Kita Orangtua Anak kita ?

Anehkah judul di atas? Pasti seratus persen aneh. Tapi apa benar kita ini orangtua dari anak kita? So pasti dong, khan saya adalah ayah dari anak saya, dan istri saya adalah ibu dari anak saya. Nikahnya resmi ada wali, ada saksi, ada akad nikah berupa ijab dan qabulnya, ada walimahannya, ditambah ada ceramah hikmah pernikahannya…Jadi benar dan tidak salah kita adalah orangtua anak kita….

Sekali lagi…pertanyaannya apa iya….kita orangtua anak kita?

Perlu diketahui bahwa jenis orangtua itu dua yaitu: pertama, orangtua biologis, dan kedua, orangtua hakiki. Apa maksudnya?

Orangtua Biologis

Ya, benar seratus persen, kita merupakan orangtua biologis bagi anak kita. Mereka terlahir dari hasil pertemuan biologis (bertemunya dua sel di dalam kantung yang kokoh) dalam ikatan yang kuat (mitsaqon gholizah) di bawah sumpah atas nama Sang Pencipta, bagi yang yang resmi ya….. Ini dibuktikan dengan jejak rekam yang terdapat dalam diri anak kita, seperti: ciri fisik yang sebagian nampak, ciri sifat kedua orangtuanya, ciri golongan darah hasil dari persilangan gen, dan jejak DNA. Kalau keempat jejak rekam tersebut tidak terdapat dalam diri anak kita patut dipertanyakan. Ketika lahir ke dunia, mereka layak memanggil kita dengan panggilan ayah-ibu, dan kita layak memanggil mereka anakku. Mereka lebih layak dan harus untuk mendapatkan fasilitas kehidupan layaknya manusia untuk hidup dan mengarungi kehidupan di dunia karena sebagai tanggungjawab kita sebagai orangtua mereka. Itulah status kita sebagai orangtua biologis mereka. Walaupun demikian ada juga sementara orang sebagai orangtua biologis tetapi memberlakukan anaknya seperti anak bukan biologis, alias diterlantarkan karena keegoan kedua orangtua (atau ketidak tahuan orangtua) sebagai pencari rizki dari Sang Pencipta, sehingga hak-haknya sebagai makhluk hidup terabaikan. Pertumbuhan fisiknya terabaikan, perlindungan kesehatannya terabaikan, perlindungan keamanannya ditinggalkan, serta diperparah dengan situasi lingkungan yang kurang mendukung….Miris.

Orangtua Hakiki

Apakah kita benar seratus persen menjadi orangtua yang hakiki bagi mereka? Atau bahkan kita menjadikan mereka dalam kehidupan ini sebagai musuh bagi kita, menjadi fitnah bagi kita, karena kita lupa bahwa kita sendiri yang menjadikan mereka sebagai musuh dan penyemai fitnah. Jawablah pertanyaan di bawah ini:

Sejauhmana kita telah mengajari mereka untuk mengenal Tuhannya (pasti Tuhan kita juga), Allah SwT?
Sejauhmana kita telah mengajari mereka untuk mengenal NabiNya (Muhammad SAW) sebagai teladan kehidupannya?
Sejauhmana kita telah mengajari mereka untuk dapat beribadah sebagai bekal kehidupan dunia akhiratnya?
Sejauhmana kita telah mengenalkan kepada mereka tentang syariat Allah yang diimani?
Sejauhmana kita telah mengajari mereka tentang akhlak dan perilaku yang terpuji?
Sejauhmana kita mengenalkan akhirat sebagai tujuan kehidupan kita kelak dengan dua pilihan tempat tinggal?

Ingatlah, ketika Nabi Nuh as berkata kepada Tuhannya dengan rintihan karena melihat anaknya ikut terhanyut dalam bencana banjir besar,” ia anakku, darah dagingku…selamatkanlah ia dari bencana banjir ini….”. Apa jawaban Allah Tuhannya….? “Ia bukan ahlimu, ia bukan keluargamu….”. Naudzubilahi min dzalika…

Ingatlah pula, ketika datang satu masa dimana semua terpisah tanpa memperhatikan hubungan darah karena sesuatu yang maha hebat menerpanya….”Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala. Pada hari dimana manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (perkara pertanggungjawaban amal yang dibawanya dan peristiwa akhir dari dunia). (QS ‘Abasa-80 : 33-37).

Belum lagi kasih dan sayang yang seharusnya tercurah dari kedua orangtua kepada anaknya. Banyak di dunia ini, anak yang memiliki orangtua tapi pada hakekatnya mereka yatim piatu. Amanah yang dititipkan Sang Pemberi Rizki Allah SwT diabaikan, terkadang kalah dengan hewan buaya yang memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada anaknya, atau induk singa si raja hutan kepada anaknya…. Ketika anak telah menjadi musuh bagi orangtuanya maka baru tersadar mata hatinya. Bahkan ketika anaknya menjadi musuh bagi Agama ini, baru tersadar mata hati kita….

Semoga kita terhindar dari hal yang demikian, dan semoga kita sadar bahwa hakekatnya kita adalah orangtua hakiki dari anak kita bukan hanya sekedar orangtua biologis bagi anak kita.

(GoesPrie, 30 – 1 – 12)