Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Kalimat peri(h) bahasa ini sudah familiar sejak saya masih SD, yang memiliki maksud bahwa perbuatan buruk seorang guru itu mudah ditiru oleh muridnya dengan tingkat keburukan melebihi dari apa yang dicontohkan.  Memang miris sekali kenyataan di dunia pendidikan bila hal ini terjadi. Banyaknya bentuk kekerasan ditingkat pelajar tidak hanya didapat dari luar lingkungan sekolah dan rumah tetapi juga dari dalam lingkungan sekolah. Antar siswa terkadang ada faktor senioritas dan blok-blok siswa atau grup yang menyebabkan gap/pemisah antar kelompok siswa tertentu. Yang dikhawatirkan juga adalah tindak kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa dalam bentuk non kekerasan fisik tetapi kekerasan lisan dan perlakuan. Kekerasan lisan yang ada pada guru terjadi ketika siswa berada pada posisi tidak memenuhi harapan guru dalam hal pencapaian prestasi belajar. Kata-kata yang sering keluar dari lisan guru inilah yang terekam lama pada siswa kemudian terakumulasi dan terekspresikan dalam bentuk lain di kesempatan yang berbeda. Berbeda lagi bila siswa yang memiliki sikap yang menurut penilaian kewajaran dan kesopanan tidak berkesesuaian, maka bentuk perlakuan kekerasan lisan terkadang lebih kasar lagi. Efeknya, siswa melampiaskan pada kesempatan lain ketika ia menemukan sebuah kekesalan dalam pergaulannya dengan bentuk umpatan-umpatan yang jauh dari kesopanan.

Bentuk lain kekerasan yang dilakukan guru adalah kekerasan perlakuan non fisik berupa diskriminasi hubungan sosial terhadap siswa. Umpamanya sikap mengacuhkan atau sikap tidak peduli atau tidak memberikan perhatian terhadap siswa. Muncul rasa sikap sakit hati pada diri siswa. Ketika muncul perasaan sakit hati pada siswa ini, dapat terlampiaskan pada perlakuan hubungan sosialnya. Ada catatan dendam berlanjut yang terhadap seseorang atau sekelompok orang yang merepresentasikan guru tadi.

Belum lagi bentuk contoh sikap lain yang secara pribadi-pribadi, seperti guru yang suka ngrumpi (alias ghibah atau ngomongiin orang), sering datang terlambat ke sekolah maupun masuk kelas, jarang masuk kelas dan hanya memberi tugas mandiri terus tanpa bimbingan, membuat aturan denda ATK bagi siswa yang melanggar aturan untuk pribadi, merokok, meminta secara langsung maupun tidak langsung balas jasa pada siswa/orangtua siswa ketika kenaikan kelas atau kelulusan sekolah, masih banyak lagi. Efeknya siswa pasti ketika kurang suka dan simpati terhadap seorang guru, maka mereka akan memberikan sebuah julukan tertentu yang kurang baik terhadap guru (aduh…malu-maluin deh).  Wajar sedikit sekali murid-murid mau dan ada bercita-cita menjadi guru, walaupun sekarang mulai banyak yang ingin jadi guru dikarenakan mulai adanya tunjangan sertifikasi guru (menjanjikan nih ye…).

Itu tadi kisah lama dari sebuah peri(h) bahasa, namun bagi orang yang optimis bentuk peri bahasa hendaklah diubah dengan membuat semangat baru, seperti peri bahasa “Guru menanam rumput, Murid menanam pohon”. Ada sebuah bentuk perubahan semangat untuk kebaikan, yakni dengan memberikan contoh kebaikan melalui perkataan, perilaku, dan hubungan sosial antar individu yang dilakukan oleh guru terhadap murid. Para murid akan terkesan sepanjang masa, doanya takkan lupa diperuntukkan kepada guru mereka yang telah membimbing menuju ilmu yang benar, sikap perilaku yang membahagiakan, menuju cita-cita yang mulia dan mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Impian ini merupakan bentuk amal jariyah (amalan kekal dunia akhirat) bagi masing-masing yang bersambung satu dengan lainnya. Ibarat guru menanam rumput yang memberikan keindahan dan kesegaran bagi tanah dan yang tinggal di atasnya, dan ibarat murid yang menanam pepohonan yang memberikan penghijauan dan manfaat siapapun yang berada di bawahnya. Semoga.

(GoesPrie, 31 – 1 – 12)