Apakah Anda (termasuk berniat) berPoligami dengan Benar? (Catatan nasehat untuk para Suami)

Pada tulisan terdahulu sudah sedikit disinggung bedanya poligami hasil selingkuh dengan poligami hasil syariah. Memang sering ditemui orang-orang (seorang laki-laki) yang berstatus berpoligami pada hakekatnya bukan berpoligami, karena tidak memenuhi syarat-syarat untuk berpoligami. Mereka melakukan itu dengan berbagai alasan dan memaksakan diri untuk dilegalitasikan sebagai berpoligami. Mengapa? Mereka melakukan bukan atas dasar ilmu dan pemahaman. (maaf bila tulisan ini ada yang membuat ketersinggungan).

Banyak kasus perceraian keluarga, diawali keretakan hubungan suami istri, menyangkut orang lain yang hadir di rumah tangga mereka (bahasa kerennya apakah itu PIL atau WIL). Dalam tulisan ini PIL saya sisihkan bahasannya, dan hanya membahas WIL. Adanya WIL dalam diri seorang suami karena disebabkan beberapa hal masalah, antara lain : 1) hubungan komunikasi lisan antara suami-istri, 2) hubungan komunikasi fisik suami-istri (sebagai istilah penganti masalah 124n74n6), 3) masalah pengaturan mendidik anak, 4) masalah kebutuhan ekonomi, 5) masalah makanan, 6) keluarga besar (kelibatan orangtua-mertua dalam hal urusan rumah tangga suami-istri), 7) masalah penampilan, 8) memang laki-laki berbelang mata, dan 9) akhlak dari seorang suami sendiri.

1)Masalah komunikasi lisan antara suami-istri. Masalah komunikasi dalam keluarga sangat amatlah penting karena untuk menjembatani perbedaan fitriyah yang dimiliki oleh laki-laki (suami) dan perempuan (istri). Laki-laki cenderung terwarnai oleh rasionalitas, sedangkan perempuan terwarnai oleh feelingitas alias perasaan. Kalau seorang suami berbicara ketika ada masalah dengan istri sering melakukan pendekatan secara rasio, dan sebaliknya, sehingga jarang ada titik temu. Kalau suami marah sering menggunakan kata-kata ‘dasar tidak mikir’, sementara istri marah menggunakan kata-kata ‘dasar tidak berperasaan’. Ketika hal ini terjadi seorang istri cenderung memendam perasaan, dan suami mencari perbandingan. Celakanya justru ketemu perbandingannya di tempat kerja, di jalan, di kafe, di mall, dan diberbagai tempat aktivitas kerjanya hingga akhirnya terjadi insiden keluarga. Suami dengan perhitungan rasionya mengambil keputusan mengambil wanita pembanding ini untuk hadir dalam kehidupan keluarganya.

2)hubungan komunikasi fisik suami-istri (sebagai istilah penganti masalah 124n74n6). Maaf bahasan ini banyak menggunakan istilah agar tidak terlalu vulgar. Masalah 1276 adalah masalah yang sangat-sangat pribadi bagi kehidupan berkeluarga, sehingga rahasia apapun yang terjadi dalam kehidupan 1276 tidak boleh keluar dari ruang privat suami-istri. Hanya yang terjadi masalah komunikasi 1276 ini sering menjadi penghambat juga bagi suami-istri, suami cenderung terbuka, sementara istri cenderung tertutup. Suami salah tangkap dengan model komunikasi istri seolah tidak terlayani kebutuhannya, sementara istri salah tangkap dengan model komunikasi suami seolah suami ….terlalu…. Kalau masalah ini tidak diselesaikan, dikhawatirkan akan hadir WIL imaginer dalam diri suami hingga ia mendapatkan secara nyata dalam kehidupannya. (Anda lebih tahu apa yang harus dilakukan).

3)masalah pengaturan mendidik anak. Pada zaman dulu hingga sekarang dan yang akan datang, suami sebagai pencari nafkah bagi keluarga dan memang hukumnya WAJIB, dan istri cenderung pada tempat mendidik anak. Pada zaman sekarang, istri cenderung membantu suami mencari nafkah (hukumnya BOLEH bukan WAJIB atau SUNNAH, menurut Islam). Tidak masalah selama ada kesepakatan antara suami-istri. Hanya muncul permasalahan baru yaitu masalah pendidikan anak. Ketika suami-istri sibuk dengan kesibukan yang lebih dalam mencari harta/nafkah, sering lupa akan tanggungjawab mendidik anak (bukan hanya pendidikan sekolah). Perhatian terhadap anak dikalahkan dengan kesibukan mencari harta, sehingga ketika ada permasalahan pada anak, suami-istri sering saling menyalahkan satu dengan lainnya. Komunikasi ini yang perlu diatur. Teringat materi pengajian dari Ustadz Didik Purwodarsono dari Jogja ketika itu membahas masalah keluarga. Gambaran berkeluarga boleh belajar dari hewan. Orangtua (suami-istri) sibuk dengan pekerjaannya, mementingkan karir dan pendapatannya, lupa pendidikan anak-anaknya layaknya seperti keluarga bebek kwek. Anak bebek kwek, menetas bukan dieram oleh induknya, dirawat bukan oleh induknya sehingga terjadi pola ambivalent kehidupan mereka. Anak bebek tersebut terkadang ditetaskan oleh ayam, atau menthok, ataw mesin tetas telur, sehingga kehilangan kehangatan perawatan dari induknya. Ketika hidup di masa kecilnya, dipelihara oleh ayam atau menthok sehingga kehilangan jatidiri, ia mau naik pagar berkokok layaknya seekor ayam jantan, dan ia mencakar-cakar tanah mencari makanan di tanah layaknya induk betina ayam yang sedang mengasuh anak-anaknya. Berbeda dengan merpati, dimana terjadi pola kerjasama yang harmonis sejak mengeram telur, mengeram hingga pengasuhan. Dilakukan secara bergantian oleh pasangannya, ketika ia mencari nafkah untuk keluarga. Yang terjadi pada keluarga manusia, sering anak diserahkan orang lain (baby sitter) dalam hal pengasuhan hingga sang anak menganggap ibu kandungnya adalah baby sitternya, sementara orangtua sesungguhnya hanyalah sebagai pemberi kebutuhan fisiknya saja bukan kasih sayang. Pada saat anak mengalami permasalahan dalam kehidupannya, suami-istri cenderung saling menyalahkan bukan mengkomunikasikan, efeknya, anak mencari kebahagian di luar. Sang suami mencari, WIL lain dalam hatinya untuk dapat menyelesaikan masalah kehidupan keluarganya dan anak-anaknya.

4)masalah ekonomi. Ketika suami merasa lebih dari cukup memberi nafkah pada keluarga, terkadang muncul dalam pikiran untuk mengambil wanita lain sebagai istrinya lagi. Padahal dalam hal mengambil istri lagi bukan hanya karena memiliki kelebihan harta kekayaan saja tetapi lebih dari itu. Ada tuntutan-tuntutan lain dan tanggungjawab-tanggungjawab lain yang harus dipenuhi. Kebanyakan hanya karena ingin bereksperimen dalam berkeluarga dengan alasan ‘toh saya memiliki kekayaan yang banyak’. Emangnya yang memberi harta itu siapa?

5)masalah makanan. Pernahkah para suami komplain perkara makanan masakan istri-istrinya? Alasan kurang sesedap masakan ibundanya….(weleh-weleh…keembok-embokan alias anak emak buanget) . wajar juga sih, habis mulai dari mbrojol dari guwo garbo sudah menikmati eksperimen masakan dari ibundanya. Ketika menikah, mulai sedikit rewel, karena tidak sesuai dengan selera. Padahal seorang laki-laki itu termasuk bandel dengan perkara makanan, karena suka jajanan. Hanya selera dan penyesuaian. Maaf keributan keluarga sering juga terjadi yang diakibatkan masalah satu ini. Terlalu naif bila perceraian atau nikah lagi hanya karena masalah yang masuk ke dalam perut. Ketika sudah kejadian, dibanding-bandingkan masakan istri satu dengan lainnya dan berakhir dengan cekcok juga.

6)keluarga besar (kelibatan orangtua-mertua dalam hal urusan rumah tangga suami-istri). Keterlibatan keluarga besar dalam kehidupan berkeluarga juga menyumbang kasus penyelewengan hubungan suami-istri. Merasa diatur, diawasi, disupervisi, dievaluasi menjadi bagian masalah ini. Kemudian ditambah lagi dengan membanding-bandingkan dengan kehidupan suami-istri (saudara lainnya), baik dari hal bobot, bibit dan bebet, atau wajah, penghasilan, sikap, atau ketidak setujuan hubungan sejak awal. Suami yang menghadapi keputus asaan terhadap masalah ini ketika jalur komunikasi terputus mengambil jalan pintas secara rasionalitas. Mereka mencari yang membuatnya nyaman dalam kehidupan keluarga dengan mencari bandingan yang lain, dengan cara menikah lagi tanpa perceraian.

7)masalah penampilan. Membanding-bandingkan penampilan istri dengan wanita lain adalah sebuah tindakan yang konyol, apalagi bila dihadapan mereka. Bisa mengakibatkan perang dunia keluarga yang besar. ‘Ngapain milih aku, bila masih membanding-bandingkan dengan yang lain…, tidak punya perasaan’ kata istri. Sang suami yang polanya rasio, salah tempat pengkomunikasikan dengan istri. Kalau benar pengkomunikasiannya justru sang istri menjadi wanita yang paling cantik di dunia ini, dan sang suami dipuji sang istri sebagai suami yang paling ganteng sekolong langit ini. Yang menjadi masalah adalah bila pembandingan ini dilanjutkan dalam bentuk perselingkuhan, secara diam-diam memperistri, kemudian dilegalkan secara agama, seolah-olah ini juga dibenarkan oleh agama. Dan akhirnya aturan agama yang dipersalahkan, bukan si pelaku.

8)memang laki-laki berbelang mata-hidung dan 9)akhlak dari seorang suami. Hal ini tidak perlu dibahas panjang lebar, bila sudah karakter demikian. Dimanapun ia menginjakan kakinya kebutuhan perut dan beberapa cm di bawah perut yang diutamakan. Ia tidak bisa sama sekali membedakan antara halal-haram, baik-buruk, benar-salah, selama kebutuhannya itu belum terpuaskan dan (maaf) yang ini tidak ada bedanya dengan hewan….Yang lebih parah lagi adalah sang suami menggunakan bahasa kekerasan fisik dalam menyelesaikan masalah keluarga (KDRT), seolah istri dapat ditaklukan dengan bahasa kekerasan fisik (seolah ia memandang, istri sosok yang lemah dan bisa ditindas secara kekerasan).

Nah, ketika masalah-masalah di atas sebagai jalan untuk berpoligami berarti mereka berpoligami dengan jalan selingkuh, BUKAN berpoligami hasil dari sebuah pemahaman syariat. Cukup sederhana bila ia berpoligami yang sesuai dengan syariat/hukum agama yang benar, yaitu niat yang benar, kejujuran, keterbukaan dan ADIL. Iapun harus memahami berpoligami bukanlah pemenuhan urusan perut dan beberapa cm di bawah perut, melainkan pemahaman sebuah ajaran dari Sang Pencipta makhluk yang Maha Tahu akan kebutuhan dan karakteristik makhlukNya. Sebagai sebuah solusi agama (Islami=Fitriyah) bagi kehidupan berkeluarga, masalah-masalah sosial kemasyarakatan, dan keberlangsungan kehidupan umat manusia.

Apa saja akibat dari poligami hasil selingkuh? Jawab saja pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1)Apakah Anda sebagai suami benar memiliki niat yang benar ketika memutuskan mengambil istri lagi bukan karena masalah-masalah di atas tadi?

2)Apakah Anda melakukan atas dasar pemahaman agama yang benar atau atas desakan nafsu semata (nafsu perut dan sedikit di bawah perut)?

3)Apakah Anda lakukan, dengan sikap diam-diam terhadap istri Anda dan Anda mencari pembenaran melalui dalil-dalil agama?

4)Apakah setelah Anda lakukan berpoligami hubungan keluarga besar (Keluarga besar Anda, Istri pertama Anda, dan istri ke-n Anda) terjalin dengan baik dan mendukung Anda?

5)Apakah Anda lakukan karena mengharapkan harta atau tahta, atau silaturahim yang terjalin?

6)Apakah Anda ADIL terhadap istri-istri Anda, anak-anak Anda, keluarga besar Anda?

7)Apakah setelah berpoligami, kehidupan beragama Anda semakin baik dan merasa menjadi lebih sempurna?

8)Apakah setelah berpoligami, kehidupan Anda menjadi panutan (qudwah hasanah) bagi orang lain atau menjadi perbincangan negatif (qudwah sayi’ah) orang lain?

9)Apakah rizki yang Anda dapatkan setelah berpoligami semakin mendatangkan keberkahan Allah bagi Anda, keluarga Anda, mendatangkan manfaat bagi orang banyak?

10)Seandainya Anda meninggal dunia, seberapa yakinkah bahwa sepeninggalan Anda, keluarga Anda tetap dalam kebaikan hubungan silaturahim?

11)Seandainya Anda meninggal dunia, seberapa yakinkah bahwa sepeninggalan Anda, ibadah keluarga Anda tetap menjadi contoh bagi orang lain? (Ingat para Anbiya berpesan pada anak-anaknya: Maa Ta’budu min ba’di, bukan Maa Ta’kulu min ba’di atau kaifa maali min ba’di)

12)Seandainya Anda meninggal dunia, seberapa yakinkah bahwa harta peninggalan Anda menjadi amal jariyah bagi Anda bukan menjadi harta pampasan anak keturunan Anda? Atau perebutan bagi keluarga besar Anda?

13)Seberapa yakinkah Anda, ketika di hari kebangkitan kelak (di akhirat) Anda dapat berjalan dengan posisi tegak imbang, bukan posisi miring akibat ketidak adilan yang Anda lakukan terhadap keluarga Anda?

Bila Anda dapat menjawab dengan benar dan dengan ilmu, insya Allah, Anda bukan termasuk berpoligami hasil selingkuh….

(GoesPrie, 27-3-12)