Saya … Pejabat Anu

Dalam bermasyarakat, sebagian merasa nyaman bila seseorang menjadi bagian dari seseorang yang memiliki pengaruh besar di dalam masyarakat. Mereka merasa akan dimudahkan segala urusan ketika mengurus suatu keperluan, dalam bentuk apapun. Senjatanya sederhana, yaitu dengan beberapa kata yang dipakai sebagai senjata pamungkas ketika ia mengurus sesuatu mentok bin mandeg. Kata-kata ini sering dipakai dan seolah menjadi kebanggaan, padahal hal itu biasa saja, karena yang mendengarnya keder duluan maka dimudahkanlah urusan tersebut. Kata-kata yang sering dipakai adalah saya masih keluarga si Anu (si Anu, menunjukkan seseorang yang memiliki pengaruh besar di masyarakat). Atau minimal, kalau takut terlalu diinterogasi jalur keluarga yang mana, dengan kalimat saya temannya si Anu. Kalimat ini merupakan senjata kedua setelah senjata pelicin lainnya (tahukan…) untuk melancarkan urusan.

Di Indonesia atau juga di negara lain, hal ini dapat membuat sesuatu keajaiban urusan dan secara psikologis masyarakat takut bila ia menghambat sebuah urusan sekalipun harus secara prosedural. Contoh ketika antrian di counter bank, tiba-tiba ada seseorang menyelonong memotong barisan paling…depan dengan gaya menanyakan seseorang nama sebagai pejabat bank yang bersangkutan. Otomatis pegawai bank melayani dahulu dengan melewatkan orang yang sudah lama panjang mengular antri, takut nanti dimarahi oleh atasannya karena tidak melayani tamu misterius tadi. Ternyata ada juga nasabah lain yang menyeletuk ,”dihapuskan saja nomor antriannya dan langsung menggerombol di loket, percuma…”. (nama Bank dirahasiakan…)

Ada cerita lucu sekitar kalimat ini, suatu ketika ada dua orang pengendara motor  (anggap saja A dan B) yang bersenggolan karena kecerobohan sendiri. Si A langsung dengan gaya berani menegur B seolah B yang salah dahulu, si B melawan dengan kata-kata. Si A merasa terpojok kemudian menelpon seseorang  ‘temannya’ yang dari pembicaraannya seorang pejabat di sebuah kantor Polsek terdekat. Harapan si A, si B keder mendengar pembicaraan si A via telpon. Ternyata si B tidak mau kalah, ia menelpon juga ‘kakaknya’ yang ada di Poltabes dengan bahasa yang tidak kalah gengsinya. Harapan si B, si A keder juga setelah mendengan si B menelpon ‘kakaknya’ di Poltabes tadi. Ringkas cerita ‘temannya’ si A dan ‘kakaknya’ si B, secara kebetulan datang ke tempat lokasi. Ajaib ternyata ‘temannya’ si A dan ‘kakaknya’ si B teman akrab ketika masih di SMA… . Apa saran ‘temannya’ si A dan ‘kakaknya’ si B terhadap si A dan si B? Ya…hanya disuruh saling bermaafan dan tidak memperpanjang urusan di kepolisian serta untuk menanggung sendiri kerusakan yang ada pada masing-masing kendaraan. Ya….coba dari tadi, tidak repot-repot menghabiskan pulsa telpon untuk mengontak ‘temannya’ dan ‘kakaknya’. Dan ajaibnya lagi ‘temannya’ si A dan ‘kakaknya’ si B menurut cerita hanya pernah ketemu dengan si A dan si B ketika mengurus surat-menyurat kendaraan di kepolisian. Kasian… deh.

Penulis pernah melihat sosok orang yang diketahui adalah seorang pejabat. Ia antri dalam mengurus surat pasport di sebuah kantor imigrasi. Petugas mengetahui kalau itu pejabat dan dengan melihat pakaian (uniform) yang dipakai dan ajudan yang mendampinginya. Petugas mempersilahkan pejabat itu untuk dimudahkan mengurus alias dilayani dan didahulukan. Tapi apa kata pejabat ini…? “Tidak apa-apa, sabar saja, kasihan yang sudah antri lama dari tadi…”. Kalimat yang pendek, sederhana dan penuh makna serta kekuatan akan kesadaran diri.

Berapa banyak pula yang sudah menjadi korban dari ‘temannya’ , ‘keluarganya’ si Anu (kata lain untuk pejabat yang berpengaruh) dalam mengurus sesuatu atau berurusan sesuatu. Dalam kasus lain, terkadang si ‘Anu’ juga ada yang tidak tahu diri. Kolaborasi siasat antara ‘temannya’ , ‘keluarganya’  dengan si ‘Anu’ dapat membobol bank, membobol pajak, memeras rakyat, mengintimidasi rakyat, memanipulasi data, berkonsipirasi menelingkung hukum, korupsi, makan aspal, makan besi dan semen, meninggalkan kepentingan umum sehingga menimbulkan kekacauan secara berjamaah, bahkan kalau berkendaraan di jalan raya ’sak enak udhele dewe’, kalau bekerja di kantor ‘sak kendaknyo bae’. Memang dua kubu selalu ada di dunia ini, yaitu kubu pertama, berjamaah bersama-sama mengajak ke perbaikan-perbaikan (di dunia) dan syurga akhirat; dan kubu kedua, berjamaah bersama-sama mengajak kerusakan dan ke neraka (neraka dunia maupun akhirat). Maka bagi yang berhati-hati lebih baik memilih menjadi teman dari ‘temannya’ atau ‘keluarganya’ si Anu yang menginginkan kebaikan dan syurga. Benar kata Nabi saw bahwa dalam pemilihan teman dapat mempengaruhi diri, yang diandaikan seperti bila berteman dengan penjual minyak wangi maka akan mendapatkan bau wanginya dan bila berteman dengan pandai besi maka akan mendapatkan bau bakaran besinya. Silahkan pilih….

(GoesPrie, 15 – 2 – 12).