JATUH CINTA DAN MABUK CINTA

 Masih ingat syair lagu “Jatuh Cinta” yang dipopulerkan Edi Silitonga di tahun akhir 70an, kalau tidak salah, yang potongan syairnya seperti ini:

Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam, terbayang wajahnya
Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar hitam biar putih, manis nampaknya

Biar jauh aku cemas tapi hati rindu
Biar dekat aku senang tapi salah tingkah …dst

Syair di atas menunjukkan sebuah rasa yang ada dalam diri seseorang yang sedang  jatuh cinta dan sekaligus mabuk cinta, karena tidak kenal waktu selalu mengingat, tidak kenal rupa selalu terbayang indah, jauh rindu, dekat jual mahal. Mau makan ingat kamu, mau tidur ingat kamu, mau mck ingat handuk…

Perasaan cinta adalah sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia yang bersifat fitrah, bayangkan bila perasaan cinta itu tidak ada dalam diri manusia pasti kehidupan ini hambar layaknya sayur asem tidak terasa asem, sayur lodeh tidak nampak santan, dan sambal terasi tidak terasa pedasnya. Perasaan cinta itu ada untuk sesuatu yang ada di sekitar seseorang, bisa berwujud maupun tidak berwujud tapi eksistensinya ada. Perasaan cinta tersebut bisa terhadap seseorang yang menjadi pasangan hidup, orangtua, anak cucu, harta kekayaan, kekuasaan, dan jabatan. Dalam Islam, fitrah perasaan cinta itu sudah dinyatakan dalam Q.S.Ali Imron ayat 14, yang terjamahannya adalah “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak,  dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia”. Perasaan cinta tersebut bila telah menggumpal dalam hati maka seseorang akan terasa mabuk cinta dengan segala ciri-cirinya yang ada. Adapun seseorang bila sudah terserang perasaan cinta hingga demam cinta atau mabuk cinta memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

1.Selalu berusaha mencintai ‘apa-apa’ yang dicintai oleh yang ia cintai.

2.Selalu berusaha membenci ‘apa-apa’ yang dibenci oleh yang ia cintai.

3.Selalu merindu dan hati terasa bergetar bila mendengar hal-hal yang berhubungan dengan yang ia cintai.

4.Selalu membaca surat cinta yang terkirim, atau tulisan-tulisan yang berhubungan dengan yang ia cintai.

5.Selalu menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia cintai.

6.Terkadang bertingkah laku di luar rasional dan berkorban apapun demi yang dicintainya.

Selalu berusaha mencintai ‘apa-apa’ yang dicintai oleh yang ia cintai

Ketika seseorang mencintai sesuatu atau seseorang maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencintai apapun yang dicintai oleh yang ia cintai, walaupun sebenarnya ia tidak suka. Tujuannya agar ia mendapatkan cinta yang lebih dari yang ia cintai. Contoh, seseorang laki-laki mencintai seorang perempuan yang ‘demen’ banget dengan olahan serba jengkol maka ia akan berusaha menyesuaikan diri untuk menyukai kesukaan perempuan yang ia cintainya dengan cara menyukai semua olahan serba jengkol, walaupun sebenarnya ia tidak suka. Tujuannya agar ia mendapatkan cintanya.

Selalu berusaha membenci ‘apa-apa’ yang dibenci oleh yang ia cintai

Dan sebaliknya, ketika seseorang mencintai atau seseorang ia berusaha sekuat tenaga untuk membenci ‘apa-apa’ yang dibenci oleh yang ia cintai. Agar ia terlihat sempurna dalam hal kecintaannya terhadap yang ia cintai. Seorang laki-laki ketika cinta kepada seseorang perempuan, kemudian perempuan tersebut membenci rokok, maka ia akan berusaha meninggalkan kebiasaan merokoknya agar sang pujaan hatinya mencurahkan kecintaannya yang lebih. (Dasar Pak Aya darat……..).

Selalu merindu dan hati terasa bergetar bila mendengar hal-hal yang berhubungan dengan yang ia cintai

Ketika seseorang jauh dengan seseorang yang ia cintai, maka akan tumbuh benih kerinduan untuk berjumpa, rindu untuk selalu bersama serasa dunia hanya milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak. Dalam hati akan selalu bergetar bila nama yang ia cintai disebut, tersebut, terdengar, terpampang (asal bukan dipapan nisan, dijamin bukan bergetar tapi pingsan…). Ingin selalu berkomunikasi dengan bahasa tulisan maupun bahasa lisan setiap saat.

Selalu membaca surat cinta yang terkirim, atau tulisan-tulisan yang berhubungan dengan yang ia cintai

Ketika perasaan rindu tersebut sudah terobati dengan mendengar suara atau tulisan berupa surat yang terkirim, maka ia akan berusaha selalu berulang-ulang membaca surat cintanya. Tidak kenal malam maupun siang, tulisannya mewakili keberadaan diri. Belum lagi bila disisipkan siluet wajah yang ia cintai, semakin sering ia baca dan semakin tinggi rasa rindu tersebut hingga berharap berjumpa.

Selalu menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia cintai

Ada hal-hal yang sering disebut berkenaan dengan diri yang ia cintai, mulai dari kesukaan, warna, buku, cerita, tempat istimewa, dan apapun…(mulai mabuk dan gila cinta).

Terkadang bertingkah laku di luar rasional dan berkorban apapun demi yang dicintainya

Ketika ciri di atas sudah bermunculan, maka timbul penyakit mabuk cinta yang aneh. Ia akan bertingkah laku di luar rasional dan akan berkorban apapun demi yang ia cintai. Ia akan berpolah tidur tak nyenyak (banyak nyamuk), makan tak kenyang (makan engkol doang) dan mandi tak basah (nyirami tembok kali…), bahkan (maaf) t41 kucing rasa coklat, makan broklat terasa nikmat, ini pasti sedang kumat. Andaikan gunung tinggi pasti didaki, lautan dalam pasti disebrangi, nyawa lepaspun akan rela demi yang ia cintai, ini kondisi gawat darurat….

Andaikata yang ia cintai bersifat nisbi, alamak alangkah ruginya…dengan segala ciri-ciri yang muncul seperti di atas. Mencintai manusia, maka akan dibatasi umur dan kondisi tubuh, mencintai harta kekayaan tidak akan dibawa hingga liang kubur seberapa banyaknya harta, mencintai kekuasaan dan jabatan siap untuk berebut dengan orang mencintainya juga. Artinya kecintaan tersebut ada batasnya. Dan terkadang ketika mencintai sesuatu yang nisbi harus siap menemui cinta yang bertepuk sebelah tangan, ketika mencintai sesuatu yang nisbi juga harus siap menemui kekecewaan-kekecewaan. Banyak yang putus cinta dan akhirnya patah hati kemudian mengakhiri hidup diri, cinta dibawa mati sambil gigit jari. Rugi dunia dan rugi pula di akhirat…..

Mari kita bicara cinta yang hakiki…., yaitu cinta yang abadi yang ia rasakan ketika di dunia hingga mati bahkan di hari akhir nanti. Cinta hakiki yang abadi terbawa hingga di surgawi. Cinta tersebut adalah cinta kepada Tuhan Sang Pencipta diri, yaitu Allah Rabbil Izzati. Ciri-ciri yang tumbuh pada diri berbeda ketika kita mencintai hal yang nisbi. Cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan. Ciri-ciri tersebut adalah :

1.Ketika mencintaiNya maka Ia akan mencintai kita dengan sepenuh apa harapan kita yang ada (Yuhibbuhum wa yuhibbunahu, QS.Al Maidah ayat 54).

2.Ketika mencintai ‘apa-apa’ yang Ia cintai maka Ia akan memberikan apapun sebagaimana yang telah ia berikan kepada orang-orang yang Ia cintai dan pendampingannya (Fa ulaika ma’aladzina an’amallahu ‘alaihim…, QS.An Nisa ayat 69).

3.Ketika membenci ‘apa-apa’ yang Ia benci maka Ia akan memberikan perlindungan dari hal-hal atau sesuatu dari ‘apa-apa’ yang dibencinya (QS.Al Baqarah ayat 214, Al Fath ayat 3-4).

4.Selalu merindu dan terasa getaran dalam hati serta sering membaca surat cintaNya, sehingga akan merasakan ketenangan akan keberadaan dan kebersamaanNya sepanjang waktu (QS.Al Fath ayat 4,18,26, QS.Az Zumar ayat 23, QS.Ar Radu ayat 28).

5.Selalu menyebut hal-hal yang berhubungan dengan yang Ia (Allah) cintai, karena banyak hal-hal maupun sesuatu sering ia dapatkan dari yang ia cintai sekecil apapun merupakan bentuk curahan cinta dan kecintaanNya terhadap dirinya.

6.Berkorban dan bertingkah laku di luar kebiasaan umum (hal yang luar biasa dihadapan yang ia cintai), seperti lebih sering membaca surat cintaNya ketika yang lain sibuk mencintai surat-surat lain, sering bersujud ketika yang lain mendengkur, sering bertafakur ketika yang lain takabur, sering berkorban ketika yang lain mencari yang dikorbankan, banyak bersyukur ketika yang lain banyak kufur, sering menitikan airmata ketika yang lain banyak tertawa, dan hal-hal lain yang menambah kecintaannya kepada yang dicintainya, dan mendapatkan kecintaanNya serta keridhoanNya dikarenakan kecintaan dan keridhoannya terhadapNya (Rodhiallahu ‘anhum wa rodhu anhu, QS.Al Bayyinah ayat 8).

Jatuh Cinta dan Mabuk Cinta ada yang nisbi atau relatif dan ada yang hakiki lagi abadi….

(GoesPrie, 16 – 1 – 12)