RAHASIA DI BALIK KESUKSESAN SEORANG LAKI-LAKI

Pernahkah Anda terpikir ketika melihat seseorang laki-laki yang sudah berkeluarga sukses dikarenakan dukungan siapa? Apakah karena hanya memiliki kecerdasan dan ketrampilan saja? Atau karena sudah memiliki bakat turunan dari orangtua yang memang sukses tujuh turunan? Atau karena ada koneksi dari orang-orang sukses semata? Atau karena kecerdikannya dalam melobi setiap kesuksesan sehingga kesuksesan itu menghampirinya?

Kalau dianalisa sementara, terlepas dari setuju atau tidak setuju, atau persetujuan dari Anda selaku pembaca, menurut saya bahwa seorang laki-laki yang sudah berkeluarga sukses karena didukung dan didampingi oleh dua orang wanita yang luar biasa di sisinya. Protes, silahkan… .Siapakah mereka?

Mereka adalah seorang Ibu yang luar biasa dan Istri yang luar biasa.

Pertama, banyak catatan dalam sejarah, bahwa dari tangan seorang Ibu yang luar biasa dapat membimbing anak laki-lakinya menjadi seorang yang hebat. Sejarah kenabian, bagaimana sosok Isma’il as yang luar biasa dikarenakan sosok Ibu Siti Hajar di sisinya yang selalu membimbing dan memotivasinya, sehingga Allah SwT mencatat dan menjadikan sebagian aktivitasnya dinapaktilasi sebagian besar umat di dunia melalui ritual Haji. Bagaimana pula sosok ‘Isa as yang luar biasa yang dapat melampaui cobaan dan ujian dari bangsa yang paling keji dan licik di dunia dan Allah juga mengangkatnya kepada derajat mulia di sisiNya serta menyelamatkan beliau di perjuangan akhirnya. Ini tidak lepas dari olahan tangan, bimbingan dari seorang Ibu Maryam yang luar biasa yang Allah SwT juga muliakan dari sekalian makhluk di dunia. Masih banyak lagi.

Sejarah kekinian, kalau boleh saya mengambil sosok pak Habiebie (maaf, saya mengagumi beliau karena prestasi beliau sebagai putra Bangsa Indonesia). Bagaimana beliau setelah ditinggal oleh Sang Bapak, sang Ibundanyalah yang menangani potensi yang dimiliki beliau hingga beliau menapaki kesuksesan di bidangnya. Ternyata tidak pernah lepas aliran air bah motivasi dan doa yang mengalir dari sang Ibunda kepada beliau. Masih banyak catatan lain yang mungkin tidak sempat tertuliskan dalam tulisan ini.

Memang sosok Ibu, memiliki peran utama dan pertama dalam mencetak kesuksesan seorang anak. Bahkan dalam Islam menempatkan sosok Ibu sebagai Madrasah pertama bagi sang anak, dan meletakkan pondasi kuat bagi perkembangan sang anak ke depan. Pada zaman modern sekarang, banyak pula sosok ibu yang kehilangan peran sebagai ibu bagi anaknya. Memang ia sebagai ibu biologis bagi sang anak tetapi bukan sebagai ibu psikologis bagi sang anak. Karena sibuknya maka peran ibu diganti dengan peran baby sitter sejak sang anak masih berada dalam buaian . Padahal sang anak masih membutuhkan degupan jantung kasih sayang sang ibu, belaian kasih tangan yang mulia, aliran airmata doa yang tulus yang membanjiri semangatnya. Ibu yang demikian pada zaman sekarang sudah langka, justru banyak mereka sibuk dengan karir lupa keluarga (bukan disalahkan karirnya, tapi lupa keluarganya), sibuk menjadikan anak-anak mereka hanya sebagai pajangan semata tanpa peduli proses yang dialami dan dilalui sang anak, memberikan dan memperlakukan anak secara instan layaknya makanan cepat saji yang menjamur, sehingga ketika ada masalah yang melanda anak ditangani layaknya warga kampung yang menangani kebakaran dengan penuh kepanikan.

Anda sebagai Ibu yang mana? Ibu pencetak generasi yang berkualitas atau Ibu pencetak generasi yang bermasalah.

Kedua, tidak sedikit laki-laki berhasil ternyata didampingi oleh sosok Istri yang luar biasa. Para pendamping suami ini terus memberikan support positip kepada mereka, menikmati setiap ujian dan cobaan yang dialami sang suami dan memberikan solusi-solusi terbaik dalam perjalanan perjuangan kehidupannya. Tidak menciptakan kelompok suami-suami takut istri, atau menjadikan suami-suami yang menyeleweng, atau menjadikan dirinya bayang-bayang bagi suaminya dalam berperan di tugasnya sehingga para anggota atau pegawai lebih takut pada istri atasannya ketimbang atasannya sendiri. Ada pepatah mengatakan bila ingin menguasai suami, jadilah budaknya. Tapi pepatah ini sifatnya netral, bila untuk keburukan hasilnyapun keburukan, dan bila untuk kebaikan maka hasilnyapun kebaikan.

Dalam sejarah kenabian, sosok Ibrahim as, bagaimana ia bisa menyelesaikan tugas kenabiannya membimbing umat dan amalnya dinapak tilasi oleh umat kemudian, ini tidak lepas dari pendampingan sosok istri-istri beliau yang luar biasa, dan beliau dijuluki dengan julukan sepanjang zaman, Bapak Para Anbiya’. Sosok Rasulullah Muhammad saw, bagaimana ketika menghadapi tentangan dari bangsanya sendiri dalam dakwah, ketika menerima amanah berat sebagai Rasul dan Nabi dari Sang Pencipta Alam Semesta Azza wa Jalla, ketika didera bebatuan di negeri Thaif, dan banyak bagian perjalanan dakwahnya, tidak lepas dari motivasi dan belaian semangat dari sang Istri beliau. Bahkan seorang sahabat Umar bin Khattab ra, memilihkan seorang istri yang berkarakter untuk sang anaknya dan menghasilkan anak yang luar biasa yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang fenomenal.

Anda sebagai Istri seperti apa? Istri sebagai pendamping suami untuk menjadikan suami tegar dan menjadi yang terbaik di riwayat hidupnya atau Istri sebagai pendamping suami untuk menjadikan suami terlempar jauh dari sejarah kehidupan dengan mengisi sejarah buram di kehidupan keluarga dan masyarakatnya.

Saya doakan, Anda menjadi seorang Istri bagi Suami Anda yang tercatat dalam sejarah kehidupan penuh dengan kebaikan dan menjadi seorang Ibu bagi Anak-anak Anda yang tercatat dalam sejarah kehidupan menjadi manusia yang terbaik dan bermanfaat bagi kehidupan.

(GoesPrie, 8 – 12 – 2011)