Poligami ‘hasil’ Selingkuh vs Poligami ‘hasil’ Syariah

Ketika berbicara masalah ‘poligami’ pasti orang langsung merespon ‘itu’ adalah urusan orang Islam dan menjadi bagian dari syariah Islam. Apa benar? Sebelum jauh membahas, perlu diketahui bahwa arti dari poligami itu sendiri yaitu berasal dari kata bahasa Yunani yang memiliki arti praktik pernikahan lebih dari satu, dan merupakan kebalikan dari monogami. Bentuk Poligami ini ada tiga macam yaitu poligini (beristri lebih dari satu), poliandri (bersuami lebih dari satu) dan pernikahan kelompok (group marriege) atau gabungan poligami dan poliandri. Khusus type yang ketiga ini, dalam istilah Fiqih Islam ada istilah pernikahan tukar pasangan (pernikahan Badal) atau  pernikahan dengan tujuan untuk mendapatkan bibit keturunan dari laki-laki tertentu yang dianggap memiliki kelebihan atau keunggulan tertentu (pernikahan Istibdha), ada yang lebih parah lagi dalam satu atap ada beberapa suami dan beberapa istri sekaligus yang bercampur aduk di dalamnya.(wuaneh-wuaneh tenan n Naudzubillahi min dzalika). Ketiga bentuk poligami ini ditemukan dalam sejarah namun poligini merupakan bentuk yang yang paling umum terjadi. Pada saat sekarang, terjadi kesalah kaprahan istilah, poligami adalah hanya mengarah istilah poligini, beristri lebih dari satu, padahal arti poligami mencakup tiga arti tadi. Karena sudah menjadi istilah umum maka poligami memiliki makna pernikahan dengan beristri lebih dari satu.

Sekilas Sejarah Poligami

Sebenarnya sejarah poligami (poligini) sudah berlaku pada umat-umat terdahulu sebelum syariah/aturan tersebut dikodifikasi dan diatur dalam Al Qur’an pada surat An Nisa ayat 3. Memang tidak ada perintah secara khusus maupun larangan secara khusus pada kitab-kitab terdahulu berkenaan dengan poligami (poligini) hanya karena sudah menjadi sesuatu yang umum. Di Afrika, seorang raja atau yang diakui kekuasaannya, mereka memiliki banyak istri. Demikian juga di negeri China, Jepang, India, Amerika Latin bahkan di Eropa. Atau di masyarakat tertentu yang memiliki kasta tertentu berhak memiliki keistimewaan ini untuk berpoligami (poligini). Jadi masalah poligami bukanlah sesuatu urusan yang identik dengan Islam, melainkan sudah ada sejak dahulu bahkan hingga sekarang, dimanapun di wilayah di bumi ini.

Permasalahan Poligami (Poligini)

Permasalahan yang muncul dari poligami ini adalah pola pelaksanaan, perilaku pelaku poligami, dan aturan yang dipakai dalam berpoligami. Sering kali ‘Barat’ atau ‘agama’ lain menyerang aturan poligami yang ada di dalam Islam tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya dan atau apa yang terjadi di ‘Barat’  sendiri. Memang di kalangan umat Islam masih banyak juga yang memiliki kekeliruan pemahaman terhadap masalah poligami, bahkan untuk sebagian muslimahpun seolah-olah mempertanyakan keberadaan ayat 3 dari surat An Nisa (kalau bisa tidak ada atau tidak tercantum, usul deh sono…). Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi karena pola contoh yang ada banyak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pada ayat tersebut.

Kalau kasus di negeri-negeri ‘Barat’ , mereka mempermasalahkan aturan poligami dalam Islam tetapi sebagian besar mereka justru berkembang budaya seks bebas bertanggungjawab, dan penempatan kasus selingkuh, seks bebas dan poligami kabur dan susah dibedakan. Budaya berkeluarga hingga memiliki keturunan (semen leven atau kumpul kebo ) tanpa melalui ikatan pernikahan resmi dianggap biasa.

Dilihat permasalah tersebut maka dapatlah dipilahkan pola dari poligami (poligini) menjadi dua kategori, yaitu poligami ‘hasil’ selingkuh dan poligami ‘hasil’ syari’ah. Poligami ‘hasil’ Selingkuh adalah pola poligami yang terjadi akibat sebuah atau beberapa ‘insiden’ perselingkuhan sosok suami dengan wanita lain selain istri resminya. Sementara poligami ‘hasil’ syari’ah adalah pola poligami yang terjadi atas benar-benar murni pemahaman aturan syariah yang diatur dalam aturan agama yang terkodifikasi tanpa modifikasi.

Poligami ‘hasil’ Selingkuh

Sekali lagi, bahwa poligami ‘hasil’ selingkuh adalah pola poligami yang terjadi diakibatkan karena sebuah atau beberapa ‘insiden’ perselingkuhan sosok suami dengan wanita lain selain istri resminya. ‘Insiden’ ini terjadi akibat dari pergaulan bebas tanpa aturan atau sebagai kompensasi permasalahan yang terjadi di rumah, atau karena nafsu belaka. Parahnya, di kalangan muslim mencari legitimasi agama untuk mendapatkan hal demikian atau membersihkan perilaku ini dengan menggunakan istilah ‘nikah siri’, daripada berzinah…(katanya). Dan dalam kenyataan di kehidupan pernikahan mereka (kehidupan poligami), banyak juga terjadi penyelewengan yang sangat jauh dari aturan agama (Islam). Sehingga seharusnya poligami itu merupakan pintu darurat dan atau solusi dalam kehidupan berkeluarga, menjadi sesuatu yang jauh dari ideal aturan agama. Alhasil, banyak juga kasus perceraian yang tidak sesuai dengan aturan agama. Lengkap sudah.

Poligami ‘hasil’ Syari’ah

Poligami ‘hasil’ syari’ah adalah pola poligami yang terjadi atas benar-benar murni pemahaman aturan syari’ah baik dalam proses maupun dalam kehidupan berkeluarganya. Poligami (poligini) dalam Islam merupakan sebuah bagian syari’ah Islam, pintu darurat islamy, solusi bagi kehidupan berkeluarga atau masyarakat. Mengapa hal ini diatur? Kembali lagi pada pemahaman bahwa kita ini makhluk ciptaan Allah yang mana Ia paham sekali akan karakteristik ciptaanNya itu, maka Ia Allah membuat aturan sesuai dengan karakteristik makhlukNya agar karakteristik makhlukNya tadi dapat menjalani kehidupan di dunia ini secara baik. Maaf…dasar namanya manusia, ia suka sesuka hati membuat aturan sendiri, sekiranya menguntungkan dipakai, sekiranya merugikan ditinggal, sehingga terjadi kerusakan sistem kehidupan. (bersambung)

(GoesPrie, 20-3-12)