Apa Salahnya ‘Tahi Lalat

Apa sih ‘Tahi Lalat’ itu? Menurut catatan dari medis, dr. Gunawan Budisantoso, Sp.KK, tahi lalat sebetulnya merupakan tanda lahir berupa satu massa yang umumnya berwarna cokelat atau hitam. Ada juga tahi lalat yang warnanya sewarna kulit. Tahi lalat yang berwarna cokelat atau hitam mengindikasikan terjadinya penumpukkan pigmen. Terkadang, kita jumpai orang tua yang memiliki banyak tahi lalat, anaknya pun punya banyak tahi lalat. Yang juga perlu diwaspadai jika tahi lalat muncul setelah dewasa, apalagi kemudian melebar dari hanya satu titik menjadi beberapa titik, karena dikhawatirkan sebagai bibit dari sebuah penyakit yang memakan sel hidup yang ada.(sumber:  http://kesehatan.kompas.com/read/2009/07/01/09401771/kapan.tahi.lalat.harus.diangkat) Tumbuhnya tahi lalat lebih cepat dan banyak di usia tua biasanya dikarenakan sel kulit yang mati yang tidak bisa regeneratif sel baru lagi, pengaruh radiasi atau polusi lingkungan yang mempengaruhi sel kulit, pengaruh zat aditif (pengawet, pewarna dan atau penyedap) yang terdapat pada makanan, atau akibat residu obat kimia yang tertinggal di tubuh yang berpengaruh terhadap sel kulit tua.

Tetapi ketika kita coba browsing di mesin pencari (search engine) di internet ternyata sebagian besar hasilnya di tiap laman hasil searching kebanyakan menjelaskan makna dari ‘Tahi Lalat’ dan sedikit menjelaskan apa itu ‘Tahi Lalat’, mengapa dan dimana tumbuh di bagian tubuh, dan bahasan secara detail penyebab dan akibat tumbuhnya (barangkali saya belum optimal mencari informasinya). Padahal ciptaan dari Sang Maha Kreasi ini jelas ada maksud. Apakah itu akan menambah keindahan/manis tampilan dan ciri khas pemilik, ada kehati-hatian kita terhadap kesehatan yang diakibatkan oleh makanan atau minuman yang kita asup, atau sikap kehatian kita terhadap kebersihan diri.

Kita tidak bisa nalar dan logis, andaikan letak ‘tahi lalat’ tersebut menurut penilaian secara mitos, mistis, primbon, ramalan atau sejenisnya, akan mendatangkan sebuah keberuntungan atau keburukan bagi pemilik ‘tahi lalat’. Misalnya, ‘tahi lalat’ yang terletak di punggung kiri memiliki arti malas, di betis kanan berarti boros. Sementara bila terletak di betis kiri berarti rajin dan di hidung berati banyak rejekinya. Bayangkan seberapa menderita orang yang memiliki ‘tahi lalat’ di punggung kiri dan betis kanan. Dan berusaha merubah nasib dengan memindahkan ‘tahi lalat’ tersebut dari tempatnya, dan atau membuat ‘tahi lalat’ tertentu seperti di hidung semua agar banyak rejekinya (wah, ada peluang bisnis baru nih yaitu jasa membuat ‘tahi lalat’ di hidung dengan tarif lumayan). Terkadang kepercayaan ini, membuat seseorang pasif dalam hal mengubah nasib (baca: takdir). Dan kepercayaan demikian memang terlalu menguras pikiran dan energy, padahal jelas tidak ada manfaat dan mudharat sesuatu apapun kecuali atas kehendak Allah, sang Pencipta ‘tahi lalat’. Bahkan bila kita percaya dan terlalu percaya akan hal demikian, kita dianggap mendua terhadap Allah, sang Pencipta ‘tahi lalat’, atau bahasa teologinya ‘syirik’, karena seolah ada sesuatu yang lain selain Dia yang menentukan rejeki dan keberuntungan seseorang.

Disyukuri saja atas ‘tahi lalat’ yang ada di bagian tubuh Anda, minimal sebagai bagian yang memperindah atau mempercantik penampilan dan tubuh Anda. Tanpa ada prasangka tertentu dengan kehadirannya.

(GoesPrie, 19 – 12 – 11).