SYARAT MAKANAN DAN MINUMAN BAGI MANUSIA (1)

Manusia sebagai makhluk hidup membutuhkan asupan berupa makanan dan minuman untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bagi tubuhnya. Dengan demikian manusia dapat bertahan dalam kehidupannya di bumi ini berkembang biak dan berdampingan dengan makhluk hidup lainnya. Manusia merupakan jenis makhluk hidup yang bisa memakan apa saja yang sering diistilahkan dengan omnivore (tidak termasuk yang bisa makan aspal, besi,semen dan sejenisnya…), berbeda dengan makhluk hewan, ada yang herbivore, carnivore, insetivora dan omnivore. Artinya manusia dapat makan tumbuhan dan daging, termasuk jenis serangga.

Dari tiap asupan tersebut memiliki karakteristik masing-masing dan memiliki pengaruh terhadap tubuh manusia, baik itu pengaruh secara genetik fisik, kesehatan maupun secara sifat perilaku manusia. Wajar bila ada sebagian manusia mencoba membatasi terhadap kelompok makanan tertentu, seperti ada kelompok vegetarian murni, semi vegetarian, dan kelompok yang tidak melihat pantangan apapun. Kelompok vegetarian murni adalah kelompok orang-orang yang hanya mengkonsumsi makanan produk tumbuhan saja. Kelompok semi vegetarian, mengkonsumsi juga sebagian produk hewan seperti susu, telur, keju atau lainnya. Kelompok non vegetarian atau kelompok yang tidak melihat pantangan apapun, yaitu mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan maupun hewan dan olahan dari keduannya. Ada pula kelompok manusia membatasi minuman tertentu, seperti hanya minum air putih saja. Bahkan untuk makanan dan minuman suplemen, mereka membatasi diri.

Kita meyakini bahwa apa yang ada di bumi ini diperuntukan manusia tanpa terkecuali, tetapi Sang Pencipta Allah SwT membatasi dengan Ilmu-Nya.  Hanya Allah SwT yang mengetahui karakteristik manusia lebih dari apa yang manusia miliki berupa ilmu dan prasangkanya karena Allah mencipta manusia. Maka Allah mengaturnya melalui syariat (aturan-aturan)Nya yang diturunkan dengan perantara para utusanNya di masing-masing masa. Di dalam ajaran Islam, aturan perkara makanan dan minuman diatur secara sederhana tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Rasulullah SAW pun perbah mengatakan bahwa seluruh penyakit pada manusia berawal dari perut (lambung)nya, maka beliaupun memberikan saran mengenai asupan untuk manusia.

Di dalam Al Qur’an seperti dalam surat Al Baqarah (2) ayat 168, 172, surat Al Maidah (5) ayat 88,  Al A’raf (7) ayat 31, surat Al Anfal (8) ayat 69 dan surat An Nahl ayat 114, secara ringkas disebutkan syarat asupan bagi manusia, yaitu:

1.Halal
2.Thoyyib
3.Tidak berlebihan
4.Syukur

Keempat hal ini yang menjamin bagi manusia sebagai ciptaan Sang Pencipta Al Khaliq, dapat terjaga dari segala hal yang dapat mengganggu kesehatan, genetik maupun sifat perilaku yang buruk yang diakibatkan dari makanan dan minuman yang di asup.

Halal (Syarat Syariat)

Secara bahasa dan sederhana, halal memiliki arti sesuatu yang dibolehkan tanpa larangan menurut hukum agama, lawan dari haram. Hukum halal ini terkadang hanya dihubungkan dengan makanan dan minuman saja, padahal banyak hal yang berhubungan dengan hukum halal. Hukum halal ini merupakan syarat mutlak dan wajib bagi umat Islam berkenaan dengan apapun. Dalam Islam pula segala sesuatu kalau bisa bernilai ibadah, sehingga perkara makanan dan minumanpun bernilai ibadah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan dan minuman dalam Islam banyak yang halal kecuali yang telah ditetapkan keharamannya (tidak dihalalkan). Contoh makanan dan minuman yang telah diharamkan menurut aturan hukum Islam adalah bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih tanpa mengucapkan Asma Allah (lafadz Bismillah); binatang mati dikarenakan tercekik, terpukul, terjatuh, ditanduk, diterkam binatang buas kecuali bila sempat disembelih; dan untuk sesajian berhala atau sejenisnya; khamar (segala sesuatu yang memabukan atau yang menghilangkan akal manusia baik yang melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, maupun saluran darah); hewan-hewan tertentu yang memiliki ciri tertentu seperti hewan buas atau unggas bercakar dan bertaring untuk berburu dan membunuh, hewan yang memakan kotoran (t41), keledai jinak untuk tunggangan (kecuali keledai liar), hewan yang diperintahkan oleh syariat untuk dibunuh (seperti tikus, kalajengking, gagak, rajawali, anjing galak),  dan hewan yang dilarang oleh syariat untuk dibunuh (seperti lebah, semut, burung hudhud, burung shurad-pemangsa pipit, dan katak).

Thoyyib (Syarat Sehat)

Secara bahasa dan sederhana, thoyyib memiliki arti baik dan bila dihubungkan dengan asupan adalah sesuatu makanan dan minuman yang sesuai dengan syarat kesehatan. Artinya makanan dan minuman tersebut mengandung gizi bagi tubuh dan kesehatan tubuh, tidak mengandung zat yang membahayakan tubuh dan kesehatan (zat aditif – pewarna, pengawet , penyedap dan pemanis sintetis), tidak mengandung dan mengundang penyakit, bakteri maupun virus.

Tidak Berlebihan (Syarat Sifat)

Tidak berlebihan merupakan syarat ketiga, hal ini berhubungan dengan sifat atau akhlak manusia yang suka berlebihan (mubazir). Syarat ini juga sebenarnya berhubungan juga dengan kesehatan, sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan berkenaan dengan makan, yaitu “makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang” atau “perut (lambung) ini dibagi tiga, sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiganya udara”. Dalam catatan sejarah, Rasulullah merupakan sosok manusia yang selama hidupnya selalu sehat kecuali dua kali beliau demam (sakit) yaitu ketika disihir oleh orang Yahudi dan menjelang beliau wafat.

Syukur (Syarat Akhlak)

Secara kejiwaan, manusia mendapat ketenangan bila hati sedang tenang, nyaman, tanpa masalah. Manusia mendapat masalah secara psikis ketika hati tidak tenang dan nyaman. Ketika keadaan hati tenang dan nyaman, psikis akan terganggu dan akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tubuh. Salah satu yang membuat hati tenang dan nyaman adalah sikap syukur. Dengan bersyukur seseorang akan menikmati kehidupan tanpa kekhawatiran-kekhawatiran. Pada Al Qur’an banyak ayat berhubungan antara makan dan minum dengan syukur dan taqwa. Mensyukuri pemberian dari Sang Pemberi Rizki berupa makanan-minuman dan kesehatan, bertaqwa dengan menambah nilai amaliyahnya dalam bentuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, dan bisa juga dalam bentuk berbagi dengan orang lain agar menghilangkan sifat jelek manusia dalam diri maupun orang lain. (Bersambung).

(GoesPrie, 25 – 1 – 12)