Sebagian Bunga Rampai Punishment terhadap “Kenakalan” Siswa

Cerita 1 (level SD, keributan ketika sholat berlangsung)
Ketika sholat berlangsung, masih terdengar kelakar siswa, saling ganggu antar mereka dan berbagai aktivitas lainnya yang membuat sholat kurang nyaman serta mengganggu jamaah dewasa. Selesai sholat Imam sholat memberikan pengarahan dengan menanyakan kepada siswa tentang perbuatan jujur, kenyamanan ketika berbuat jujur, balasan terhadap perbuatan jujur. Siswa antusias mendengarkan penjelasan  dari Imam sholat. Selanjutnya Imam sholat ini bertanya kepada siswa, “siapa yang ingin mendapatkan balasan dari amal kejujuran?” Sudah pasti siswa antusias menjawab dengan jawaban mendukung dan memilih perbuatan jujur. “Siapa yang ingin menjadi orang jujur?”, jawaban pasti sama. Ketika Imam sholat tadi bertanya, “Jawab dengan jujur, siapa tadi ketika sholat masih “belum” tertib?” (“belum” pengganti kata “tidak”). Apa reaksi siswa? Ternyata banyak siswa yang mengajukan diri sebagai anak yang jujur karena belum tertib sholat. Imam sholat mempersilakan siswa yang tertib sholat untuk meninggalkan masjid lebih dahulu. Kemudian Imam sholat tadi bertanya ke beberapa siswa sebagai bentuk mewakili siswa yang jujur tadi dengan pertanyaan,”hukuman apa yang kalian minta?” (sebagai bentuk mengedepankan dialog). Apa jawaban dari beberapa siswa tadi? Beragam dan tergambar di siswa hukuman fisik minimal membersihkan wc! Kemudian Imam sholat tadi memberikan alternative hukuman, untuk mengulangi sholat dan berzikir istighfar serta mengurangi menit istirahat mereka. Siswa setuju dan melaksanakan hukuman tersebut dan mendapatkan apresiasi khusus terhadap kejujuran mereka.

Cerita 2 (level SD kelas atas, keributan ketika proses belajar berlangsung)
Guru memberikan hukuman untuk membaca buku diperpustakaan selama jam istirahat dan harus memberikan laporannya (resume) bila selesai melaksanakan hukuman.

Cerita 3 (level SMP, graffiti di dinding sekolah)
Guru memberikan hukuman berupa mencat ulang dengan warna netral dan terakhir mereka diminta membuat graffiti yang terbaik dan enak bila dipandang karena nilai seni yang dimiliki.

Cerita 4 (Level SMP, siswa merokok dan terlibat narkoba)
Guru bertanya dan bicara dari hati ke hati, ternyata siswa mengalami trauma keluarga yang “brokenhome”. Guru memberi solusi kepada siswa untuk dapat curhat setiap saat ketika muncul permasalahan tanpa memberi hukuman. Siswa merasa terpecahkan masalah yang dihadapi dengan pendampingan dan nyaman.

Cerita 5 (Cerita Anda).
Saya yakin, anda sebagai guru pasti memiliki pengalaman unik dalam menangani “kenakalan” siswa atau siswa bermasalah tanpa menggunakan hukuman fisik dan lisan yang berlebihan dan dengan menggunakan pendekatan kreatif, manusiawi dan berkesan. Tidak hanya dalam pembelajaran saja mengenal istilah PAIKEM GEMBROT dan PAIMO GANTENG, tetapi dalam manajemen punishment juga perlu istilah tersebut diterapkan. Selamat mencoba. Sukses Guruku Sukses Generasiku Sukses Negeriku.

(24-11-11, gOESpRIE)