DAYA ANTISIPASI

Bangsa ini seolah sudah hilang daya antisipasi terhadap segala hal. Beberapa peristiwa yang mengorbankan banyak hal sering terjadi secara berulang tanpa ada antisipasi. Tapi ada juga kebanggaannya karena bangsa ini punya ilmu turunan dari master pembangunan seperti Sangkuriang dan Bandung Bondowoso. Dengan ilmu turunan ini dapat membuat sesuatu dengan cara yang sesingkat-singkatnya.

Bangunan semegah apapun, stadion seindah apapun, jembatan semewah apapun, jalan sebagus apapun, dan bendungan se-ombo apapun dapat dibuat dengan waktu relative cepat untuk ukuran normal sebuah perancangan. Hanya saja ketika bentuk pembangunan tersebut sudah selesai, ya selesai segalanya tinggal pesta pora. Perkara perawatan rutin, pemeliharaan dan perbaikan rutin menunggu rancangan pesta pora baru. Itu belum termasuk penambahan aksesori pelengkap atau tambahan. Maka tidak aneh bila jalan tambal sulam, saluran drainase bongkar pasang, bangunan bongkar tambal dan berbagai macam kegiatan sejenisnya.
Belum lagi bila terjadi peristiwa kemanusiaan misal seperti kecelakaan moda transportasi, robohnya sebuah bangunan atau jembatan, banjir tahunan, kebakaran besar, dan sejenisnya, terkadang yang dicari bukan solusi penyelesaian dan antisipasi di masa datang. Yang dicari hanyalah celah kesalahan siapa hal demikian yang terjadi tanpa sebuah desain solusi masa datang dan jangka panjang.

Bagi orang awam ketika melihat jalan sering banyak lubangnya, muncul pertanyaan berapa daya beban maksimal dari desain jalan, bagaimana kualitas pengerjaannya, atau sedikit menggelitik bagaimana kualitas para pemborong dan pejabat pemerintahan pelaksana yang berwenang dalam menangani proyek. Kalau di jalan yang demikian bisa terjadi kecelakaan tunggal hingga beruntun, tapi kalau untuk gedung, jembatan, tanggul dan bendungan, apakah terpikir berapa korban yang akan jatuh akibat “kesalah urusan” proyek? Kalau terjadi sekali, bisa mencari kambing hitam, tetapi bila terjadi berkali-kali di negeri ini, berapa ekor kambing hitam yang akan dicari? Bayangkan, jangan-jangan besok mencari kerbau hitam, saking banyaknya masalah yang terjadi, kejadian yang melanda secara berulang dalam bentuk yang sama.

Maaf, korupsi terjadi berulang kali dari kelas teri hingga kelas kakap, sementara kakap kurang besar, kelas gunung es mulai terjadi. Jangan-jangan bangsa yang besar ini ambruk gara-gara banyak gunung es kebobrokan mental para pengurus negeri. Daya antisipasi terhadap sesuatu hal dikalahkan dengan berbagai kepentingan individu atau golongan. Lalu bagaimana wujud negeri ini ke depan? Yah….saya hanya wong alit dari sekian banyak wong alit yang dikerjain wong elit. Padahal wong elit dapat tegak karena dukungan wong alit.

(GoespriE, 28-11-11)