ORA ILOK

Ora ilok, istilah merupakan kosa kata bahasa Jawa yang memiliki padanan kata Ora Elok atau Tidak Bagus menurut pandangan orang terhadap sesuatu perbuatan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Umumnya kata-kata ini disampaikan oleh para orangtua terhadap anaknya yang masih kecil atau remaja sebagai bentuk pengingat perbuatan yang dilakukan yang tidak sesuai dengan suatu aturan atau norma atau sebuah pantangan. Dalam bahasa lain, yaitu bahasa Sunda sering disebut dengan Pamali.Sebagai contoh :

1.Seorang anak yang makan sambil duduk ditengah-tengah pintu, maka orangtua mengingatkan dengan kata-kata ‘Ora Ilok, mangan nang tengah lawang’. Tujuannya baik, bisa jadi kurang sopan, bukan pada tempatnya, atau nanti menghalangi orang yang akan lewat. Perbuatan yang dilakukan tersebut dinilai kurang sopan untuk tata karma di budaya Jawa dan sebagian budaya lainnya.

2.Seorang remaja perempuan menyapu pada saat waktu petang menjelang malam dan membuang sampahnya di depan pintu, maka orangtua mengingatkan dengan kata-kata ‘Ora Ilok, ojo nyapu surup-surup, karo mbuang sampah ne nang ngarep lawang’. Tujuannya baik, kalau menyapu petang-petang menjelang malam, sampah tidak terlihat kurang jelas sehingga kurang bersih. Dan apalagi membuang sampah di depan pintu, maka kesannya ‘jorok’ serta bila yang melakukan remaja perempuan, ada kesan perempuan tersebut juga ‘jorok’.

3.Membeli jarum atau minyak tanah atau minyak goreng pada waktu malam-malam, maka orangtua biasanya mengingatkan ‘Ora Ilok, ojo tuku dom wengi-wengi’ atau ‘Ora ilok, ojo tuku potro wengi-wengi’. Tujuannya baik juga, bisa jadi nanti menyusahkan penjual untuk mengambil jarum dan dikhawatirkan ada yang jatuh atau membahayakan sang penjual. Atau bila minyak, nanti timbangannya bisa dicurangi oleh sang penjual atau menyusahkan penjual harus berbau-bau atau berkotor-kotor pada malam hari dengan minyak tanah.

Masih banyak lagi aktivitas atau perilaku lainnya yang terkena dengan label ‘Ola Ilok’ bila dilakukan. Bersiul pada malam hari, makan ‘intip’ atau kerak nasi yang diberi kuah di panci, makan brutu (tungging) ayam untuk remaja, dan sebagainya. Semua itu ada dikarenakan untuk dihubungkan dengan adab dan perilaku semata yang kurang pantas dengan kesopanan, aturan budaya kebaikan masyarakat setempat atau masyarakat umum dan aturan agama. Kemudian berkembang pula dan dihubungkan dengan masalah mistis atau takdir atau nasib seseorang. Bagi orang rasionalis, menganggap bahwa hal-hal tersebut tidak rasional dan terlalu mengada-ada bila dihubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Tapi bagi orang yang aliran supra natural, menganggap bahwa hal tersebut dianggap biasa karena kita hidup berdampingan dengan makhluk lain yang beda dimensi, sehingga interaksi aktivitas kita sebagai manusia pasti ada dengan makhluk lain yang beda dimensi tersebut. Dan terakhir, sebagai orang agamis, yang mengakui keberadaan  Zat Yang Maha Mengatur yaitu Sang Maha Pencipta segala, tidak semata-mata segala aktivitas tersebut berefek  langsung terhadap takdir seseorang (meliputi jodoh, rejeki, dan maut), dan hanya berhubungan dengan masalah akhlak atau perilaku kesopanan dan kewajaran yang telah diatur dalam aturan agama. (Wallahu a’lam bis showwab).

(GoesPrie, 26 – 12 – 11)