Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu (resep panahan amarah)

Peri bahasa merupakan bentuk kalimat isyarat yang bersyair sederhana tapi mengandung nasehat yang cukup baik untuk direnungi. Di banyak negara memiliki kalimat peri bahasa dengan ciri khas sendiri. Di Indonesia peri bahasa banyak terwarnai dengan budaya melayu yang meliputi Sumatera, Kalimantan, Sebagian Jawa dan Sulawesi. Sebagai contoh peri bahasa berikut : ‘Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu’, memiliki maksud dan nasehat yang luas. Nasehat tersebut berhubungan dengan perilaku manusia.

Kalau Anda membaca berita di surat kabar atau menonton berita di media televisi, dipastikan ada berita tentang kerusuhan. Kerusuhan sosial, kerusuhan politik, kerusuhan olahraga, kerusuhan rumah tangga dan banyak lagi. Seolah berita kerusuhan menjadi ‘menu wajib’ di media massa dalam bentuk yang beragam. Para pembaca dan penonton belajar cepat tentang apa yang dibaca dan ditonton, karena manusia merupakan manusia peniru yang paling baik di dunia. Karena potensi ini ditambah dengan ramuan media maka akibatnya tingkat kerusuhan selalu meningkat dalam hal bentuk, efek, dan kuantitasnya. Yang jadi pertanyaan, apa sih untungnya?  Bukankah kita manusia masih bersemayam di kepala yang namanya bongkahan otak dan di dalam dada berupa gumpalan daging-hati (bukan lever)? Maka dalam hal telah terjadi kerusuhan, pertanyaan yang ada adalah mana otaknya? Mana hati sanubarinya atau hati nuraninya? Kalau bahasa agamanya “afalaa ta’qilun…”, “afalaa yatafakkarun…”, “afalaa yatadabbarun…” .

Di sana saja bisa rusuh baru berubah, mengapa di sini tidak? Seolah syarat untuk berubah itu adalah melalui rusuh dahulu, ada korban nyawa dulu, ada kerugian material dulu, ada kerusakan dulu. Dalam hal kerusuhan, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah alias sama saja. Bukan cara win-win yang didapat melainkan lose-lose. Kalau dalam peri bahasanya adalah menang jadi arang, kalah jadi abu. Kalau orang iseng, khan arang dan abu masih bisa bermanfaat, arang bisa untuk manggang sate, abu bisa untuk mencuci perabot dapur. Ya, betul, tapi untuk menjadi arang dan abu harus melalui pembakaran dahulu, atau bakar-bakaran dahulu, pakai api, pakai bahan bakar untuk menyalakan api. Ketika dalam proses pembakarannya pun mengeluarkan asap alias polusi (ibaratnya efek dari bakar-bakaran tadi). Untuk memadamkannya memerlukan air atau pasir, kemudian efek pemadaman akan mengeluarkan asap karbonmonoksida yang beracun. Ini gambaran proses dari pembakaran dan pemadamannya, pasti ada efek. Kerusuhan digambarkan sebagai tersulutnya atau terbakarnya emosi, dan ketika emosi terbakar maka akan menutupi akal sehat dan hati nurani . Ketika akal tertutup dan hati nurani terbungkam maka kekerasan yang berbicara.

Dalam ajaran Islam, diajarkan untuk meredam emosi bahkan yang terbakar emosi (amarah) yang merupakan resep dari Nabi saw banyak, antara lain:

  1. Duduk, kalau belum bisa berbaring.
  2. Perbanyak minum air putih.
  3. Berwudhu layaknya akan sholat.
  4. Sholat sunnah.
  5. Beristighfar.
  6. Menebarkan salam (doa).
  7. Menyambung silaturahim.
  8. Memberi hadiah atau shodaqoh.
  9. Memaafkan dan mendoakan.

Duduk sebagai solusi mengurangi tekanan darah yang sedang bergolak akibat emosi, kalau masih bergolak disarankan untuk berbaring. Dengan berbaring, tekanan darah yang memuncakpun lebih berkurang lagi karena ritme nafas orang yang berbaring lebih lambat daripada ketika duduk atau berdiri. Makanya ketika duduk dan berbaring disarankan untuk mengatur nafas secara berirama teratur dan hasilnya akan mempengaruhi denyut jantung manusia. Apalagi bila ditambah dengan berzikir, mohon ampun atas kelalaian dan keemosian yang muncul.

Memperbanyak minum air putih juga dapat mengurangi tekanan emosi, tekan denyut jantung dan irama pernafasan serta pensuplaian zat asam atau oksigen melalui air putih. Ini harus ada kemauan dari yang bersangkutan untuk melakukan terapi ini. Dijamin deh kalau minum sambil marah, air akan masuk ke saluran pernafasan bukan ke saluran pencernaan alias keselek (Bahasa Jawa). Jadi ini terapi sederhana.

Bagi umat Islam, wudhu dan sholat, merupakan dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa wudhu, shalat tidak sah. Menghadirkan keberadaan Allah Sang Pencipta Segala Potensi dalam diri. Mustahil ketika wudhu dan sholat dalam keadaan emosi atau apalagi marah besar, wudhu dan sholat menghadirkan ketenangan dan kekhusyu’an, mengingatkan hakekat keberadaan kehidupan dan menghadap dan berkomunikasi kepada Sang Pencipta. Coba saja wudhu dan sholat sambil marah, dijamin dianggap orang 61L4 alias kehilangan akalnya.

Beristighfar, bagian yang tidak terpisah dari ibadah. Banyak kisah bentuk penyesalan atau tobatnya orang-orang memiliki latar belakang keburukan, berubah menjadi manusia-manusia baru penuh dengan kebaikan-kebaikan. Istighfar merupakan bentuk permohonan ampun kepada Yang Kuasa Allah SwT, bentuk penyerahan dan pengakuan diri secara total atas bentuk kesalahan yang diperbuat, menghadirkan kembali keberadaan Allah SwT dalam diri ketika terhanyut dalam kehinaan dan kelalaian. Maka ketika tersulut emosi, beristighfar seolah menjadi sebuah siraman air secara langsung dari Sang Pencipta untuk memadamkan api emosi yang tersulut, dan sekaligus membuka sumbatan pada akal dan hati nurani yang tertutup asap dan api emosi.

Menebarkan salam (doa), menyambung silaturahim, memberi hadiah atau shodaqoh, serta memaafkan dan mendoakan kepada yang sedang kita marah kepadanya akan menghilangkan rasa marah tersebut. Meminta maaf adalah kesatria dan memberi maaf adalah mulia. Ketika menebarkan salam dan mendoakan, pada hakekatnya kita mendoakan diri kita sendiri.  Menyambung silaturahim yang terhambat atau terputus merupakan bentuk perbuatan mulia dan terhormat sepanjang masa di dunia dan akhirat. Dalam kisah, bagaimana Nabi saw memberikan maaf dan menyambung silaturahim kepada musuh-musuh belaiu ketika penaklukan kota Mekah menjadi moment sejarah yang luar biasa, dan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Dalam kisah modern, bagaimana sosok Nelson Mandela yang memberikan maaf dan menyambung tali silaturahim dengan orang-orang yang menghukum dan memenjarakan beliau demi kedamaian dan persatuan negara Afrika Selatan serta pembangunan yang berkelanjutan.

Nah…bagaimana jadi lebih baik ‘menang karena mengalah, kalah (baca : mengalah) bukan berarti ada pemenang’, menang kalah bukan tujuan, tetapi menang bersama untuk menjaga kebersamaan dan menjadi solusi.

(GoesPrie, 17 – 2 – 12)