan “guru” terhadap diri mereka berlebihan dalam menghukumnya.

Bila Anda sebagai “guru” maka berhati-hatilah dalam memberikan sebuah hukuman atau punishment terhadap siswa. Jangan sampai Anda termasuk orang yang berperan terhadap perilaku traumatic siswa terhadap sesuatu atau menciptakan perilaku negatip siswa terhadap orang lain. Jangan tanya dan menyalahkan, bila ada tawuran antar siswa, atau juga ada siswa yang terlibat dalam narkoba dan rokok. Paling tidak Anda memiliki peran terhadap hal demikian. Saya masih ingat pesan guru saya dan juga pesan dari ibu saya, ia mengatakan “belum dikatakan guru kalau mulut belum berbuih”, dalam pengertian selalu memberikan nasehat baik kepada siswa (melalui hikmah-hikmah). Dan nasehat Mang Haji Fuad (pimpinan Pesantren Entreprenuer Ittifaq Bandung) yang mengatakan “Bohong seseorang itu menyatakan dirinya sebagai guru, kalau hatinya tidak nyambung dengan siswanya”, yang mengakibatkan keterdekatan ia dengan siswanya terhijab.

Ayo guru, kita renungi makna dan fungsi guru sesungguhnya. Guru merupakan tugas warisan para Anbiya wal Mursalin yang mencetak generasi yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya, yang balasan pahalanya sama dengan balasan pahalanya seseorang yang memiliki anak yang soleh, memiliki ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah sepanjang kehidupan dunia.

(Palembang, 18-11-11, gOESpRIE)