GURU

Guru dalam bahasa Indonesia menurut arti secara harfiyah adalah seseorang yang mengajarkan sesuatu kepada orang lain agar supaya orang lain tersebut mengalami perubahan dari sisi pengetahuan, perilaku maupun ketrampilan, terlepas baik maupun buruk tetapi lebih dikhususkan untuk hal-hal kebaikan. Padanan kata guru dalam beberapa bahasa adalah:

Dalam bahasa Inggris :

1.Teacher, asal kata dari teach yang berarti mengajar, pengajar.
2.Learner, asal kata dari learn yang berarti belajar, pembelajar.
3.Trainer, asal kata dari trainee yang berarti melatih, pelatih.
4.Motivator, asal kata dari motivation yang berarti memotivasi, pemotivasi.
5.Inspirator, asal kata dari inspiration yang berarti inspirasi, penginspirasi.
6.Inovator, asal kata dari innovation yang berarti inovasi, penginovasi.

Dalam bahasa Arab :

1.Mudarib, memiliki maksud seseorang yang memberikan suatu bentuk ketrampilan kepada seseorang  lain sehingga seseorang lain tersebut memiliki ketrampilan hingga tingkat mahir atau menguasai.
2.Murabbi, memiliki maksud  seseorang yang membina, membentuk, mengawal, mengawasi, memberi teladan orang lain sehingga orang lain tersebut mengalami perubahan dalam hal karakter, perilaku, sifat dan sikap dalam hal kebaikan-kebaikan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya.
3.Ustadz/Asatidz
4.Syuyukh, memiliki maksud seseorang yang dituakan (syekh) dan tempat meminta nasehat serta pendapatnya dalam hal sesuatu kebaikan dalam kehidupan.
5.Mu’alim, memiliki maksud seseorang yang diberikan kelebihan ilmu pengetahuan, dimana ilmu pengetahuan tersebut ditularkan atau diturunkan kepada orang lain yang belajar menimba ilmu darinya.
6.Mursyid, memiliki maksud seseorang yang dianggap bijaksana dalam segala hal karena keluasan ilmunya sehingga dipercaya dalam hal kepemimpinan dan kepembinaannya.
7.Duat/Da’i, memiliki maksud seseorang yang mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam perbuatan, mencegah keburukan-keburukan.

Dalam bahasa Sansekerta dan rumpun bahasa yang menggunakannya :

Guru (sumber : www.wikipedia.org), berarti berat, berat dengan pengetahuan, berat dengan hikmah rohani, berat dengan berat badan rohani aktivitas rohaninya (aktivitas ibadahnya), berat dengan baik kualitas tulisan suci dan realisasi, atau berat dengan kekayaan pengetahuan. Kata ini berakar pada bahasa Sansekerta GRI (untuk memanggil, atau pujian), dan mungkin memiliki sambungan ke kata gur, yang berarti untuk menaikkan, angkat, atau untuk membuat usaha, atau menaikkan derajat orang-orang yang  dibimbingnya.

Dalam bahasa Jawi, sering suatu kata merupakan singkatan dari beberapa suku kata, sehingga Guru singkatan dari digugu lan ditiru, digugu berarti dituruti segala nasehat-nasehatnya dan ditiru berarti ditiru perilaku-perilakunya dalam hal bentuk kebaikan-kebaikan.

Terkadang memiliki makna wagu lan saru, wagu berarti tidak pantas untuk ditiru dan saru berarti sering berperilaku yang tidak layak secara kesopanan baik perkataan maupun perbuatan.

Dalam ajaran Islam, guru seharusnya hampir sepadan (hampir ideal) dengan orang yang berilmu, menyebarkan kebaikan-kebaikan, menyampaikan hikmah-hikmah dalam kehidupan, mengajarkan bagaimana mensucikan diri sebagaimana halnya tugas para nabi wal mursalin (rasul).  Dalam QS.Al Baqarah ayat 151, dijelaskan : “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Al hikmah adalah suatu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan yang tersembunyi dibalik sesuatu peristiwa, kejadian atau permasalahan. Ayat-ayat Kami maksudnya ayat-ayat qauliyah (tertulis) maupun ayat kauniyah (terhampar di semesta alam ini). Sementara dalam QS. Ali Imron ayat 79 dijelaskan pula, “…Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. Seorang guru tidak hanya sibuk mengajar tetapi juga tetap belajar, sebagai bentuk kepeduliannya dalam meng-upgrade keilmuannya dan mengikuti perkembangan ilmu.

Ditilik dari perundang-undangan di Indonesia, guru diharapkan memiliki empat kompetensi yang merupakan pengejawantahan makna-makna guru dari berbagai sumber di atas. Keempat kompetensi itu adalah kompetensi kepribadian, sosial, pedagogik dan keprofesionalan. Kompetensi kepribadian mengarahkan kepada sebuah kematangan pribadi dan hubungannya dengan Sang Pencipta, kompetensi sosial mengarahkan sebuah kematangan hubungan sosial kemasyarakatan dan perannya sebagai anggota masyarakat. Sementara dua kompetensi terakhir merupakan tuntutan dan kebutuhan dari profesinya.

Dilihat fenomena kondisi guru sekarang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok guru, yaitu :

1.Guru dasar, yaitu guru yang memiliki semangat mengajar dan mendidik cukup tinggi tetapi sedikit memiliki kesempatan untuk menambah/meng-upgrade kompetensinya sebagai guru. Mereka memiliki kepedulian terhadap pendidikan cukup tinggi pula dan biasanya terdapat di daerah-daerah terpencil, asal tidak karena terpaksa.

2.Guru bayar, yaitu guru yang selalu berhitung-hitung dengan apa ia lakukan dengan nilai uang dan sedikit sekali mereka mau mengupgrade diri. Fenomena ini ada pada saat ini di Indonesia, dimana guru-guru mengejar tunjangan sertifikasi dan ketika mereka telah mendapatkannya, kembali ke selera asal. Bahkan kalau bisa mencari celah lain untuk menambah kantung-kantung mereka dengan menjadi guru terbang, terbang kemana-mana, sementara siswanya ditinggali tugas mandiri tanpa bimbingan.

3.Guru nyamar, yaitu seseorang yang tidak memiliki niat sebagai guru dan kurang (bahkan tidak) memiliki kompetensi sebagai guru, tetapi memaksakan diri menjadi guru. Mereka melakukan hal ini sebagai strategi batu loncatan untuk mencari pekerjaan lain-bukan guru (daripada menganggur…).

4.Guru nyasar, yaitu seseorang yang memiliki niat dan semangat sebagai guru, memiliki sedikit kompetensi sebagai guru serta kepedulian terhadap pendidikan tetapi belum memiliki kualifikasi sebagai guru. Bahkan mereka rela belajar ulang atau mulai dari nol/dasar sebagai guru.

5.Guru benar, seseorang yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sebagai guru, memiliki niat dan kepedulian terhadap pendidikan dan anak didik, mau meng-upgarde diri terhadap profesinya, memiliki prasasti dan prestasi dalam dunia pendidikan atau lainnya.

Kembali ke makna GURU, bahwa ternyata profesi guru itu tidak main-main karena memiliki nilai tanggungjawab dunia akhirat. Di dunia, guru sebagai pembentuk generasi-generasi sebuah negeri, generasi sebuah bangsa dan generasi umat manusia, di akhirat sebagai mencetak ahli-ahli syurga. Wajar Guru memiliki makna BERAT (Bahasa Sansekerta), sungguh berat amanah yang harus diemban tapi imbang dengan balasan yang akan di dapat di akhirat (di dunia relatif),….semoga.

(GoesPrie, 21 – 1 – 12)