Nikahlah ! Allah yang Menjamin…

Suatu malam yang sunyi, Fulanah, seorang wanita cantik lagi sholehah mengambil wudhunya… kemudian ia melaksanakan sholat dua rakaat dengan dzikir yang panjang dan doa yang diiringi dengan aliran airmata. Dalam doanya ia melantun kalimat permohonan yang menyentuh hati bila mendengarnya, “….Ya Rabb…, Ya…Rahman…, Ya…Rahim… . Engkau Maha Mendengar doa hamba-hambaMu. Aku telah menunggu lama apa yang ku inginkan hingga tulang punggungku merasa berat menanggung… Aku berharap padaMu…berikan aku jodoh yang sholeh, yang menyayangi, yang lembut, yang selalu taat kepadaMu…” (doa terlantun dengan doa-doa lain hingga menjelang fajar…).

Hampir sepuluh tahun dari umur 25 tahun belum mendapatkan pasangan hidup…berarti sesuatu yang membuat hati gundah, menggoncang langit dengan rintihan-rintihan. Akhirnya pada suatu malam, Fulanah mengubah lantunan doanya, “Ya Rabb…Ya…Rahman…, Ya…Rahim…, Engkau Maha Mendengar doa hamba-hambaMu. Aku rela apapun keputusanMu, aku ridho siapapun pilihanMu, asalkan Engkau terus membimbingku…berikanlah pasangan hidup yang Engkau Ridhoi… . Akhir perjuangan panjang, Fulanah dilamar oleh seorang yang sebelumnya belum pernah ia temui, hanya karena silaturahim keluarga. Terjadilah pernikahan itu….dan ternyata kehanifan dari sang ‘jodoh’ menambah nikmat ibadah kepadaNya.

Maaf…ini imajinatif penulis. Ya, banyak pemuda dan pemudi yang terhambat dalam mencari pasangan hidupnya. Kalaupun dapat terkadang bertemu dengan kekecewaan-kekecewaan tanpa kedewasaan penyelesaian. Apa yang salah? Mungkin terlalu banyak syarat yang diajukan kepada Allah Yang Maha Perencana lagi Maha Tahu. Sering berdoa, mendikte Allah, seolah Allah salah setting. Sering berdoa, membuat syarat-syarat kepada Allah, seolah Allah belum berpengalaman membuat pasangan-pasangan hidup hamba-hambaNya. Belum lagi syarat dan ketentuan yang berlaku dikehidupan nyata, disulitkan dengan berbagai macam persyaratan yang tidak masuk di akal.

Mari berfikir korektif apa yang dilakukan :

a.Apakah dalam doa kita, terlalu mendikte Allah?

b.Apakah dalam doa kita, terlalu banyak syarat diajukan kepada Allah?

c.Apakah dalam bermohon kepada Allah, selalu membuat deadline waktu pada Allah?

d.Apakah dalam beramal kita mengikhlaskan keputusanNya?

e.Apakah dalam memilih pasangan hidup kita justru membuat syarat dan ketentuan yang berlaku untuk diri kita sendiri, seperti warna kulit (kurang putih…), tinggi badan (kurang tinggi…), keturunan ning kerat (plesetan dari ningrat), kurang mancung…, kurang nice n bautiwul, belum selesai kuliah (harus S1, S2, S3, S4, S5…Sn), harus berkepribadian khusus (rumah pribadi, kendaraan pribadi…), sudah bekerja tetap (bukan tetap bekerja untuk mendapatkan status bekerja tetap), dan…..sepanjang jalan kenangan.

f.Apakah banyak pula syarat adat istiadat yang harus dilakukan?,  seperti melangkahi kakak yang belum menikah, mencari hari baik (memangnya ada hari sial….), mencari kombinasi hari dan tanggal kelahiran yang cocok…, dan macam-macam.

g.Khan belum pacaran dulu untuk saling kenal mengenal luar dan dalam…nanti ambil kucing dalam karung… (memangnya calonnya kucing…???).

Anda masih ragu? Baca deh dalil sederhana dan rasional dari KitabNya pada QS.An Nur ayat 32-33 bahwa ‘…jika mereka MISKIN, Allah AKAN MEMAMPUKAN mereka dengan karuniaNya, Allah Maha Luas (dalam hal pemberianNya) lagi Maha Mengetahui’. Sering kita mensangsikan kemampuan Allah dalam hal mencukupi rezeki hambaNya, dengan kata-kata ‘jangan-jangan…’ atau ‘nanti mau diberi makan apa istri dan anakmu?’. Dan mensangsikan Allah akan keluasan rezekiNya atau perbendaharaan Allah dalam hal keanekaragaman rezekiNya. Dan lebih percaya pada keterbatasan manusia dengan bentuk ‘kemapanan kerja yang didapat’.

Masih ragu? Rasulullah saw seorang hamba Allah yang sudah teruji dan lulus uji kompetensi kehidupan dengan kompetensi yang dimilikinya menyatakan jaminan pula bahwa salah satu dari tiga kelompok orang yang dijamin rezekinya adalah orang yang mau menikah karena ingin menjaga diri dari kerusakan diri akibat pergaulan bebas alias maksiyat. Kita (muslim) mengakui beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah dengan bentuk kesaksian (syahadat) masih juga sangsi akan apa yang dikatakan beliau berupa jaminannya.

Masih bingung….? Dah…deh, mau dibandingkan antara kita manusia dengan seekor ayam? Sama makhluk Allah, sama-sama hidup, sama-sama butuh makan, sama-sama butuh pasangan-pasangan hidup. Hanya bedanya kita diberi tangan dan kaki sempurna sesuai kebutuhan manusia sementara ayam diberi ceker dan paruh sempurna sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Sama-sama ada otaknya tapi bedanya kita diberi akal, mereka tidak punya. Kita diberi kemampuan untuk dapat berimprovisasi dan berkreasi dalam mencari rezekinya tapi si ‘ayam’ tidak. Eh…kenyataannya manusia seringnya kalah dengan ‘ayam’, takut kehilangan dan tidak dapat rezeki dalam kehidupan ini ketika mengambil keputusan untuk MENIKAH…

Nah, wahai sahabat Suppper…yang masih lajang bersegeralah! Menikahlah… Allah AKAN MENJAMIN Anda. Ubahlah doa-doa Anda. Ubahlah syarat-syarat Anda untuk menikah. Wahai sahabat suppper….alhamdu…lillah….

(GoesPrie, 5 – 3 – 12)