JEWERAN ALLAH

Ada sebuah pertanyaan sederhana untuk kita semua, daerah mana yang paling aman dan nyaman di muka bumi ini? Pastilah jawabannya adalah daerah yang paling aman dan nyaman di muka bumi ini adalah tempat yang selalu dihubungkan dengan keindahan untuk tujuan wisata, jauh dari berbagai kerusuhan sosial. Betul…, tapi mana? Balikah? Pegunungan Andeskah? Hawaii kah? Swiss dengan pegunungan saljunya kah? Atau kutub Utara dan Selatan kah? Bila hal-hal tersebut dihubungkan dengan amal maksiyat, mana tempat yang paling aman dan nyaman untuk bermaksiyat? Ternyata tidak ada tempat yang paling aman dan nyaman untuk dapat berbuat maksiyat. Dalam QS.Al A’raf ayat 97-99, Allah menyindir orang-orang yang merasa aman dari perilaku maksiyatnya, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (97), Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (98), Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi (99)”. Mengenai kedatangannyapun sering tidak terduga alias secara tiba-tiba, sebagaimana dijelaskan pula dalam QS. Al ‘Ankabut ayat 53, “Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. Atau dalam QS.Al A’raf ayat 4 dijelaskan pula, “Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduknya) di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari”.

Ada tiga cara Allah untuk meluruskan kembali ke jalan benar bagi para pelakunya, yaitu diingatkan (peringatan), ditegur (teguran),  dan dihukum (azab,hukuman). Tujuannya adalah agar para pelaku maksiyat kembali ke jalan yang benar setelah melakukan kerusakan-kerusakan sosial maupun alam sekitar, dan hal ini bentuk kasih sayang Allah kepada mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS.Ar Rum ayat 41,”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)“. Bila dihukum masih buta-tuli dan tertutup hatinya maka Allah mengunci mati hati mereka hingga Allah memusnahkan mereka dari muka bumi ini.

Dan Allah menyatakan bentuk pemusnahan terhadap suatu kaum tidak pandang bulu, dan efeknya merata, tidak hanya terkena bagi yang berbuat kerusakan melainkan juga bagi yang tidak melakukan atau orang baik-baik. Tetapi mereka akan dibangkitkan kelak di hari pembalasan sesuai dengan kondisi awal (niat dan perbuatan) mereka sebelum dimusnahkan. Adapun cara yang dilakukan Allah dalam memusnahkan suatu kaum terhadap umat-umat terdahulu yang membangkang atas peringatan-peringatan dan teguran-teguran melalui utusan-utusanNya. Keempat cara tersebut tercantum dalam QS. Al Ankabut ayat 40, yaitu, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa/azab disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. Dari ayat tersebut 1)ditimpa sesuatu dari langit, 2)sesuatu yang menggelegar, 3)dibenamkan ke dalam bumi, dan 4)ditenggelamkan. Renungkanlah…

Bahwa apa yang dialami oleh umat-umat terdahulu yang menentang kebenaran hakiki yang diturunkan Allah kepada para utusanNya dilakukannya secara totalitas dan secara mendadak, seperti yang dialami oleh kaum Fir’aun, kaum Tsamud, kaum ‘Ad, kaumnya Nuh as, kaumnya Luth as, dan sebagainya. Sementara untuk umat-umat kemudian, dilakukan oleh Allah dengan berbagai cara tetapi tidak secara totalitas, agar supaya menjadi pelajaran bagi yang masih melihat, yang mengalami, yang menyaksikan, dan yang mendengar. Di era milenium misalnya bencana yang terjadi saat gunung Visusius Italia yang menghancur sebuah peradaban yang rusak secara moralitas, yang terekam pada fosil aktivitas korban bencana tersebut. Bencana-bencana tersebut dapat berupa :

1)ditimpa sesuatu dari langit, merupakan bentuk azab yang diturunkan berupa sesuatu yang jatuh dari langit seperti muntahan material bebatuan vulkanik, atau sesuatu yang benar-benar datang dari luar bumi seperti moteorid, atau fenomena hujan debu yang terbawa dari suatu daerah.

2)sesuatu yang menggelegar, berupa bencana badai petir, puting beliung, badai tornado, siklon tropis atau serangan badai matahari yang mengganggu sistem elektrik dan komunikasi di bumi, atau sejenisnya.

3)dibenamkan ke dalam bumi, seperti tanah longsor, sesar lempengan bumi atau gempa tektonik, luapan lumpur, atau sejenisnya.

4)ditenggelamkan, dalam bentuk banjir bandang dadakan, tsunami, bentuk rob dan abrasi (dalam bentuk perlahan),  dan sejenisnya.

Diingatkan lagi, bahwa tidak semata-mata itu merupakan siklus alami dari aktivitas iklim atau aktivitas lempeng bumi atau aktivitas vulkanik. Seperti kita ketahui bahwa alam ini merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyahNya dan mereka beraktivitas sesuai dengan perintah yang diberikan oleh sang penciptanya. Contoh dalam QS Al Zalzalah, diceritakan bahwa bumi berguncang dengan dahsyat dan mengeluarkan seluruh isinya, kemudian manusia bertanya apa yang terjadi, maka bumi menceritakan apa yang terjadi (QS. Al Zalzalah ayat 1-5) bahwa mereka melakukan demikian atas perintah dari sang penciptanya.

Coba Anda cermati di milenium ketiga ini, apa yang dikhawatirkan oleh umat manusia di bumi? Pasti bencana global warming sehingga terjadi kekacauan iklim bumi, ramalan suku Inca di Amerika Latin berkenaan bencana global (???), diindikasikan ada beberapa komet yang melintas terlalu dekat dengan garis edar bumi (diantaranya: Swift Tuttle, Apophis) atau baca juga sejarahnya di http://palingseru.com/6310/10-meteor-paling-dahsyat-yang-pernah-menabrak-bumi , dan aktifnya kembali daerah sambungan lempeng bumi.

Kembali hakekat dari jeweran Allah berupa bencana apapun adalah agar umat manusia menyadari akan kesalahan yang dibuatnya yaitu yang terbesar menentang kebenaran hakiki akan keberadaan diri Sang Pencipta Alam ini AllahSwT, serta perbuatan yang membuat kerusakan diri, sosial dan lingkungan di darat maupun laut (QS.Ar Rum ayat 41) agar supaya kembali ke jalan yang benar. Akhir dari sebuah kehidupan adalah sebuah kepastian bagi seluruh ciptaanNya, manusia, bumi, matahari bahkan alam semesta ini, tetapi yang terpenting adalah kesadaran akan perbaikan-perbaikan diri, sosial dan lingkungan sehingga terhindar dari kerusakan-kerusakan diri dan secara global.

(GoesPrie, 19-3-12)