Analisa Kenakalan Siswa

Anda seorang guru pasti akan bertemu dengan “kenakalan” siswa. Tetapi apakah kita sudah menganalisa sebab-sebab kenakalan mereka atau tidak? Atau memilah-milahkan penyebab kenakalan mereka? Umumnya guru hanya menggeneralisir bentuk kenakalan siswa sehingga memudahkan guru menjatuhkan sebuah atau beberapa hukuman terhadap siswa yang bersangkutan. Contoh : siswa yang terlambat dating ke sekolah atau kelas dengan siswa yang tidak membuat tugas rumah, hukumannya sama yaitu berdiri di suatu tempat baik di kelas atau di lapangan. Atau siswa yang ketahuan merokok dengan siswa yang melakukan graffiti di dinding sekolah, hukumannya sama yaitu hukuman fisik. Itu belum termasuk dengan siswa yang mengobrol ketika proses belajar berlangsung dengan siswa yang salah dalam pengerjaan soal sebagai tugas mandirinya, minimal hukuman “kekerasan lisan”, seperti kata-kata umpatan “hai, b*d*h!”, “t&l&l”, dan kata-kata sejenis. Ketika guru melakukan hal demikian, apakah terpikir efek jangka panjang terhadap kepribadian, perilaku dan sikap mereka terhadap orang lain?

Kondisi “kenakalan” siswa ini kalau dianalisa, disebabkan beberapa hal, antara lain (maaf tidak merepresentasikan kesemua hal yang ada) :

1. Dari diri siswa, seperti siswa type kinestetik, type climber, type natural, type interpersonal, type intrapersonal, Hiperaktif / Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) / Gangguan Pemusatan, dan Oppositional Defiant Disorder (ODD). Dari siswa seperti ini terkadang sering dianggap anak-anak “istimewa” di kelas atau sering dicap dengan anak bermasalah atau lebih sarkasme lagi “anak nakal”.

2. Dari lingkungan luar sekolah dan rumah, interaksi siswa dengan orang-orang di luar lingkungan sekolah dan keluarga yang wawasan pendidikan dan perilaku kurang mendukung untuk perkembangan sikap dan kepribadian. Biasanya mereka berkohesi karena kesamaan “nasib” atau korban dari kesamaan “nasib”.

3. Dari lingkungan dalam keluarga, adanya problem dalam keluarga seperti orangtua yang “broken home” sehingga anak sebagai siswa mencari pelarian ke tempat yang terkadang tidak mendukung penyelesaian masalah yang mereka hadapi, orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya dan akhirnya mereka mencari perhatian di luar rumah.

4. Dari lingkungan sekolah dan kelas, seperti lingkungan sekolah yang kering akan nilai-nilai afektif dan kerohanian dan hanya sekedar formalitas, terdapat guru-guru yang terkesan otoriter dalam berinteraksi personal dengan siswa bahkan sesama guru lain, terdapat guru-guru yang dalam mengajar masih sangat konvensional jauh dari kesan kreatif dan inovatif tanpa tersentuh masukan dari siswa dan guru lain.

Dari analisa permasalahan penyebab “kenakalan” siswa, maka guru akan berpikir ulang terhadap penanganan “kenakalan” siswa. Guru pasti akan mengedepankan dialog dan pilihan solusi penyelesaian masalah “kenakalan” siswa. Guru akan selalu berpanjang lebar mencari berbagai strategi penanganan “kenakalan” siswa tanpa menggunakan kekerasan lisan maupun fisik.

(24-11-11, gOESpRIE)