Serba Sandiwara

Episode 1

“Selamat siang, pak”, sapa pak Herman kepada petugas sekuriti sebuah perusahaan.
“Selamat siang, dengan Bapak siapa dan ada yang bisa dibantu?”, jawab sekuriti.
“Saya Pak Herman. Bapak Wahyu, Direktur ada, pak?”, tanya pak Herman.
“Keperluannya apa?”, sang sekuriti balas tanya.
“Ingin ketemu, menyampaikan surat dari perusahaan kami”, jawabnya.
“Oh…coba temui Ibu Isye, sekretarisnya Bapak, silahkan”, kata sekuriti.
“Selamat Bu, ini ada tamu ingin ketemu”, kata sekuriti.
“Terima kasih pak Sekuriti. Oh ya, silahkan pak. Ada yang bisa dibantu Pak?”, tanya bu Isye.
“Begini bu, ada Pak Wahyu, pak Direktur, bu?”, tanya pak Herman.
“Keperluannya apa pak”.
“Begini bu, ada surat dari perusahaan kami untuk Bapak Wahyu dan sekalian ingin ketemu langsung”.
“Suratnya tentang apa, kalau boleh tahu?”.
“Surat tagihan proyek, bu”.
Posisi duduk bu Isye berubah, “Oh… . Kelihatannya Bapak sedang keluar pak, maaf, barangkali bisa dititip dulu ke saya, dan nanti kami telpon bapak untuk konfirmasinya lagi”.
“Oh ya, boleh bu. Terima kasih, kalau begitu. Saya tunggu konfirmasinya dan saya permisi dahulu”.
“Ya, sama-sama pak”.
Selanjutnya pak Herman keluar dari kantor pak Wahyu. Setelah pak Herman keluar dari kantor tersebut, bu Isye langsung mengangkat gagang telpon dan menekan nomor ekstention ruangan pak Wahyu dan berbicara, “Halo, maaf pak, tadi ada tamu dari perusahaan X”.
“Oh ya…, saya sudah lihat dari CCTV, terima saja surat tagihannya. Terima kasih bu Isye ya”. Klik.
……………………………

Episode 2

Di sebuah pasar dengan penuh keramaian aktivitasnya; jual-beli, parkir, sekedar ketemu tetangga, aktivitas di warung tegal (warteg), penjaja koran, asong keliling. Ada seorang ibu sedang tawar menawar barang dagangan dengan seorang penjual.
“Bu…, ini kain murah bu, dari negeri tetangga…betul”, jaja seorang pedagang kain. (maaf, padahal dari pasar sebelah juga dia mengambil).
“Wualah…masak dari negeri seberang jauh amat, paling dari Tanah Abang”, balas seorang ibu yang ditawari. (maaf, sok tahu). “Berapa harganya tuh barang….?”
“Murah kok bu, dua belas ribu rupiah saja per meternya”.
“Mahal amat…, tetangga saya kemarin beli beginian cuma sepuluh ribu…”. (maaf, tetangga yang mana bu?).
“Nggak mahal bu…, ini saya ambil untung sedikit, cuma lima ratus perak per meternya”. (maaf, padahal ia sudah ambil untung permeternya tiga ribu).
“Ah, yang benar…?” ketus ibu pembeli. (maaf, memang  bohong).
“Benar bu…demi Allah, bu. Ini pun kain kualitas nomor satu di modelnya…”, balas penjual. (maaf, pake sumpah-sumpah segala, padahal kain tersebut kain sortiran alias yang tidak layak ekspor dan kualitas nomor sekian alias buncit).
“Tidak jadi ah…, kain model gituan saya sudah ada, cuma pingin cari tambahan untuk baju kondangan saya. Kalau sepuluh ribu lima ratus, saya ambil dua meter. Dah ya…”. Kata ibu tadi sambil meninggalkan pedagang kain. (maaf, yang bener, padahal kain tersebut belum punya dan jelas pasti sambil jual mahal, pura-pura tidak butuh).
“Ya…bu…sini dulu bu. Tambah lima ratus perak saja bu, nih ambillah, bu. Hitung-hitung penglaris”. (maaf, padahal sudah berapa transaksi dengan model tawar-menawar beginian).
Si Ibu balik lagi dan berkata, “Ya, sudah cukupin saja lima meter untuk anak saya…”. (maaf, padahal kain itu mau dijual lagi setelah dijahitkan ke penjahit).
Setelah transaksi jual beli, mereka berpisah….dalam hati pedagang…untung banyak….dan dalam hati si Ibu pembeli…emang gue pake, padahal mau gue jual lagi, khan dapet untung banyak.
………………………….

Episode 3

Ibu guru Jerijih lari tergopoh-gopoh datang ke sekolah dan langsung masuk ke kelas,” Selamat pagi anak-anak…, maaf Ibu terlambat, maklum jalanan macet”. (maaf, di awal pagi diawali dengan bohong, padahal bangun kesiangan karena semalam nonton sinetron yang lagi ngetop di tivi swasta episode terakhir).

“Selamat pagi bu….”, jawab anak-anak. (maaf, padahal sudah kesiangan datangnya, masih ngucapi selamat kepada sang Pagi)

“Tidak apa-apa bu, baru dimulai kok, bu”, sahut salah seorang siswanya. (maaf, padahal dalam hatinya bicara, ngapain bu guru Jerijih masuk, enakan jamnya kosong, bosen deh. Dan padahal jam sudah menunjukkan pukul 7.46).

“Nah, anak-anak, pelajaran kita mulai dan melanjutkan materi yang lalu tentang sejarah kerajaan yang ada di Indonesia”, ibu Jerijih mengawali pelajarannya. “Nah, ini ada tugas yang harus kalian kerjakan secara kelompok dengan mencari bahan di perpustakaan. Dan di akhir pelajaran, tolong kumpulkan ke ketua kelas dan taruh di meja ibu di kantor ya…, karena ibu ada keperluan di kantor Lurah di belakang”. (maaf, padahal ibu Jerijih ada agenda ke warung mbok Mirah akibat lupa sarapan pagi, kesiangan. Dan agenda kedua, ke pasar di belakang komplek sekolah untuk membeli promosi obralan make up produk dari Share Kemayu, takut kehabisan barang).

“Ya…bu. Sip…kita bagi-bagi kelompok yo….”, seru siswa di kelas bu jerijih. (maaf, padahal mereka lebih senang bila guru tersebut tidak masuk, dan tugasnya hanya dikerjakan oleh beberapa siswa terpandai di kelas itu, dan lalu copy paste, kumpul, beres….).

“Ya…silahkan dikerjakan ya…”. (maaf, dalam hati siswa, hore………).
………………………………

Episode 4

Dalam sebuah rapat akbar kampanye sebuah partai politik. Salah seorang juru kampanye partai menyampaikan pidatonya.

“Hidup partai ZZZZZZZ, hidup partai ZZZZZZZ, hidup partai ZZZZZZZ….(mengawali pidato politiknya). Wahai saudara-saudara yang hadir di sini, apakah kalian semua bersaksi bahwa kami akan memihak rakyat……!!!!!” (dengan semangat, sebagai awal orasinya)

“Percaya….kami bersaksi….!!!!” ,teriak para hadirin. (maaf, padahal sebagian besar datang ke sana karena untuk mendapatkan amplop dan voucher belanja di mini market XYZ, bukan karena sebagai partisipan asli).

“Pilihlah, si A, si B, si C dari partai ZZZZZZZ. Karena track record mereka jelas, jujur, amanah, adil dalam berkuasa, berwibawa, dekat dengan rakyat, dan akan memperjuangkan kepentingan Anda semua”. (maaf, padahal si Jurkam-juragan kambing tersebut baru seminggu yang lalu dikontak oleh pimpinan partai ZZZZZZZ untuk tampil di podium saat ini, belum tahu betul siapa si A, si B dan si C).

“Hidup si A, hidup si B, hidup si C….!!!!” suara itu berulang-ulang diteriakkan oleh para hadirin dan berseling dengan si jurkam. (maaf, padahal para hadirin bilang dalam hati, peduli amat….).

Kemudian si A, si B dan si C maju ke depan podium sambil melambai-lambaikan tangan ke peserta yang hadir, dan mereka langsung membagi (bahasa halusnya : melempar, layaknya melempar umpan ke ikan) kaos dan topi gambar mereka dan lambang partai ZZZZZZZ. (maaf, tujuh bulan setelah pemilu, tidak ada realisasi janji, tidak ada amanah yang dipegang, sibuk tidur dan mengantuk di ruang sidang, ribut mengenai kudapan rapat sidang, ribut peralatan pijat otomatis/relaksasi pijat di ruang rehat, rapat bagi kue proyek negara, merangkap makelar peraturan dan perundang-undangan, mencari canel orang kuat pengadilan untuk melindungi kasus, sibuk membahas studi banding ke beberapa negara dan daerah (bahasa halusnya plesiran),
……………………………

Episode 5

“Saudara terdakwa VVV, saudara kenal dengan saksi Q?”, tanya majelis Hakim kepada VVV, terdakwa money laundry di perusahaan WWW.
“Saya tidak pernah ketemu dengan saksi Q, bu”, jawab VVV dengan singkat. (maaf, padahal beberapa bulan yang lalu ia sempat makan di cafe Centhil bersama Q, R dan S).
“Terima kasih. Saudara VVV, benar saudara melakukan transaksi keuangan tertanggal ??? tanpa sepengetahuan pimpinan dewan penasehat perusahaan?”, tanya Hakim lagi.
“Saya belum pernah melakukan transaksi tersebut, kecuali yang hanya sudah direkomendasikan pimpinan dewan penasehat perusahaan pada tanggal !!! tapi bukan untuk proyek tersebut”. (maaf, padahal pimpinan dewan penasehat perusahaanpun ikut kong kali kong sama dengan kingkong).
“Baik, untuk beberapa saat sidang di skors dan dilanjutkan lima belas menit lagi”.

Lima belas menit kemudian.

“Dari hasil, rapat majelis dewan hakim dan kesimpulan-kesimpulan dari diskusi dengan para pengacara maupun jaksa penuntut umum (kok dilibatkan), disimpulkan bahwa saudara VVV, benar tidak melakukan tindak kesalahan korupsi dan kegiatan money laundry sebagaimana yang telah diuraikan pada tuntutan jaksa penuntut umum. Dengan ini keputusan diambil bahwa saudara VVV dinyatakan tidak bersalah dan bebas, dengan syarat membayar biaya perkara sebesar seratus ribu rupiah”. Tok-tok-tok (palu dipukul). “Sidang ditutup”. (padahal minggu lalu pak Hakim dan pak Jaksa, baru dikirimi paket ‘bunga’ dari si pengirim di kota J untuk anak dan istrinya di rumah). Si VVV langsung sujud syukur (syukurlah… syukurlah…  syukurlah) dengan berlinang air mata (kakeknya buaya….).
……………………………….

Episode 6

Di hari ulang tahun sebuah pernikahan yang kelima sepasang suami istri, mereka mengadakan undangan pesta kecil-kecilan di sebuah cafe dengan mengundang beberapa tokoh politik, tokoh pemerintahan, pengusaha, pelaku entertaiment-artis, dan beberapa media massa lokal maupun nasional. Dalam sambutannya sang suami memuji sang istri,”Untuk istriku yang tercinta, sejak kamu mendampingi pertama kali sebagai istri, kaulah yang terkandung dalam hati ini…, hari-hariku terisi wajah dan senyummu sehingga semangat hidup dan kerjaku berkobar. Istriku kaulah segalanya bagiku…”. Para hadirin bertepuk tangan dengan senyum sang Istri yang tersipu. (maaf, padahal setahun yang lalu sang suami terekam dalam media maya foto mesra dengan seorang artis karbitan di pantai Venezuela. Enam bulan yang lalu ketahuan lagi dugem di cafe Nyablak dengan beberapa wanita cafe dan artis. Tiga bulan yang lalu, sempat mencium mesra teman aktingnya).

Kemudian sang suami mencium kening sang istri dengan mesra. (maaf, ketika mencium sang suami terbayang dengan seorang wanita yang berfoto mesra dengannya setahun lalu).

Sang istri memberikan kata sambutan atas kata sang suami,”Suamiku yang tercinta, sebagaimana yang kamu katakan, akupun demikian. Cinta dan hatiku hanya untukmu. Aku terlahir hanya untukmu dan kau terlahir hanya untukku (ingat kayak syair lagu di tahun 80-an). Semoga cinta kita selalu bersemi dan berbunga hingga akhir nanti….”. (maaf, padahal ketika suami shooting ia membuat pesta kecil-kecilan sambil nyabu dengan teman laki-lakinya ketika ketemu di cafe dan sering chatting melalui video conference). Lalu sang istri membalas ciuman sang suami dengan ‘mesra’. (…………).
…………………………….

Episode 7

Suatu pagi Inggrid (4 tahun) sedang bermain bola bekel dengan Mia (3,9 tahun) di teras rumah. Tiba-tiba mereka didatangi oleh seorang wanita setengah baya,”Punten…, maaf dik, mamah ada di rumah?”.
Inggrid menjawab,”Maap tante…siapa ya.., cari mamah mau apa?”
“O…., saya tante Ani, mau nagih kreditan panci…, sono bilang mamah ya, ditunggu tante…”.
“Maap tante, mamah sedang ke rumah nenek di kampung sebelah, katanya nanti sore pulang…”, jawab Inggrid dengan polos.
“Ya…sudah. nanti sore  tante mampir lagi ke sini ya…, bilang mamah ya…”.
“Ya tante…”, jawab Inggrid polos dan melanjutkan main bola bekelnya lagi.
Selang beberapa menit kemudian ada suara dari balik pintu rumah,”Inggrid…, tante Ani sudah pergi…?”.
“Sudah…mah…, tadi Inggrid bilangin seperti yang mamah pesenin….”, jawab Inggrid sangat polos lagi ke seseorang yang ada di balik pintu yang ternyata mamahnya….

(GoesPrie, 20 – 2 – 12)